Konflik Iran dan AS-Israel Berpotensi Picu Krisis Regional, Pakistan Waspada Dampaknya

Ketegangan meningkat usai serangan gabungan AS-Israel sejak 27 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Meski kehilangan pemi

Diterbitkan 06 Maret 2026, 12:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Konflik militer antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel berpotensi meluas menjadi krisis regional di Asia Barat, dengan dampak signifikan bagi negara-negara sekitar, termasuk Pakistan.

Ketegangan meningkat setelah serangan gabungan AS-Israel sejak 27 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Meski kehilangan pemimpin tertingginya, pemerintahan Iran dinilai masih cukup tangguh.

Teheran bahkan memperluas tekanan dengan menutup Selat Hormuz—jalur maritim strategis yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair dunia—serta menargetkan sejumlah bandara utama di kawasan, yang mengganggu lalu lintas udara global.

Setelah menghantam fasilitas nuklir Iran dan menewaskan sejumlah pejabat militer serta politik senior, Washington dan Tel Aviv kini disebut berupaya melumpuhkan program rudal Iran serta sistem komando militernya. Operasi militer diperkirakan masih akan berlanjut, dengan mengandalkan kekuatan udara tanpa pengerahan pasukan darat. Di sisi lain, strategi tidak langsung seperti dukungan terhadap kelompok etnis Kurdi dan Baloch disebut-sebut dapat digunakan untuk menekan stabilitas Iran.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di Pakistan. Negara tersebut memiliki populasi Muslim Syiah yang cukup besar—diperkirakan mencapai 15–20 persen dari total penduduk—yang memiliki ikatan spiritual kuat dengan Iran. Ketidakstabilan berkepanjangan di Iran dikhawatirkan memicu ketegangan sektarian di Pakistan, dikutip dari laman The Diplomat, Jumat (6/3/2026).

Ketegangan itu mulai terlihat setelah kabar kematian Khamenei memicu demonstrasi di sejumlah kota Pakistan, termasuk Karachi, Lahore, dan Islamabad.

Kerusuhan di Konsulat AS

Massa sempat mencoba menyerbu konsulat Amerika Serikat sebelum dibubarkan polisi dengan gas air mata dan pentungan. Sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas dalam kerusuhan tersebut.

Di Skardu, demonstran juga membakar kantor pengamat militer PBB dan kantor United Nations Development Programme.

Ancaman keamanan Pakistan juga meningkat di wilayah perbatasan. Negara ini memiliki garis perbatasan sekitar 900 kilometer dengan Iran, yang sebagian besar melintasi wilayah etnis Baloch. Ketidakstabilan di Provinsi Sistan-Baluchestan di Iran berpotensi memperkuat kelompok separatis Baloch di wilayah Balochistan Pakistan.

Kelompok militan juga diperkirakan akan memanfaatkan situasi tersebut. Organisasi seperti Islamic State – Khorasan Province, al-Qaeda, dan Tehreek-e-Taliban Pakistan disebut berupaya memperluas pengaruhnya di wilayah barat Pakistan.

Selain keamanan, dampak ekonomi juga menjadi perhatian. Perdagangan tahunan Pakistan dengan Iran mencapai sekitar 3 miliar dolar AS, sebagian besar melalui barter dan penggunaan mata uang lokal. Konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan energi, aktivitas ekonomi perbatasan, serta konektivitas regional.

Di tengah situasi tersebut, Pakistan dihadapkan pada dilema diplomatik. Islamabad memiliki hubungan baik dengan Iran, namun juga sedang memperbaiki relasinya dengan Amerika Serikat. Pemerintah Pakistan diperkirakan akan berupaya menjaga posisi netral sambil mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.