Tertekan Geopolitik dan Demonstrasi, Rupiah Layu ke 18.147 per Dolar AS

Rupiah ditutup melemah 10 poin ke level 18.147 per dolar AS. Eskalasi ketegangan politik domestik jadi penekan utama mata uang Garuda.

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 16:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan sore ini. Rupiah turun 10 poin ke level 18.147 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 18.137 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Indonesia, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa rupiah sempat bergerak menguat 35 poin hingga mencapai level 18.147 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup melemah.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 10 poin setelah sebelumnya sempat menguat 35 poin di level Rp 18.147 dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.137," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).

Adapun sejumlah faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah, di antaranya pasar kembali bergejolak setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, memberikan penjelasan kepada Presiden Donald Trump mengenai opsi militer terhadap Iran di Gedung Putih pada hari Kamis, bersama dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan sejumlah pejabat senior lainnya.

Menurut laporan tersebut, pertemuan itu membahas blokade yang terus dilakukan oleh AS serta kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar. Trump telah mengisyaratkan bahwa serangan baru mungkin terjadi setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.

"Pada hari Rabu, saat ditanya apakah ia merencanakan serangan tambahan, Trump menyatakan bahwa 'segala kemungkinan bisa terjadi.' Perkembangan ini telah meredupkan harapan akan penyelesaian diplomatik, bahkan di saat Washington tengah berupaya menjalin kontak baru dengan Teheran untuk menghidupkan kembali negosiasi yang bertujuan mengakhiri konflik," ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance telah menghubungi pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei, dalam upaya untuk menghidupkan kembali negosiasi, sementara pihak penengah tengah menyusun kerangka kerja yang mungkin digunakan untuk mengakhiri konflik tersebut.

Sementara Indeks Harga PCE inti, yang tidak mencakup sektor makanan dan energi, naik 0,3% secara bulanan. Secara tahunan, inflasi inti naik menjadi 3,1% dari 3,0% di bulan Agustus, sesuai dengan perkiraan.

Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga tercatat tumbuh 3,4% secara tahunan, melampaui perkiraan sebesar 3,2% dan meningkat dari 2,2% pada kuartal sebelumnya. Hal tersebut memperkuat ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga pada bulan Desember, CME FedWatch Tool bahkan menunjukkan probabilitas kenaikan sebesar 83%.

 

Faktor Internal

Ibrahim menilai, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh ketegangan politik yang terus berlanjut di tengah aksi protes mahasiswa di berbagai kota besar sejak awal Oktober, yang menjadi salah satu faktor penambah ketidakpastian ekonomi Indonesia.

Aksi demonstrasi tersebut mencerminkan adanya ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran hutan, persoalan lingkungan, serta penggunaan anggaran negara untuk berbagai program pemerintah.

Oleh karena itu, perkembangan politik ini perlu diperhatikan karena stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional. Pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan masyarakat, mengevaluasi kebijakan yang menjadi tuntutan demonstran, serta menjaga agar aksi penyampaian pendapat berlangsung aman dan kondusif.

"Apabila ketegangan politik dapat dikelola dengan baik, kepercayaan investor diharapkan dapat kembali pulih. Sebaliknya, jika situasi terus berlarut-larut, tekanan terhadap rupiah, IHSG, investasi, dan perekonomian Indonesia berpotensi semakin besar," ujarnya.

Kemudian, kekhawatiran inflasi semakin meningkat menjelang pengumuman data inflasi Oktober pekan depan. Hal ini menjadi perhatian pelaku pasar karena inflasi yang tinggi dapat memengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam menentukan suku bunga.

"Secara sederhana, jika harga barang dan kebutuhan pokok terus naik, daya beli masyarakat akan melemah. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dapat membuat biaya produksi serta harga barang semakin mahal," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6