Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua orang merasa cemas ketika harus menghadapi sesuatu yang belum jelas. Ada orang yang justru terlihat tenang ketika belum mengetahui apa yang akan terjadi besok, bagaimana masa depannya, atau ke mana sebuah keputusan akan membawanya. Fenomena ini menarik untuk dipahami, terutama ketika banyak orang lainnya membutuhkan kepastian agar merasa aman.
Mengapa ada orang yang nyaman hidup dalam ketidakpastian? Perbedaan tersebut ternyata berkaitan dengan cara seseorang memandang risiko, mengelola emosi, serta merespons hal-hal yang berada di luar kendalinya. Bagi sebagian orang, ketidakpastian bukan ancaman yang harus segera disingkirkan, melainkan bagian alami dari perjalanan hidup.
Menariknya, kemampuan menerima ketidakpastian bukan berarti seseorang tidak memiliki rasa takut atau tidak memikirkan masa depan. Ada proses psikologis yang membuat mereka lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan, sehingga tidak mudah terjebak dalam kekhawatiran terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (3/11/2026).
Advertisement
1. Memiliki Toleransi terhadap Ketidakpastian yang Lebih Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4566617/original/3600_1694064069-searching-peace-inside-own-mind-patient-relaxed-guy-likes-meditating-dreaming-about-nature-holding-hands-raised-zen-mudra-sign-reach-nirvana-breathing-with-close-eyes-practice-yoga.jpg)
Salah satu penjelasan utama berkaitan dengan konsep intolerance of uncertainty atau ketidaktoleranan terhadap ketidakpastian. Dalam psikologi, istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk menganggap situasi yang belum jelas sebagai sesuatu yang mengganggu, menakutkan, atau sulit diterima.
Orang yang memiliki toleransi rendah terhadap ketidakpastian biasanya membutuhkan banyak informasi sebelum mengambil keputusan. Mereka cenderung memikirkan berbagai kemungkinan buruk, bahkan ketika belum ada tanda bahwa hal tersebut akan terjadi. Sebaliknya, orang dengan toleransi ketidakpastian yang lebih tinggi relatif mampu menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus segera memiliki jawaban.
World Economic Forum dalam artikel berjudul Why We Must Learn to Live with Uncertainty yang diterbitkan pada 27 Maret 2015 menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tingkat keinginan yang berbeda untuk meminimalkan ketidakpastian. Perbedaan tersebut memengaruhi cara mereka merespons situasi yang tidak dapat diprediksi.
Artinya, seseorang yang terlihat santai ketika menghadapi masa depan belum tentu tidak peduli dengan kehidupannya. Bisa jadi, ia memang lebih mampu menoleransi kondisi ketika informasi yang tersedia belum cukup untuk menghasilkan kepastian.
2. Tidak Terlalu Bergantung pada Kendali atas Segala Sesuatu
Sebagian orang merasa nyaman ketika dapat mengatur hampir seluruh aspek kehidupannya. Mereka ingin mengetahui apa yang akan terjadi, mempersiapkan berbagai kemungkinan, dan memastikan setiap keputusan menghasilkan sesuatu sesuai harapan.
Namun, kehidupan tidak selalu berjalan mengikuti rencana. Ada keputusan orang lain, perubahan lingkungan, kondisi ekonomi, hingga kejadian tidak terduga yang berada di luar kendali pribadi.
Orang yang lebih nyaman menghadapi ketidakpastian biasanya memahami batas antara hal-hal yang bisa dan tidak bisa mereka kendalikan. Mereka tetap membuat perencanaan, tetapi tidak menganggap bahwa semua rencana harus berjalan sempurna.
Penjelasan ini juga muncul dalam wawancara Stanford University dengan Donnovan Somera Yisrael dari Vaden Health Center melalui artikel Living with Uncertainty: How to Accept and Be More Comfortable with Unpredictability yang diterbitkan pada 4 November 2020.
Yisrael menjelaskan pentingnya menemukan kembali rasa kendali dalam hal-hal kecil yang masih bisa dilakukan. Misalnya, seseorang mungkin tidak dapat memastikan apakah akan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, tetapi ia tetap bisa memperbaiki kemampuan, mempersiapkan wawancara, dan mengatur kegiatan sehari-hari.
Dengan cara berpikir tersebut, ketidakpastian tidak lagi terasa seperti situasi yang sepenuhnya membuat seseorang tidak berdaya. Perhatian mereka beralih dari berusaha mengendalikan masa depan menjadi melakukan sesuatu yang bermanfaat pada saat ini.
