Trump Sebut Pergantian Kekuasaan di Iran sebagai Skenario Terbaik

Penilaian Trump ini muncul di tengah pertimbangan pemerintahannya mengambil tindakan militer terhadap Iran.

Diterbitkan 14 Februari 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (13/2/2026) mengatakan bahwa perubahan kekuasaan di Iran akan menjadi hal terbaik yang terjadi.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan setelah ia mengunjungi pasukan di Fort Bragg, North Carolina, serta setelah ia mengonfirmasi bahwa AS mengirimkan kelompok kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan mendorong penggulingan pemerintahan Iran, Trump seperti dikutip dari Associated Press menjawab, "Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi. Selama 47 tahun, mereka hanya bicara dan bicara."

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump menyebut prioritas utamanya adalah mendorong Iran untuk kembali membatasi program nuklirnya. Namun pada Jumat, ia mengisyaratkan bahwa tuntutan AS tidak hanya terbatas pada isu nuklir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang pekan ini melakukan kunjungan ke Washington untuk bertemu Trump, mendesak agar setiap kesepakatan juga mencakup langkah-langkah untuk melumpuhkan program rudal balistik Iran dan menghentikan pendanaan Teheran terhadap kelompok proksi seperti Hamas dan Hizbullah.

Trump mengatakan bahwa jika AS mengambil tindakan militer terhadap Iran, operasi tersebut tidak hanya akan menargetkan program nuklirnya. Ia menyebut penargetan program nuklir Iran hanya akan menjadi bagian kecil dari keseluruhan misi. Program nuklir Iran sendiri sebelumnya telah mengalami kemunduran signifikan akibat serangan militer AS tahun lalu.

Iran bersikeras bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai. Sebelum konflik bersenjata selama 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu, Iran diketahui telah memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen, yang secara teknis hanya selangkah lagi menuju tingkat senjata.

Pernyataan Trump mengenai kemungkinan berakhirnya kekuasaan Ayatullah Ali Khamenei muncul beberapa pekan setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa perubahan kekuasaan di Iran akan jauh lebih kompleks dibanding upaya terbaru pemerintahan AS untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Dalam sidang Senat bulan lalu, Rubio menyebut bahwa rezim di Iran telah berkuasa dalam waktu yang sangat lama sehingga memerlukan pertimbangan matang apabila kemungkinan perubahan itu terjadi.

 

 

 

 

 

 

Pengiriman Kapal Induk Kedua

Trump menyatakan bahwa kapal induk USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, sedang dikirim dari Laut Karibia ke Timur Tengah untuk bergabung dengan kapal perang dan aset militer lain yang telah ditempatkan di kawasan tersebut.

Ia sebelumnya menyebut bahwa putaran baru perundingan dengan Iran direncanakan pekan ini, tetapi negosiasi itu tidak terlaksana. 

"Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya," kata Trump mengenai pengiriman kapal induk kedua.

Ia menambahkan bahwa kapal tersebut akan segera berangkat.

Negara-negara Teluk telah memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran berpotensi memicu konflik regional baru, di tengah kawasan Timur Tengah yang masih terdampak perang Israel-Hamas di Jalur Gaza. 

USS Gerald R. Ford akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln beserta kapal perusak peluru kendali yang telah berada di kawasan tersebut selama lebih dari dua pekan. Pasukan AS sebelumnya menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati USS Abraham Lincoln pada hari yang sama ketika Iran mencoba menghentikan kapal berbendera AS di Selat Hormuz.

Trump tetap menyampaikan harapan terukur bahwa kesepakatan masih dapat dicapai.

"Berikan kepada kami kesepakatan yang seharusnya mereka berikan sejak awal. Jika mereka memberi kami kesepakatan yang tepat, kami tidak akan melakukan itu," ujarnya merujuk pada kemungkinan aksi militer.

Perubahan Penempatan Militer

USS Gerald R. Ford sebelumnya dikirim dari Laut Mediterania ke Laut Karibia pada Oktober lalu sebagai bagian dari peningkatan kehadiran militer menjelang operasi mendadak yang berhasil menangkap Maduro bulan lalu.

Langkah pengiriman USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah dinilai berbeda dengan strategi keamanan nasional dan pertahanan pemerintahan Trump yang menekankan prioritas pada Belahan Bumi Barat.

Menanggapi pertanyaan mengenai pergerakan USS Gerald R. Ford, Komando Selatan AS menyatakan bahwa pasukan AS di Amerika Latin tetap akan melanjutkan upaya melawan aktivitas ilegal dan aktor yang merugikan di Belahan Bumi Barat. Mereka menegaskan bahwa meskipun posisi kekuatan berubah, kemampuan operasional tetap terjaga.

Kelompok tempur USS Gerald R. Ford dilaporkan akan membawa lebih dari 5.000 personel tambahan ke Timur Tengah. 

Karena posisi USS Gerald R. Ford saat ini masih berada di Karibia, diperkirakan diperlukan waktu berminggu-minggu sebelum kapal tersebut tiba di lepas pantai Iran.

Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk memaksa Iran menyetujui pembatasan program nuklirnya, termasuk setelah penindakan keras terhadap demonstrasi nasional di negara tersebut.

Iran dan AS sempat melakukan pembicaraan tidak langsung di Oman sepekan lalu. Trump kemudian memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berdampak “sangat traumatis”. Perundingan serupa tahun lalu berakhir pada Juni ketika Israel melancarkan perang selama 12 hari terhadap Iran yang mencakup pengeboman situs nuklir Iran oleh AS.

Dampak terhadap Awak Kapal

USS Gerald R. Ford pertama kali berlayar pada akhir Juni 2025. Artinya, awak kapal tersebut segera memasuki bulan kedelapan penugasan. Belum jelas berapa lama kapal itu akan berada di Timur Tengah, tetapi pengiriman ke kawasan tersebut berpotensi membuat masa penugasannya lebih panjang dari biasanya.

Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Daryl Caudle bulan lalu menyatakan bahwa memperpanjang masa tugas Ford akan sangat mengganggu dan ia bukan pendukung perpanjangan tersebut.

Penugasan kapal induk biasanya berlangsung enam hingga tujuh bulan. Jika melebihi itu, menurut Caudle, akan mengganggu kehidupan pribadi para awak, termasuk rencana pemakaman, pernikahan, maupun kelahiran anak.

Ia juga menjelaskan bahwa perpanjangan masa tugas akan mempersulit jadwal perawatan dan pemeliharaan kapal, menambah keausan peralatan, serta meningkatkan kebutuhan perbaikan.

Sebagai perbandingan, USS Dwight D. Eisenhower menjalani penugasan selama sembilan bulan di Timur Tengah pada 2023 dan 2024, termasuk menghadapi pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman. Kapal tersebut memasuki masa perawatan pada awal 2025 sesuai jadwal, tetapi prosesnya melampaui target penyelesaian pada Juli dan hingga kini masih berada di galangan kapal.

Dalam wawancara terpisah, Caudle menyatakan visinya untuk lebih sering mengerahkan kapal-kapal yang lebih kecil dan lebih baru, daripada terus-menerus mengandalkan kapal induk besar dalam setiap operasi.