Liputan6.com, Washington, DC - Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dinilai jauh lebih terbuka terhadap pengembangan senjata nuklir dibandingkan dengan mendiang ayahnya, Ali Khamenei. Penilaian rahasia dari badan intelijen Amerika Serikat (AS) ini dilaporkan pertama kali oleh The New York Times pada Jumat (24/7/2026).
Mengutip sejumlah pejabat yang telah menerima paparan, laporan tersebut menyatakan bahwa Mojtaba tidak memiliki keraguan moral atau ideologis sebesar ayahnya dalam mengambil keputusan untuk memproduksi bom nuklir.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada percakapan yang disadap dan informasi yang dihimpun sebelum perang saat ini pecah, bukan pada temuan baru sejak Mojtaba diangkat sebagai pemimpin tertinggi.
Advertisement
Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari, yang menandai hari pertama perang.
Badan-badan intelijen Barat tidak memercayai pernyataan Iran bahwa negara itu tidak pernah berusaha mengembangkan senjata nuklir. Sementara itu, Israel sendiri menyatakan Iran telah mengambil sejumlah langkah menuju pembuatan senjata tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, Ali Khamenei selama ini diyakini masih ragu apakah Iran harus benar-benar menempuh jalan tersebut.
Menurut laporan intelijen AS, kelompok di dalam pemerintahan Iran yang mendukung kepemilikan senjata nuklir kini memiliki pengaruh lebih besar. Mereka berpendapat senjata itu diperlukan untuk melindungi Iran dari serangan pada masa mendatang.
Dalam laporan terpisah pada awal pekan lalu, The Wall Street Journal, mengutip para pejabat AS dan Israel, menyebut intelijen Israel meyakini Iran telah memindahkan ribuan sentrifugal nuklir ke Pickaxe Mountain, sebuah lokasi di kawasan Natanz.
Sentrifugal itu ditempatkan jauh di bawah tanah sehingga lebih sulit dihancurkan melalui serangan udara. Belum diketahui dari mana peralatan tersebut berasal, tetapi sentrifugal itu kemungkinan dipindahkan dari fasilitas nuklir Iran lainnya.
CNN juga mengutip seorang pejabat Israel yang mengatakan bahwa sebagian persediaan uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen turut dipindahkan ke lokasi tersebut.
Iran belum mengizinkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengakses Pickaxe Mountain ataupun menjelaskan secara terperinci kegiatan yang dilakukan di sana. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan pada Maret bahwa Iran telah memberi tahu lembaganya sejak 2021 mengenai rencana penggunaan lokasi tersebut untuk kegiatan yang berkaitan dengan program nuklir.
Menurut The New York Times, para pejabat Iran yakin serangan AS tidak akan mampu menembus jauh ke dalam gunung itu. Iran dilaporkan telah menambah pasukan untuk melindungi lokasi tersebut dari kemungkinan serangan pasukan komando AS.
Perang sempat terhenti setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara pada April. Kedua negara kemudian menandatangani nota kesepahaman pada Juni sebagai langkah menuju penghentian perang secara permanen.
Israel tidak ikut menandatangani kesepahaman tersebut dan menolak sejumlah kelonggaran yang diberikan kepada Iran.
Presiden Donald Trump menjadikan pembatasan program nuklir Iran sebagai salah satu syarat utama dalam kesepakatan akhir. Namun, pertempuran kembali berkobar dan kedua pihak menyatakan nota kesepahaman itu sudah tidak berlaku.
Ketika AS meningkatkan serangan udara dan Iran menembakkan rudal serta pesawat nirawak ke pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, Trump mengatakan Pickaxe Mountain dapat menjadi sasaran serangan besar di dekat pintu masuknya.
Â
Menakar Kemampuan Bom Nuklir Iran
Pada 2025, AS mengebom fasilitas nuklir Iran di Fordow, Isfahan, dan Natanz. Ketiga lokasi tersebut digunakan untuk pengayaan uranium.
Dalam perang pada 2025 maupun konflik terbaru, AS dan Israel menyatakan operasi mereka bertujuan mencegah Iran memiliki kemampuan membuat senjata nuklir.
IAEA memperkirakan Iran memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebelum konflik terbaru dimulai. Persediaan itu kini diyakini terkubur di fasilitas-fasilitas nuklir bawah tanah yang rusak akibat pengeboman.
Tingkat pengayaan 60 persen sudah mendekati kemurnian 90 persen yang diperlukan untuk membuat senjata nuklir. Berdasarkan tolok ukur IAEA, jumlah tersebut, apabila diperkaya lebih lanjut, cukup untuk menghasilkan bahan bagi 10 senjata nuklir.
Namun, Iran masih harus memperkaya uranium hingga 90 persen, merakitnya menjadi bom, lalu kemungkinan memperkecil senjata itu agar dapat dipasang pada rudal balistik. Seluruh proses tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310006/original/092233300_1785302392-Screenshot_2026-07-29_104717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8673310/original/025399100_1782713964-cek_fakta_purbaya_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5524822/original/062327900_1773012804-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310159/original/021650100_1785308308-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5524833/original/035238900_1773017298-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5520901/original/031279000_1772664806-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562644/original/042211800_1776835536-hq08c1pfmyv0yn22wd5oqqlh9gtr6zw4.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299293/original/022291200_1784207987-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308084/original/023605700_1785127567-Korban_perang_AS-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1694576/original/098412300_1503994463-20170829-Saham-Akibat-Rudal-Korut-AP3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5520902/original/004648400_1772664808-5.jpg)