3. Memandang Ketidakpastian sebagai Peluang, Bukan Ancaman
Cara seseorang memberikan makna terhadap sebuah situasi juga memengaruhi kenyamanannya ketika menghadapi ketidakpastian. Bagi orang yang mudah cemas, sesuatu yang belum diketahui sering kali langsung dikaitkan dengan kemungkinan buruk. Belum mendapatkan kabar pekerjaan, misalnya, bisa membuat seseorang membayangkan dirinya gagal mendapatkan penghasilan atau tidak memiliki masa depan yang jelas.
Namun, ada orang yang mampu melihat situasi serupa dari sudut pandang berbeda. Mereka memahami bahwa belum adanya kepastian juga berarti masih ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
Stanford University menjelaskan bahwa ketidakpastian tidak selalu memiliki makna negatif. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia bahkan menikmati sejumlah aktivitas yang hasilnya tidak dapat diprediksi, seperti menonton pertandingan olahraga, menghadiri acara sosial, atau menyaksikan film dengan alur cerita yang menegangkan.
Hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan pribadi. Seseorang yang belum mengetahui hasil dari keputusan kariernya mungkin merasa penasaran terhadap kesempatan baru yang bisa muncul. Ketidakpastian tersebut menghadirkan ruang untuk mengeksplorasi pengalaman yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Pandangan seperti ini membuat seseorang lebih mudah menerima perubahan. Mereka tidak selalu menganggap bahwa sesuatu yang berbeda dari rencana awal merupakan kegagalan.
Advertisement
4. Memiliki Fleksibilitas dalam Berpikir dan Menentukan Tujuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5210323/original/091686400_1746505046-woman-showing-something-her-friend-forest_23-2147847103.jpg)
Orang yang nyaman hidup dalam ketidakpastian umumnya tidak terlalu kaku dalam mempertahankan satu rencana. Mereka bisa menyesuaikan tujuan ketika situasi berubah tanpa harus merasa seluruh kehidupannya berantakan.
Misalnya, seseorang yang sejak awal ingin bekerja di perusahaan tertentu ternyata tidak lolos seleksi. Ia mungkin merasa kecewa, tetapi tidak langsung menganggap bahwa seluruh usahanya sia-sia. Ia bisa mencoba perusahaan lain, mengambil pekerjaan berbeda, atau mengembangkan keterampilan yang sebelumnya belum menjadi prioritas.
World Economic Forum menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Kemampuan untuk mengevaluasi kekecewaan, menerima dukungan emosional, dan mengubah tujuan ketika diperlukan dapat membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih sehat.
Fleksibilitas ini juga berkaitan dengan cara seseorang memandang kesalahan. Mereka tidak selalu menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya.
Hal ini bukan berarti mereka tidak memiliki ambisi atau prinsip. Mereka tetap mempunyai tujuan, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaan pada satu hasil yang belum tentu bisa diwujudkan.
5. Mampu Mengelola Emosi tanpa Harus Menghilangkan Semua Rasa Takut
Seseorang yang terlihat tenang menghadapi ketidakpastian bukan berarti tidak pernah merasa takut, kecewa, atau khawatir. Perbedaannya mungkin terletak pada kemampuan mengelola emosi tersebut.
Jennifer Gerlach, seorang pekerja sosial klinis berlisensi, melalui Psychology Today dalam artikel How Embracing Uncertainty Can Lead to a Better Life yang diterbitkan pada Desember 2023, menjelaskan bahwa penerimaan dan mindfulness dapat membantu seseorang menghadapi hal-hal yang belum diketahui.
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah radical acceptance, yaitu kemampuan menerima kenyataan sebagaimana adanya, termasuk hal-hal yang tidak disukai. Penerimaan bukan berarti menyerah atau menganggap keadaan tidak mungkin berubah. Justru, seseorang perlu mengakui situasi yang sedang dihadapi sebelum menentukan tindakan untuk memperbaikinya.
Misalnya, seseorang yang sedang menunggu hasil pemeriksaan kesehatan mungkin tidak bisa langsung mengetahui kondisi sebenarnya. Daripada terus-menerus membayangkan berbagai kemungkinan buruk, ia dapat mengakui rasa takutnya sambil tetap menjalani aktivitas dan mengikuti saran tenaga medis.
Kemampuan ini membuat seseorang tidak harus menghabiskan seluruh energinya untuk melawan perasaan yang muncul. Ia bisa merasakan kecemasan tanpa membiarkan kecemasan tersebut mengambil alih seluruh keputusan.
6. Lebih Terbiasa Mengandalkan Kemampuan Beradaptasi
Ada orang yang terlihat sangat tenang ketika menghadapi perubahan mendadak karena mereka percaya bahwa dirinya mampu mencari jalan keluar ketika situasi berubah.
