Rusia Bebaskan 24 Warga Filipina Usai Pertemuan Marcos dan Putin

Puluhan warga Filipina ini telah kembali ke negaranya.

Diterbitkan 21 Juni 2026, 13:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Rusia membebaskan 24 warga Filipina yang selama berbulan-bulan ditahan tanpa dakwaan di sebuah kota di Siberia setelah Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyampaikan kekhawatirannya kepada Presiden Vladimir Putin. Hal itu disampaikan pejabat Filipina pada Sabtu (20/6/2026).

Sebanyak 24 warga Filipina tersebut tiba di Manila dengan dua penerbangan pada Minggu (21/6) dini hari. Rombongan pertama disambut Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro, yang menurut Kementerian Luar Negeri Filipina, mendampingi Marcos dalam pembicaraannya dengan Putin di Kota Kazan, Rusia, pada Rabu (17/6).

Menteri Pekerja Migran Filipina Hans Cacdac menyambut rombongan terakhir sebelum fajar. Kementeriannya ikut memberikan bantuan kepada para pekerja tersebut.

Marcos, yang saat ini menjabat sebagai ketua bergilir Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), memimpin para pemimpin dari 11 negara anggota dalam memperingati 35 tahun status Rusia sebagai mitra dialog ASEAN. Di sela-sela pertemuan puncak di Kazan, Marcos juga menggelar pertemuan bilateral dengan Putin.

Pembebasan warga Filipina itu berlangsung relatif cepat setelah Marcos mengangkat persoalan tersebut. Filipina merupakan sekutu utama Amerika Serikat (AS) di Asia berdasarkan perjanjian pertahanan dan termasuk mayoritas negara anggota ASEAN yang mendukung resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengecam invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022.

Singapura menjadi satu-satunya negara anggota ASEAN yang menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong turut menghadiri pertemuan puncak di Kazan.

Usai pertemuan bilateral dengan Putin, Marcos mengatakan kepada wartawan bahwa ia menyampaikan kekhawatiran terkait 24 warga Filipina yang ditahan selama sekitar sembilan bulan di Kota Yakutsk, Siberia Timur, tanpa dakwaan apa pun. Menurutnya, pemerintah Filipina tidak memiliki informasi lain mengenai kondisi mereka.

Pejabat Filipina mengatakan terdapat laporan yang menyebut para warga Filipina tersebut kemungkinan menjadi korban perekrutan tenaga kerja ilegal dan kemudian ditahan di Rusia karena dugaan pelanggaran aturan imigrasi.

Putin mengatakan kepada Marcos bahwa dirinya tidak mengetahui persoalan tersebut, namun berjanji akan menindaklanjutinya. Marcos mengatakan bahwa dalam jamuan makan malam pada Rabu, Presiden Rusia itu menyampaikan para warga Filipina tersebut tidak didakwa melakukan pelanggaran apa pun. 

"Jangan khawatir, kami akan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Marcos mengutip pernyataan Putin.

Marcos mengatakan delegasi Filipina kemudian menerima pemberitahuan dari pejabat Rusia bahwa para warga Filipina tersebut akan segera dipulangkan ke Manila. 

Menurut Duta Besar Filipina untuk Moskow Igor Bailen, sekitar 15.000 warga Filipina saat ini tinggal dan bekerja di berbagai wilayah Rusia.