Sukses

Filipina Berhasil Ganyang Militan Pro-ISIS di 190 Km dari Marawi

Liputan6.com, Manila - Militer Filipina berhasil menumpas sekitar 100 militan bersenjata Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF), sebuah kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Filipina. Mereka mencoba untuk menduduki sebuah desa di Mindanao pada Rabu 21 Juni 2017.

Peristiwa itu terjadi di sebuah kota kecil bernama Pigcawayan, Provinsi Cotabato Utara, 190 km dari selatan Marawi.

Komando Armed Forces of the Philippines (AFP) setempat menyatakan, "Kami berhasil memukul mundur militan BIFF yang hendak menduduki Pigcawayan," kata Kapten Arvin Encinas, juru bicara Divisi Infanteri ke-6 yurisdiksi Provinsi Cotabato Utara, seperti yang dikutip dari Asian Correspondent, Kamis (22/6/2017).

"Meski militan telah berhasil dipukul mundur, militer Filipina terus memburu anggota BIFF yang melarikan diri. Warga sipil diharapkan mampu membantu memberikan informasi tambahan kepada militer jika melihat anggota atau terduga BIFF di lokasi mereka," tambah Kapten Encinas.

Operasi penumpasan BIFF di Pegcawayan yang dilakukan oleh AFP Rabu lalu turut dibantu oleh MILF, ujar Komandan Divisi Infanteri Ke-6 Mayor Jenderal Arnel dela Vega.

Sesuai perjanjian gencatan pada 2014 lalu, kelompok MILF kerap membantu AFP dalam sejumlah operasi penumpasan sel teroris maupun pemberontak lokal.

"Kami mengimbau agar warga sipil juga turut membantu proses stabilisasi di kawasan," tambah Mayjen dela Vega.

Meski upaya militan untuk menduduki Pigcawayan berhasil digagalkan, peristiwa tersebut memberikan dampak memprihatinkan bagi warga sipil.

Sekitar ratusan keluarga terpaksa mengungsi dan 14 sekolah harus berhenti beraktivitas akibat konflik bersenjata itu, ujar otoritas setempat.

"Pertempuran bersenjata telah reda hari ini, namun warga sipil harus tetap mengungsi di sejumlah titik, sambil menunggu izin dari militer dan polisi agar mereka dapat kembali ke rumah masih-masing," kata Jezler Garcesa, juru bicara untuk komisi manajemen krisis di Pigcawayan pada Kamsi 22 Juni 2017.

"Kebutuhan dasar pengungsi, seperti makanan, telah diberikan oleh pemerintah daerah. Tim medis siap dikerahkan ke berbagai pusat pengungsian. Sangat disayangkan bahwa warga sipil harus dirugikan atas konflik bersenjata lain," tambahnya.

Sebelumnya sempat ada laporan tentang dugaan situasi penyanderaan yang dilakukan oleh BIFF terhadap 31 warga sipil. Kini, otoritas setempat telah mengklarifikasi dugaan tersebut.

"Memang benar sekitar 31 orang. Namun lebih tepatnya, mereka terjebak di situasi baku tembak dan tidak bisa meloloskan diri, bukan disandera. Kini mereka dalam kondisi yang aman dan selamat di lokasi pengungsian," tambah Garesca.

Dinas pendidikan setempat juga menjelaskan bahwa 14 sekolah di kawasan konflik bersenjata harus berhenti beraktivitas.

"Pemberhentian aktivitas sekolah itu berpengaruh pada 4.034 siswa yang harus berhenti belajar. Kelas akan kembali dilaksanakan setelah izin dan arahan dari aparat setempat," kata Omar Obas dari Dinas Pendidikan Provinsi Cotabato Utara.

Sementara itu, pihak AFP menekankan bahwa konflik bersenjata di Pigcawayan bukan merupakan dampak dari perluasan situasi di Marawi yang hanya berjarak sekitar 190 km.

"Kelompok BIFF telah menjadi gangguan di wilayah itu jauh sebelum pecahnya konflik di Marawi," kata Juru Bicara AFP, Brigadir Jenderal Restituto Padilla kepada staisun televisi lokal PTV-4, dan dikutip dari Asian Correspondent.

Kelompok BIFF merupakan pecahan dari Moro Islamic Liberation Front (MILF). Kini, BIFF menisbatkan diri menjadi bagian ISIS.

Sejak 2014, Provinsi Cotabato yang bertetangga dengan Wilayah Otonom Muslim Mindanao, kerap menjadi lokasi konflik bersenjata antara MILF, militer Filipina, dan sel teroris maupun pemberontak lokal.

Saksikan juga video berikut ini

Pemakaman Massal Christchurch
Loading