Keyakinan ini berkaitan dengan self-efficacy, yaitu kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam menghadapi suatu situasi.
Orang dengan keyakinan tersebut tidak harus mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi. Mereka cukup percaya bahwa ketika menghadapi masalah, masih ada kemampuan, pengalaman, atau sumber daya yang dapat digunakan untuk mencari solusi.
Dalam artikel Stanford University, Yisrael juga menyinggung pentingnya membangun ketahanan psikologis atau resilience. Kemampuan ini mencakup fleksibilitas, daya tahan, harapan, rasa syukur, dan keyakinan bahwa seseorang masih dapat mengambil tindakan ketika menghadapi kesulitan.
Pengalaman hidup juga bisa membantu membentuk kemampuan beradaptasi. Seseorang yang pernah menghadapi perubahan pekerjaan, kegagalan rencana, atau perpindahan lingkungan mungkin belajar bahwa situasi yang awalnya terasa menakutkan ternyata bisa dilewati.
Namun, bukan berarti setiap orang harus mengalami kesulitan besar agar bisa nyaman dengan ketidakpastian. Kemampuan beradaptasi juga dapat dilatih melalui pengalaman sehari-hari, termasuk mencoba hal baru dan belajar menerima hasil yang tidak selalu sesuai harapan.
7. Tidak Menganggap Masa Depan sebagai Penentu Kebahagiaan Saat Ini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4913911/original/070577800_1723216647-GridArt_20240605_222127229__1_.jpg)
Salah satu alasan lain mengapa ada orang yang nyaman hidup dalam ketidakpastian adalah kemampuan menikmati kehidupan tanpa harus menunggu seluruh persoalan selesai.
Sebagian orang sering menunda kebahagiaan sampai mencapai kondisi tertentu. Mereka baru merasa tenang jika sudah mendapatkan pekerjaan tetap, memiliki rumah, menikah, mempunyai tabungan cukup, atau berhasil mencapai target pribadi.
Padahal, setelah satu tujuan tercapai, biasanya akan muncul hal lain yang kembali membutuhkan perhatian. Seseorang yang baru mendapatkan pekerjaan mungkin mulai memikirkan jenjang karier. Orang yang sudah memiliki rumah bisa kembali memikirkan kebutuhan finansial dan keluarga.
Stanford University mengingatkan bahwa ketidakpastian tidak akan sepenuhnya hilang ketika seseorang memasuki tahap kehidupan yang baru. Setiap fase memiliki tantangan dan pertanyaan yang berbeda.
Karena itu, orang yang lebih nyaman dengan ketidakpastian cenderung tidak menggantungkan seluruh rasa aman pada kondisi masa depan. Mereka tetap mempunyai harapan dan rencana, tetapi juga memberikan ruang untuk menikmati hal-hal sederhana yang sedang dimiliki.
Sikap ini membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih seimbang. Masa depan tetap dipersiapkan, tetapi kehidupan saat ini tidak harus terus-menerus dikorbankan untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.
Apakah Nyaman dengan Ketidakpastian Berarti Tidak Memiliki Rasa Takut?
Tidak. Nyaman dengan ketidakpastian bukan berarti seseorang tidak mempunyai rasa takut, tidak memikirkan konsekuensi, atau selalu berani mengambil risiko.
Perlu dibedakan antara menerima ketidakpastian dan mengabaikan tanggung jawab. Seseorang yang mampu menerima hal-hal di luar kendalinya tetap bisa membuat perencanaan keuangan, mempertimbangkan keputusan karier, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan kemungkinan buruk.
Justru, kemampuan tersebut dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih rasional karena tidak seluruh pertimbangannya didominasi oleh kecemasan.
Sebaliknya, jika seseorang sama sekali tidak mempertimbangkan risiko dan terus-menerus mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya, sikap tersebut bukan contoh toleransi terhadap ketidakpastian yang sehat.
Jennifer Gerlach dalam Psychology Today menekankan bahwa menghadapi ketidakpastian dapat dilakukan melalui penerimaan, mindfulness, rasa ingin tahu, dan tindakan yang selaras dengan nilai-nilai pribadi.
Dengan demikian, tujuan utamanya bukan menghilangkan rasa takut, melainkan belajar tetap menjalani kehidupan meskipun belum mengetahui seluruh jawabannya.
Bagaimana Cara Belajar Lebih Nyaman Hidup dalam Ketidakpastian?
Kemampuan menerima ketidakpastian bukan sesuatu yang harus dimiliki sejak lahir. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu seseorang membangun toleransi terhadap situasi yang tidak bisa diprediksi.
