Sukses

Ledakan Bom di Masjid Kabul Afghanistan Saat Salat Jumat, 50 Orang Lebih Dilaporkan Tewas

Liputan6.com, Kabul - Sebuah bom meluluhlantakkan satu masjid di ibu kota Afghanistan, Kabul, yang sedang dipadati jemaah yang melakukan salat Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Puluhan orang tewas dan luka-luka akibat ledakan tersebut.

Para pejabat mengatakan pemerintah berkuasa Taliban mengukuhkan sedikitnya 10 orang tewas. Tetapi imam salat di Masjid Khalifa Sahib, Sayed Fazil Agha, mengatkaan lebih dari 50 orang tewas.

Ledakan bom itu dilaporkan telah menghancurkan bagian atap masjid.

Agha mengatakan seseorang yang diyakini sebagai pelaku bom bunuh diri ikut berkumpul bersama jemaah lain dan kemudian meledakkan bom.

"Asap hitam membubung ke mana-mana. Jasad di mana-mana,” ujarnya, seraya menambahkan keponakan laki-lakinya termasuk di antara mereka yang tewas seperti dalam laporan VOA Indonesia, yang dikutip Sabtu (30/4/2022).

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengutuk serangan itu. "Dengan izin Allah SWT pelaku kejahatan semacam ini akan segera ditemukan dan dihukum," cuitnya.

Sejauh ini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

Pekan lalu sebuah bom meledak di saat salat Jumat di masjid Kota Kunduz, menewaskan sedikitnya 33 jemaah.

Sehari sebelumnya ledakan menghantam dua kendaraan penumpang di Kota Mazar-e-Sharif, di utara Afghanistan, menewaskan sedikitnya sembilan orang. ISIS-Khorasan mengklaim tanggungjawab sebagai pihak yang merencanakan bom yang membunuh warga Hazara-Afghanistan itu.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Laporan 66 Jasad hingga Picu Kemarahan Dunia Internasional, ISIS Dalangnya?

Sebuah organisasi derma Italia "Emergency" mengatakan rumah sakit di Kabul telah menerima 21 korban luka-luka dan dua jasad. Puluhan korban lainnya dilarikan ke berbagai fasilitas medis lain di Kabul.

Seorang petugas medis mengatakan sejauh ini beberapa rumah sakit telah menerima 66 jasad dan 78 korban luka-luka.

Ledakan itu menyusul serangkaian pemboman masjid dan sekolah di Afghanistan selama bulan suci Ramadhan, di mana sejumlah warga sipil tewas atau luka-luka. Sebagian besar korban adalah minoritas Muslim-Syiah, termasuk mereka yang berasal dari kelompok etnis pribumi, Hazara.

Sebagian pemboman itu diklaim oleh ISIS Propinsi Khorasan, afiliasi ISIS di kawasan itu.

Pemboman masjid pada hari Jumat ini memicu kemarahan internasional dan seruan untuk menghukum mereka yang berada di balik pemboman itu.

Utusan Khusus Amerika Untuk Afghanistan Thomas West mengatakan "mengutuk keras serangan tidak masuk akal dan mengerikan terhadap warga Afghanistan yang tidak bersalah minggu lalu, termasuk di Masjid Khalifa Sahib (hari ini). Serangan ini harus diakhiri. Pelaku harus dibawa ke muka hukum," cuit West.

3 dari 4 halaman

Dikecam PBB hingga Kepemimpinan Taliban Dipertanyakan

PBB kembali menegaskan bahwa berdasarkan aturan hukum kemanusiaan internasional, serangan langsung terhadap warga dan infrastruktur sipil – termasuk masjid – dilarang. "Ledakan hari ini... merupakan pukulan menyakitkan lainnya terhadap rakyat Afghanistan, yang terus menghadapi ketidakamanan dan kekerasan yang tidak henti-hentinya,” ujar Koordinator Kemanusiaan PBB Untuk Afghanistan Ramiz Alakbarov.

"Merupakan hal yang tidak masuk akal bagi warga sipil untuk menjadi sasaran tanpa pandang bulu ketika mereka melakukan pertemuan sehari-hari untuk berdoa, pergi ke sekolah atau pasar, atau dalam perjalanan untuk bekerja,” ujar Alakbarov.

 

Taliban mengatakan telah menciptakan keamanan ke negara yang dilanda perang itu sejak mengambil alih kekuasaan pertengahan Agustus 2021 lalu, dan telah menyudahi sebagian ancaman yang ditimbukan ISIS-Khorasan.

Namun terus terjadinya serangkaian serangan teroris berdarah oleh ISIS dan kelompok-kelompok lain beberapa pekan terakhir ini menimbulkan pertanyaan tentang klaim Taliban dan kekuatan mereka memimpin Afghanistan.

4 dari 4 halaman

Puasa Saat Taliban Berkuasa, Begini Nasib Banyak Keluarga di Afghanistan

Ramadhan 2022 adalah pertama kalinya masyarakat Afghanistan berpuasa sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021. Masalah ekonomi pun menerpa Afghanistan atau yang kini disebut Emirat Islam, pasalnya negara-negara Barat memberikan sanksi.

Organisasi internasional Save the Children menyorot nasib keluarga-keluarga di Afghanistan yang sulit membeli makan. Mereka hanya bisa membeli roti dan air saja. Tentunya hal itu berbeda dari situasi di negara-negara mayoritas Muslim ketika Ramadhan memiliki aneka kuliner menarik.

Dilansir TOLO News, Rabu (27/4/2022), Save the Children menyebut angka keluarga yang pengangguran dan miskin meningkat. Mereka pun melakukan tindakan putus asa demi memberi makan keluarga.

Laporan Save the Children menyebut biaya hidup dan makanan meroket sejak Taliban mengambil alih Afghanistan. Laporan itu juga mencatut laporan Bank Dunia bahwa pendapatan masyarakat Afghanistan merosot sepertiga pada bulan-bulan terakhir di 2021.

Save the Children mewawancara para wanita Afghanistan yang mengeluhkan tingginya harga makanan, sehingga mereka sulit memberikan makanan.

Anak-anak lantas berada dalam posisi yang rentan karena krisis kelaparan. Kurangnya nutrisi bisa memicu penyakit, infeksi, stunting dan kematian.

Selengkapnya di sini...