Trump Tepati Ancaman, Puluhan Target Iran Digempur

Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap puluhan target di Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap pasukan AS di Yordania.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 22:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap puluhan target di Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap pasukan AS di Yordania. Aksi saling serang tersebut kembali memanaskan konflik di Timur Tengah dan mengancam peluang negosiasi untuk mencapai perdamaian permanen.

Serangan itu menjadi operasi militer pertama AS dalam lebih dari lima hari terakhir. Aksi tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump berjanji akan menghantam Iran "dengan sangat keras" menyusul serangan Teheran terhadap pangkalan militer di Yordania yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (30/7/2026), Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/Centcom) menyatakan pihaknya menyerang puluhan target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal, dan lokasi penyimpanan drone, dalam gelombang serangan yang berlangsung sekitar dua jam.

"Serangan itu bertujuan untuk semakin mengurangi ancaman yang ditimbulkan Iran dan kelompok proksinya terhadap pasukan Amerika, pelayaran komersial, serta negara-negara Teluk tetangga," kata Centcom dalam pernyataannya.

Media pemerintah Iran melaporkan tiga orang mengalami luka-luka akibat serangan di Pulau Qeshm yang berada di Selat Hormuz. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Provinsi Khuzestan di wilayah barat laut negara tersebut.

Di sisi lain, Yordania kembali melaporkan adanya rudal yang memasuki wilayah udaranya untuk hari kedua berturut-turut. Sementara itu, Kuwait menuduh Iran melakukan serangan yang menghantam sebuah bangunan hingga menewaskan satu orang. Kedua serangan tersebut diyakini merupakan bagian dari respons Iran terhadap serangan udara Amerika.

Meski ketegangan kembali meningkat, upaya diplomatik disebut masih terus berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, mengatakan mediator utama terus berupaya membawa seluruh pihak kembali ke meja perundingan.

"Negosiasi antara para pihak masih berlangsung, terutama mengenai Selat Hormuz dan upaya deeskalasi," kata Andrabi kepada wartawan di Islamabad, Kamis.

Gelombang serangan terbaru terjadi setelah Amerika Serikat bersama Arab Saudi menggempur kelompok milisi yang didukung Iran di Irak pada Rabu. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 20 anggota milisi dan enam penasihat Iran. Aksi itu kembali memicu konflik bersenjata antara AS dan Iran sekaligus meredupkan harapan agar jalur diplomasi kembali mendapat ruang.

 

 

Ketegangan Meluas ke Kawasan Lain

Ketegangan juga meluas ke kawasan lain. Serangan drone memicu kebakaran pada dua kapal pengangkut gas alam di pusat impor gas Mesir di Pelabuhan Damietta, menurut perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey.

Pemerintah Mesir mengonfirmasi bahwa kebakaran dipicu serangan drone, namun belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas penyimpanan terapung milik perusahaan Amerika Serikat dan kapal tanker milik Yunani tersebut. Tidak ada korban luka dalam insiden itu dan pelabuhan tetap beroperasi.

Serangan tersebut menjadi yang pertama dialami Mesir sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari dan dinilai sebagai sinyal bahwa konflik berpotensi meluas ke kawasan lain.

Saat ditanya dalam sebuah acara di Oval Office mengenai kemungkinan Iran berada di balik serangan terhadap kapal-kapal gas tersebut, Trump menjawab, "Itu hanya kelanjutan dari yang sudah terjadi."

"Sementara itu, kami akan menghantam mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kami untuk menyerang," tambahnya.

Sejumlah analis menilai meningkatnya kembali konflik di berbagai front setelah beberapa hari relatif tenang telah membawa kawasan ke situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi tersebut juga menunjukkan betapa sulitnya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan, mengguncang perekonomian dunia, dan tidak populer di kalangan masyarakat Amerika.

Pertempuran yang kembali pecah juga dikhawatirkan semakin menguras persediaan amunisi canggih Amerika Serikat yang dibutuhkan untuk melindungi pangkalan militer maupun sekutu-sekutunya.

Serangan gabungan AS dan Arab Saudi di Irak dilakukan setelah Riyadh menuduh kelompok milisi Irak meluncurkan drone ke fasilitas minyak miliknya. Tuduhan itu sempat dibantah oleh kelompok payung milisi Irak.

 

Konflik Arab Saudi dan Kelompok Houthi

Arab Saudi juga kembali menghadapi ketegangan dengan kelompok Houthi. Kelompok yang didukung Iran itu menyatakan blokade terhadap pelayaran Arab Saudi yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan penting lainnya di Timur Tengah, yakni Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Pada Rabu, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman bertemu Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance, sebagaimana dilaporkan Associated Press. Menurut laporan tersebut, keputusan Riyadh ikut melakukan serangan bersama Amerika Serikat dimaksudkan sebagai pesan kepada Iran bahwa Arab Saudi tidak dapat menerima serangan terhadap fasilitas energinya, meski kerajaan itu tetap lebih menginginkan jalur negosiasi dibanding kembali terlibat perang.

Sebelumnya, pada Senin, kelompok Houthi mengaku telah meluncurkan drone yang menargetkan fasilitas minyak yang digunakan untuk mengangkut minyak Arab Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, jalur penting bagi ekspor minyak Saudi yang menjadi alternatif ketika Selat Hormuz mengalami gangguan.

Kelompok pemberontak tersebut menyatakan serangan dilakukan sebagai balasan atas drone Arab Saudi yang mereka klaim telah memasuki wilayah udara Yaman.