Bahlil Bungkam Keraguan B50: Apa yang Tidak Mungkin?

Sempat diragukan, Bahlil buktikan program B50 berhasil pangkas impor solar sekaligus cetak rekor pertama di dunia.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 14:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengakui bahwa sempat ada pihak yang memandang pesimis program solar campur 50 persen minyak sawit atau Biodiesel B50. Dia menegaskan, implementasi B50 merupakan upaya menuju pengurangan emisi karbon.

Diketahui, pemerintah mulai memberlakukan B50 pada 1 Juli 2026 lalu. Bahlil mengatakan masih ada pihak yang kurang percaya dengan hal tersebut.

"Kemarin kita meresmikan B50, B50 itu awalnya banyak juga yang pesimis, ada orang mengatakan ini gak mungkin, saya katakan apa yang tidak mungkin?," kata Bahlil dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit di JICC Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Dia menjelaskan, peningkatan implementasi ke B50 mampu dilakukan karena Indonesia merupakan penghasil terbesar minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dunia. Apalagi, penerapan B50 di mesin diesel mampu mengurangi impor setara 250 ribu barel minyak per hari.

"Kita pengekspor CPO terbesar di dunia, maka kemudian kita konversi B50 itu, kita mampu memotong impor kita itu yang equivalen dengan hampir 250 ribu sampai 300 ribu barel per hari," katanya.

Angka tersebut merupakan bentuk efisiensi dengan pengurangan sumber BBM impor. Dia mencatat, konsumsi solar nasional mencapai 39 juta kiloliter (KL).

"Jadi sekarang kita impor crude (minyak mentah) total itu masih ada kurang lebih sekitar 700 ribu sampai 750 ribu barel per day dari selisih 1 juta itu. Nah ini tantangan baru dan ini B50 ini adalah bagian instrumen untuk mendorong net zero emission," beber dia.

Sempat Dorong B100

Sebelumnya, Presiden Prabowo bercerita bahwa dia sempat mengusulkan agar Indonesia langsung mengembangkan biodiesel hingga B100. Menurut dia, langkah tersebut dinilai mampu mempercepat pencapaian target kemandirian energi.

Namun, usulan itu kemudian dikaji oleh para menteri yang membidangi sektor energi. Berdasarkan perhitungan teknis, pemerintah menilai penerapan B50 sudah cukup untuk menghapus kebutuhan impor solar.

"Saya dorong, saya menuntut dari tim saya kemandirian energi. B40 tidak cukup. Bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri saya meyakinkan saya, Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri. Jadi, ini adalah satu prestasi bangsa yang luar biasa," ujarnya.

Negara Pertama Mandatori B50

 

Prabowo menegaskan peluncuran B50 bukan sekadar pencapaian teknologi, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia memanfaatkan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

"Dengan diluncurkan program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50," ujarnya.

Ia menyebut program tersebut merupakan hasil perjalanan panjang pengembangan biodiesel nasional yang dimulai sejak penerapan B2,5 pada 2008 hingga kini mencapai B50 melalui delapan tahapan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6