Analis Ungkap Strategi Pilih Saham di Tengah Gejolak IHSG

Analis menyarankan investor lebih selektif memilih saham fundamental kuat di tengah tekanan rupiah dan ketidakpastian MSCI.

Diterbitkan 29 Oktober 2026, 11:25 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham Indonesia tengah bergejolak melemahnya nilai tukar rupiah serta ketidakpastian keputusan MSCI terkait potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Stand Alone Market pada Oktober 2026.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham. Menurutnya, investor perlu memperhatikan fundamental perusahaan secara mendalam sebelum mengambil keputusan investasi, bukan sekadar tergiur harga saham yang telah terkoreksi.

Hendra menyebutkan sejumlah indikator utama yang perlu dicermati investor mencakup kondisi fundamental, arus kas, tingkat utang, hingga valuasi saham. Faktor-faktor tersebut krusial untuk menilai prospek investasi di tengah tekanan pasar.

"Di tengah volatilitas tinggi, investor sebaiknya mencermati saham berdasarkan fundamental, arus kas, tingkat utang, dan valuasi, bukan semata-mata karena harganya sudah turun dalam," kata Hendra kepada Liputan6.com, Kamis (29/10/2026).

Dia menilai, saham-saham sektor perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masih sangat layak untuk dievaluasi.

"Saham perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI tetap layak dievaluasi dengan memperhatikan kualitas aset, pertumbuhan kredit, serta kemampuan menjaga profitabilitas," ujarnya.

Selain perbankan, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga dapat dicermati dari sisi kemampuan menghasilkan arus kas dan potensi pembagian dividen.

Sementara itu, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dapat menjadi pertimbangan investor dengan terus memantau pergerakan harga nikel serta prospek permintaan komoditas secara global.

 

Jangan Terburu-buru Membeli Saham Turun

Hendra mengingatkan bahwa penurunan harga saham tidak serta-merta menjadi sinyal bahwa saham tersebut sudah murah atau akan segera rebound.

"Saham-saham tersebut tidak otomatis akan segera naik karena tekanan pasar dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan," jelas Hendra.

Ia menyimpulkan, strategi yang paling rasional saat ini adalah melakukan pembelian secara bertahap (dollar-cost averaging), menjaga porsi dana tunai, menghindari penggunaan utang (margin), dan menyesuaikan portofolio dengan profil risiko masing-masing.