Saham Boeing Anjlok 11% Terburuk Sejak 2020

Saham Boeing anjlok 11% dalam sehari, tepat setelah perusahaan mengumumkan target produksi pesawat 737 mundur hingga paruh kedua 2027.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 14:24 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saham Boeing (BA) mengalami hari terburuk. Saham Boeing anjlok hampir 11% dalam satu hari perdagangan pada Selasa, 27 Oktober 2026, terburuk sejak Juni 2020. Penurunan tajam harga saham Boeing ini terjadi meski perusahaan sebenarnya mencatat arus kas bebas yang melampaui ekspektasi pasar pada kuartal ketiga.

Saham Boeing ditutup di level terendah sejak April 2025, bahkan sempat menyentuh level terendah dalam 52 pekan terakhir. Volume perdagangannya melonjak lebih dari empat kali lipat dari biasanya, membuat saham perusahaan ini kini turun lebih dari seperlima nilainya sepanjang tahun ini.

"Penjualan unit jet komersial Boeing sesuai perkiraan, tetapi margin keuntungannya lebih rendah sekitar 280 basis poin akibat kenaikan biaya," tulis analis JPMorgan, Seth Seifman, dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (28/10/2026).

Kuartal ketiga Boeing sebenarnya menunjukkan hasil yang beragam. Pendapatan perusahaan mencapai sekitar US$ 24 miliar atau Rp 436,27 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.180) dan arus kas bebas US$ 464 juta atau Rp 8,4 triliun, keduanya melampaui estimasi Bloomberg.

Namun, kerugian inti perusahaan mencapai US$ 0,34 per saham, setara Rp 6.178, lebih besar dari perkiraan analis sebesar US$ 0,21 per saham atau Rp 3.816. Unit jet komersial Boeing bahkan merugi sekitar US$ 700 juta atau Rp 12,7 triliun, kira-kira dua kali lipat dari proyeksi awal analis.

Margin keuntungan unit jet komersial Boeing tercatat kurang hampir tiga poin persentase dari target yang diharapkan. Investor menilai persoalan utama Boeing bukan lagi soal permintaan pasar, melainkan soal kecepatan produksi.

 

Target Produksi 737 Mundur ke Paruh Kedua 2027

Aksi jual saham semakin dalam setelah Boeing memaparkan rencana produksinya dalam panggilan laba kuartalan. Produksi pesawat 737 akan tetap bertahan di angka 47 unit per bulan hingga 2027.

Peningkatan produksi menjadi 52 unit per bulan baru akan terjadi pada paruh kedua 2027, jauh lebih lambat dari target sebelumnya. Boeing kini memperkirakan akan meleset sekitar 500 unit dari target pengiriman pesawat 737 tahun ini.

Pasokan mesin pesawat turut menjadi penentu utama laju produksi untuk pesawat tipe 787. Meski demikian, permintaan terhadap pesawat Boeing sebenarnya masih sangat tinggi.

Jumlah pesanan tertunda (backlog) Boeing mencatat rekor tertinggi mencapai US$ 745 miliar atau Rp 13.537 triliun. