Zumba Jadi Program Wajib di Sekolah Negeri India, Diprotes Ulama dan Aktivis Hindu

Olahraga Zumba dinilai bertentangan dengan nilai moral dan agama.

Diterbitkan 04 Juli 2025, 20:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, New Delhi - Pemerintah negara bagian Kerala, India, memicu perdebatan publik setelah mewajibkan sekolah negeri menyelenggarakan sesi Zumba harian sebagai bagian dari kampanye anti-narkoba.

Mengutip BBC, Jumat (4/7/2025), program ini menuai kritik tajam dari kelompok-kelompok keagamaan yang menuduhnya sebagai bentuk "invasi budaya" dan pelanggaran terhadap nilai moral.

Sebanyak 14.000 sekolah negeri di Kerala diinstruksikan untuk mengadakan sesi Zumba harian sejak bulan lalu.

Langkah ini adalah bagian dari strategi pemerintah untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar, termasuk peningkatan pengawasan kampus, program rehabilitasi, dan kampanye kesadaran.

Namun, kebijakan ini memantik reaksi keras dari organisasi Hindu dan Muslim konservatif. Mereka menuduh pemerintah memaksakan budaya asing kepada anak-anak sekolah dan menyerukan boikot terhadap program tersebut.

Salah satu keberatan utama adalah kekhawatiran bahwa Zumba mengharuskan siswa mengenakan pakaian ketat dan berdansa dalam jarak dekat, yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama.

"Zumba bertentangan dengan nilai moral India karena melibatkan tarian dengan pakaian ketat dan interaksi fisik yang tidak pantas antara laki-laki dan perempuan," kata Nasar Faizy Koodathai, juru bicara Samstha Kerala Jamiyyathul Ulema, organisasi ulama Muslim yang mengelola ratusan sekolah agama di Kerala.

Pengaruh Budaya Asing

Sementara itu, Bharatiya Vichara Kendram, kelompok intelektual Hindu, menyebut Zumba sebagai "ekspor budaya asing" dan menuduh pemerintah memiliki agenda tersembunyi.

"Ada motif tersembunyi di balik promosi budaya asing seperti Zumba. Ini adalah upaya untuk mengikis nilai dan tradisi kita," ujar Direktur R Sanjayan.

Pemerintah Kerala menolak seluruh tuduhan tersebut. Menteri Pendidikan Negara Bagian, V Sivankutty, mengatakan bahwa program ini bersifat sukarela dan dirancang untuk mendukung gaya hidup sehat siswa.

"Agama tidak boleh dicampuradukkan dengan pendidikan," ujar Sivankutty.

"Mereka yang menentang program ini justru lebih berbahaya daripada masalah narkoba itu sendiri."

Ia menegaskan bahwa siswa tetap akan mengenakan seragam sekolah selama sesi berlangsung, sehingga tuduhan tentang pakaian tidak senonoh tidak relevan. Ia juga menambahkan bahwa Zumba hanyalah satu dari berbagai metode untuk mendorong kebugaran jasmani dan mental siswa.

"Olahraga ringan selalu didorong di sekolah, dan anak-anak mengenakan seragam selama kegiatan tersebut. Program ini untuk mendorong kebiasaan sehat dan meningkatkan konsentrasi serta perkembangan pribadi siswa," jelasnya.