- Pertama, belajar membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan hal yang berada di luar kendali. Daripada menghabiskan waktu memikirkan keputusan orang lain, fokuslah pada tindakan yang masih bisa dilakukan sendiri.
- Kedua, mencoba menghadapi ketidaknyamanan secara bertahap. Misalnya, belajar mengambil keputusan kecil tanpa harus mencari terlalu banyak konfirmasi atau mencoba kegiatan baru yang belum pernah dilakukan.
- Ketiga, melatih mindfulness dengan memperhatikan napas, pikiran, dan perasaan yang muncul pada saat ini. Cara sederhana ini dapat membantu seseorang menyadari kecemasannya tanpa langsung bereaksi secara impulsif.
- Keempat, mengenali kecenderungan berpikir berlebihan atau catastrophizing, yaitu membayangkan kemungkinan terburuk seolah-olah pasti akan terjadi. Cobalah mempertanyakan apakah kekhawatiran tersebut didukung fakta atau hanya dugaan.
- Kelima, tetap bergerak berdasarkan nilai dan tujuan pribadi. Seperti dijelaskan Gerlach, seseorang dapat menghadapi hal-hal yang belum pasti dengan tetap berpegang pada nilai yang dianggap penting, meskipun hasil akhirnya belum diketahui.
Jika kecemasan terhadap ketidakpastian sudah mengganggu aktivitas, pekerjaan, hubungan, atau kesehatan sehari-hari, mencari bantuan profesional juga merupakan langkah yang tepat.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu menyediakan jawaban sebelum seseorang harus mengambil langkah. Ada kalanya kita perlu berjalan sambil mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Orang yang nyaman dengan ketidakpastian bukan berarti sudah mengetahui rahasia masa depan, melainkan belajar bahwa mereka tetap bisa menjalani kehidupan meskipun belum memiliki semua jawabannya.
Pertanyaan Seputar Hidup dalam Ketidakpastian
1. Mengapa ada orang yang tidak takut menghadapi ketidakpastian?
Setiap orang memiliki tingkat toleransi terhadap ketidakpastian yang berbeda. Sebagian orang lebih mampu menerima situasi yang belum jelas, mengelola emosi, dan menyesuaikan rencana ketika keadaan berubah. Mereka tetap bisa merasa takut, tetapi tidak selalu membiarkan rasa takut mengendalikan tindakannya.
2. Apakah nyaman hidup dalam ketidakpastian termasuk kepribadian tertentu?
Tidak selalu. Sikap tersebut dapat dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman hidup, pola pikir, kemampuan mengelola emosi, dan proses belajar. Toleransi terhadap ketidakpastian juga dapat dikembangkan melalui kebiasaan dan pengalaman sehari-hari.
3. Apa perbedaan menerima ketidakpastian dan bersikap pasrah?
Menerima ketidakpastian berarti memahami bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, tetapi tetap berusaha melakukan sesuatu yang memungkinkan. Sementara itu, pasrah dalam pengertian negatif dapat membuat seseorang berhenti berusaha meskipun masih ada tindakan yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.
4. Apakah terlalu memikirkan masa depan termasuk tanda tidak nyaman dengan ketidakpastian?
Bisa menjadi salah satu tandanya, terutama jika kekhawatiran muncul berulang kali dan sulit dikendalikan. Namun, memikirkan masa depan sebenarnya merupakan hal yang wajar. Kekhawatiran perlu diperhatikan ketika mulai mengganggu aktivitas, hubungan, tidur, atau pengambilan keputusan.
5. Bagaimana cara melatih diri agar lebih nyaman menghadapi ketidakpastian?
Mulailah dengan menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus segera memiliki jawaban. Latih mindfulness, kenali pikiran negatif yang berlebihan, fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, dan cobalah menghadapi perubahan kecil secara bertahap. Jika kecemasan terasa berat dan berkepanjangan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional.
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388777/original/057186300_1793680026-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373173/original/043570100_1791954492-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-14T120512.346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373717/original/089421500_1791973478-Cek_fakta_Bank_Mandiri_--.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4665617/original/086927100_1701140014-Ilustrasi_karyawan__bekerja__suasana_kantor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5094250/original/080892200_1736844864-prophsee-journals-OnFW5djcAYc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723189/original/060727400_1705921940-fotor-ai-20240122181141.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3074967/original/055589500_1584006686-20200312-Wall-Street-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4880407/original/032839300_1719840035-IFG_Life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5319153/original/007607300_1755506626-bansos.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388766/original/016149600_1793678808-b2e65bac-af9a-4def-8663-e95d5d0c67ef.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3371964/original/078810900_1612841275-agree-1238964_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388711/original/045376500_1793676902-pablo-merchan-montes-Orz90t6o0e4-unsplash__1_.jpg)