Cegah Mesin Rusak, Begini Rawat Mobil Diesel Pengguna BBM B50

Pemerintah resmi menerapkan mandatori B50 mulai 1 Juli 2026. Meski aman, pemilik mobil diesel wajib mempercepat interval servis dan ganti filter solar.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 19:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah akan mulai menerapkan mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Bahan bakar baru ini merupakan campuran 50 persen solar dengan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME), yang melanjutkan program B40 sebelumnya.

Pada dasarnya, penggunaan biodiesel B50 ini aman untuk mobil diesel modern yang sudah mengadopsi teknologi common rail, maupun untuk model lawas. Namun, pemilik kendaraan harus melakukan penyesuaian pada perawatan berkala agar mesin tidak cepat rusak.

Pemilik bengkel Anyar Motor Bintaro, Bramantia Tamtama, menjelaskan bahwa B50 memiliki angka sulfur yang lebih rendah dibanding B40 maupun diesel konvensional lainnya, seperti Pertamina Dex dan Dexlite. Oleh karena itu, jika berbicara mengenai aspek keamanan, B50 tentu saja tetap aman digunakan untuk kendaraan.

"Untuk mobil diesel modern seperti Toyota Innova diesel, Mitsubishi Pajero Sport, atau Toyota Fortuner, standar sulfur harus 50 PPM. Lalu, apakah menggunakan B50 itu aman? Aman, tidak ada masalah. Namun, interval servis memang harus dipercepat," jelas pria yang akrab disapa Obot ini saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (30/6/2026).

 

Cek Komponen Injector

Obot menjelaskan lebih jauh bahwa tingkat endapan dari minyak nabati pada B50 pastinya akan lebih tinggi dibanding solar konvensional. Imbasnya, filter bahan bakar dan pelumas mesin harus diganti secara berkala dengan jarak tempuh yang lebih pendek.

"Misalkan ganti oli tetap setiap 5.000 km, maka filter solar kalau bisa juga ikut diganti saat mencapai 5.000 km kalau menggunakan B50," tegasnya.

Sementara itu untuk jangka panjang, mobil diesel modern yang mengonsumsi B50 sebisa mungkin melakukan pengecekan komponen injector. Langkah ini penting karena endapan atau sludge di mulut injector bisa menyumbat dan memicu tekanan bahan bakar ke ruang bakar menjadi tidak sesuai standar.

"Caranya, dalam kurun waktu tertentu, misalkan setiap 20.000 km atau 40.000 km, injector dikalibrasi ulang. Setiap 5.000 km ganti oli mesin, filter solar, dan juga filter oli. Biaya perawatannya memang menjadi lebih mahal, tetapi itu bisa tertutup dengan harga bahan bakarnya yang lebih murah," tambahnya.

 

Kandungan Energi Rendah

Pandangan senada disampaikan oleh Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri. Ia menyebut penggunaan B50 akan membawa konsekuensi langsung terhadap aspek perawatan kendaraan diesel.

Menurutnya, meski spesifikasi B50 tidak mengalami perubahan signifikan dibanding B40, karakteristik biodiesel yang porsinya meningkat menjadi 50 persen tetap berpotensi memengaruhi komponen mesin.

"Kalau kita mengacu pada spesifikasi B50 dibandingkan dengan B40, bisa dibilang tidak ada perubahan berarti, walaupun kadar biodieselnya naik 10 persen," ujar pria yang karib disapa Yus tersebut.

Yus menjelaskan bahwa kandungan energi biodiesel murni lebih rendah dibanding solar murni.

"Kalau di solar murni itu kan nilainya 43 MJ/kg, sedangkan di biodiesel itu 37 MJ/kg. Jadi, pada B50 ini nilai energinya akan menjadi sekitar 40 MJ per kilogram," katanya. Kondisi tersebut membuat konsumsi bahan bakar berpotensi sedikit lebih boros, karena energi yang dihasilkan lebih rendah dibanding campuran sebelumnya.

Selain itu, Yus menyebut kenaikan porsi biodiesel membuat viskositas (kekentalan) dan densitas (kepadatan) bahan bakar ikut meningkat. Dampaknya, proses pengabutan hasil injeksi menjadi lebih kasar, sehingga ada kemungkinan sebagian bahan bakar tidak terbakar dengan sempurna di dalam mesin.