Menkes Budi Serukan Eliminasi Kusta: Masa Kita Mau Mewariskannya ke Anak Cucu?

Menkes Budi menyerukan eliminasi kusta dan mengajak masyarakat melakukan deteksi dini agar penyakit ini tidak diwariskan ke anak cucu.

Diterbitkan 18 Januari 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit kusta masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia. Meski proses penularannya relatif lambat, dampak yang ditimbulkan bisa sangat serius jika tidak terdeteksi sejak dini. Tanpa penanganan cepat, kusta berisiko menyebabkan kerusakan saraf permanen hingga kecacatan fisik.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan, skrining dini merupakan kunci utama untuk memutus rantai penularan bakteri Mycobacterium leprae sebelum menyerang sistem saraf tubuh secara lebih luas.

"Obatnya ada dan ampuh. Menyembuhkan," ujar Menkes Budi dalam diskusi media di Wisma Habibie Ainun, Jakarta pada Kamis, 15 Januari 2026.

Menurut Menkes, kusta bukan penyakit mematikan. Namun, jika terlambat ditangani, dampaknya bisa melumpuhkan dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Oleh sebab itu, Budi meminta masyarakat tidak takut untuk memeriksakan diri ketika muncul gejala awal. "Penderita tidak perlu takut atau merasa terisolasi. Kusta itu tidak mematikan, tapi bisa menyebabkan kecacatan jika telat ditangani," tambahnya.

Budi menjelaskan bahwa kusta sebenarnya dapat disembuhkan sepenuhnya dengan terapi antibiotik yang tepat.

Deteksi sejak dini memungkinkan penderita menjalani pengobatan tanpa risiko kecacatan permanen dan tetap menjalani hidup secara normal.

Selain pengobatan, pemerintah juga menekankan pentingnya pemberian obat pencegahan bagi orang-orang yang memiliki kontak erat dengan penderita, khususnya anggota keluarga yang tinggal serumah.

"Untuk keluarga satu rumah, mesti dikasih obat pencegahan. Supaya apa? Supaya dia jadi kebal," kata Menkes Budi.

Penulis/Reporter: Nurul Hikmah Azzahra

Perhatian Khusus Wilayah Indonesia Timur

Langkah ini dinilai penting untuk menghentikan penyebaran bakteri di lingkungan terdekat penderita dan menekan angka kasus baru.

Pemerintah juga memberi perhatian khusus pada wilayah Indonesia timur, seperti Maluku dan Papua. Menurut Menkes, terdapat perbedaan genetik pada sebagian masyarakat di wilayah tersebut sehingga memerlukan pendekatan medis yang lebih spesifik.

"Khusus untuk daerah Maluku dan Papua, kita akan lakukan PCR test mikrobiologi molekuler. Kalau ada mutasi genetik tertentu, kita tidak bisa langsung memberikan obat karena bisa berbahaya," ujarnya.

Pendekatan berbasis tes PCR ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan dan efektivitas pengobatan kusta di wilayah tersebut.

Stigma Jadi Tantangan Besar

Selain aspek medis, stigma sosial masih menjadi tantangan besar dalam penanganan kusta di Indonesia. Banyak penderita enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan atau dianggap membawa kutukan.

Dokter Mohammad Hasan menilai, ketakutan terhadap dampak sosial sering kali lebih besar dibandingkan ketakutan terhadap penyakit itu sendiri.

"Orang di beberapa tempat justru lebih takut konsekuensi sosial daripada konsekuensi medisnya," kata Hasan.

Karena itu, edukasi dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat menjadi langkah penting. Menkes menekankan bahwa kusta adalah penyakit infeksi bakteri, bukan kutukan, dan bisa disembuhkan seperti halnya tuberkulosis (TBC).

"Masa kita mau mencari kusta terus dan mewariskannya ke anak cucu kita? Let’s put a commitment before we die. Eliminate kusta," kata Menkes Budi.

Dengan skrining dini, pengobatan tepat, dan penghapusan stigma, pemerintah berharap Indonesia bisa segera mencapai target eliminasi kusta dan melindungi generasi mendatang dari dampak penyakit ini.