Trump Respons Uji Coba Rudal Jelajah Baru Rusia: Tindakan Tidak Pantas

Putin memuji rudal jelajah Burevestnik sebagai senjata unik.

Diterbitkan 28 Oktober 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Donald Trump menyebut pengumuman Vladimir Putin mengenai uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir sebagai tindakan yang tidak pantas, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia.

Putin pada hari Minggu (26/10/2025) mengumumkan bahwa Rusia telah berhasil menguji rudal jelajah Burevestnik yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Kremlin menyebut uji coba itu sebagai bagian dari upaya untuk menjamin keamanan nasional negaranya.

Saat ditanya oleh wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Senin (27/10) tentang uji coba rudal Rusia itu, Trump mengatakan bahwa Putin seharusnya fokus mengakhiri perang di Ukraina ketimbang menguji senjata baru.

Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat sudah memiliki kapal selam nuklir yang dapat beroperasi di dekat wilayah Rusia, sehingga tidak perlu melakukan uji coba rudal jarak jauh seperti itu.

"Kami menguji rudal secara rutin," ujarnya seperti dilansir The Guardian. 

Sehari sebelumnya, dengan mengenakan pakaian militer dalam pertemuan bersama para jenderal tertinggi Rusia, Putin memuji rudal tersebut sebagai sebuah terobosan.

"Ini benar-benar senjata yang unik, yang tidak dimiliki negara mana pun di dunia," katanya, sambil memerintahkan pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk membawa sistem itu ke dalam layanan militer.

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia Jenderal Valery Gerasimov melaporkan kepada Putin bahwa uji coba dilakukan pada hari Selasa (21/10), dengan rudal menempuh jarak sekitar 14.000 km selama 15 jam penerbangan.

Sergei Ryabkov, salah satu penasihat dekat Putin, mengatakan kepada media Rusia bahwa pihaknya telah memberi tahu Amerika Serikat sebelumnya mengenai rencana uji coba tersebut.

 

 

 

Pakar Barat Ragukan Klaim Rusia

Putin pertama kali memperkenalkan Burevestnik pada 2018, dengan klaim bahwa senjata itu memiliki jangkauan hampir tidak terbatas dan mampu menghindari sistem pertahanan rudal Amerika Serikat.

"Selama ini tidak ada yang mau mendengar kami. Sekarang, dengarkan baik-baik," ujarnya kala itu, menegaskan bahwa Barat mengabaikan peringatan Rusia terkait pengembangan sistem pertahanan rudal di sekitar perbatasannya. Pernyataan Putin sekaligus dimaksudkan sebagai peringatan bahwa Rusia kini memiliki kemampuan militer yang tidak bisa diabaikan lagi.

Sistem ini menjadi sorotan dunia pada 2019 setelah uji coba gagal di kawasan Arktik menyebabkan ledakan yang menewaskan sedikitnya lima ilmuwan.

Meski Putin terus membanggakan kemampuannya, para pakar meragukan keunggulan rudal tersebut.

"Rudal jelajah bertenaga nuklir Rusia, Burevestnik, bukanlah senjata yang tidak bisa dikalahkan … pesawat NATO bisa saja mencegatnya," tulis Jeffrey Lewis, pakar nonproliferasi nuklir dari Middlebury Institute di Monterey, California, di platform X. "Masalahnya, Burevestnik hanyalah langkah lain dalam perlombaan senjata yang tidak akan memberi kemenangan bagi siapa pun."

Walaupun baik Rusia maupun Amerika Serikat kerap menyatakan keinginan untuk menghentikan perlombaan senjata, kemajuan ke arah itu hampir tidak ada. Kremlin baru-baru ini mengkritik inisiatif Trump untuk mengembangkan sistem pertahanan rudal—yang disebutnya Golden Dome—yang diklaim Trump akan membuat Amerika Serikat kebal terhadap serangan.

Pada November lalu, Rusia menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir, sebuah langkah yang secara luas dianggap sebagai sinyal kesiapan Rusia untuk merespons dengan lebih agresif terhadap ancaman apa pun yang dirasakannya.

Tidak lama kemudian, Rusia menempatkan rudal baru yang mampu membawa hulu ledak nuklir, Oreshnik, di medan perang Ukraina.

Waktu pelaksanaan uji coba Burevestnik ini dinilai penting karena bertepatan dengan meningkatnya retorika nuklir Kremlin dan terhentinya pembicaraan antara Rusia dan Amerika Serikat terkait perang di Ukraina.

Pekan lalu, Putin juga memimpin latihan pasukan nuklir strategis Rusia, termasuk simulasi peluncuran rudal. Ia memperingatkan adanya respons yang sangat serius, bahkan mungkin menghancurkan jika Ukraina melanjutkan serangan ke wilayah Rusia menggunakan rudal yang dipasok oleh Barat.

Televisi pemerintah Rusia pada Minggu secara terbuka menggambarkan latihan tersebut sebagai peringatan bagi Barat.

Hubungan antara Putin dan Trump memburuk setelah pemerintahan Amerika Serikat pada Rabu lalu mengumumkan sanksi terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia serta sekitar tiga lusin anak perusahaannya—langkah yang berpotensi menggerus sumber utama pendapatan Moskow dari sektor energi. 

Tanda-tanda ketegangan tambahan terlihat dari wawancara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada akhir pekan lalu. Ia mengatakan bahwa sikap pemerintahan Trump terhadap perang di Ukraina telah berubah secara radikal.

Dalam wawancara dengan seorang jurnalis asal Hongaria, Lavrov mengkritik usulan Trump agar Rusia dan Ukraina membekukan garis depan dan menyepakati gencatan senjata.