Dolar AS Menguat, Mendag Waspadai Harga Kedelai dan Minyak Goreng

Penguatan dolar AS berpotensi kerek harga kedelai dan minyak. Kemendag perkuat distribusi pangan antardaerah demi seimbangkan pasokan.

Diterbitkan 03 November 2026, 15:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso tak menampik bahwa penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah komoditas impor, seperti kedelai dan minyak goreng. Guna meredam dampaknya, pemerintah memilih mengencangkan sabuk distribusi dan meratakan pasokan ke seluruh daerah.

"Ya, pasti kalau dolar pasti beberapa itu berpengaruh,” ujar Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (3/11/2026).

Budi menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menjamin kelancaran arus barang agar kebutuhan pangan di setiap wilayah terpenuhi tanpa terkendala ketimpangan pasokan.

"Kita ingin meneruskan terutama dari sisi distribusinya. Jadi, biar pemerataan masing-masing daerah yang dibutuhkan itu bisa," jelasnya.

Stabilkan Harga Cabai

Di luar isu penguatan dolar AS, Budi menilai harga mayoritas bahan pokok di pasaran sebenarnya masih relatif stabil. Kendati demikian, ia memberi catatan pada komoditas cabai yang harganya sempat melonjak akibat penurunan hasil panen yang terimbas faktor cuaca.

Sebagai langkah konkret, pemerintah bergerak cepat memasok 7 ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera untuk menutupi defisit pasokan di sana. Langkah serupa juga diterapkan pada komoditas telur ayam dengan merelokasi stok dari wilayah surplus ke area yang mencatatkan harga tinggi.

Ia mencatat, harga rata-rata nasional telur saat ini berada di angka Rp 26.400 per kilogram, masih jauh di bawah harga acuan penjualan yang dipatok Rp 30.000 per kilogram. Pemerintah optimistis pemerataan logistik ini sanggup menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen sekaligus melindungi keberlangsungan usaha para peternak.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6