Rupiah Menguat ke 18.123 terhadap Dolar AS, Begini Prediksi Mata Uang Garuda Hari Ini

Ekonom menuturkan, investor yang menurunkan prospek terhadap kenaikan suku bunga the Fed berdampak terhadap rupiah.

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 11:07 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bangkit pada pembukaan perdagangan Jumat, (30/10/2026). Ekonom menilai, rupiah menguat terhadap dolar AS didorong penilaian investor mengenai pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026 yang menunjukkan sinyal lebih dovish.

Mengutip Antara, rupiah dibuka naik 14 poin atau 0,08% menjadi 18.123 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya 18.137 per dolar AS.

"Fed tidak memberikan sinyal yang jelas mengenai potensi kenaikan suku bunga pada Desember 2026, sehingga investor menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," tutur Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengutip Antara.

Dalam FOMC, The Federal Reserve (the Fed) mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 3,75-4,00 %, sesuai dengan ekspektasi konsensus.

Di samping itu, The Fed tidak memberikan indikasi yang jelas mengenai kemungkinan kenaikan kembali suku bunga kebijakan pada Desember 2026, dengan menekankan keputusan kebijakan ke depan akan bergantung pada perkembangan data dan diarahkan untuk membawa inflasi kembali ke target 2%.

Sentimen lainnya berasal dari rilis indikator inflasi yang menjadi acuan utama Fed, yaitu PCE Price Index dan Core PCE Price Index, masing-masing meningkat menjadi 3,6% year on year (yoy) dan 3,1% yoy pada September 2026, sejalan dengan ekspektasi konsensus.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III 2026 meningkat menjadi 3,4 persen quarter over quarter (qoq) dari 2,2 persen qoq pada kuartal sebelumnya, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 3,2% qoq.

Berdasarkan sentimen itu, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp 18.075-Rp 18.200 per dolar AS.

 

Rupiah Tertekan ke 18.137 per Dolar AS Tersengat Sentimen The Fed

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih betah di kisaran 18.100 pada perdagangan Kamis, (29/10/2026). Analis menilai, koreksi rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi pernyataan arah kebijakan the Federal Reserve (the Fed) dan perkembangan ekonomi setelah agenda Federal Open Market Committee (FOMC).

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup turun 47 poin atau 0,26% menjadi 18.137 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya 18.184 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level 18.128 per dolar AS dari sebelumnya 18.183 per dolar AS.

“The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75 - 4,00 persen pada 28 Oktober waktu AS. Namun, inflasi AS yang masih tinggi dan belum adanya kepastian mengenai kebijakan suku bunga selanjutnya membuat pergerakan dolar AS tetap sensitif terhadap data ekonomi dan imbal hasil obligasi AS,” ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengutip Antara.

Mengutip Anadolu, FOMC menyetujui keputusan tersebut melalui pemungutan suara dengan hasil 10 banding 2. Langkah ini diambil untuk mendukung mandat ganda bank sentral, yaitu mencapai tingkat penyerapan tenaga kerja maksimal dan menjaga stabilitas harga.

Di samping itu, Ketua The Fed Kevin Warsh memperingatkan inflasi masih terlalu tinggi setelah terus berada di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral selama hampir enam tahun. Ia menegaskan kesiapan untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna memulihkan stabilitas harga.

“Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arus modal asing, kebutuhan dolar di dalam negeri, serta rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) AS yang dijadwalkan malam ini,” ungkap Amru.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6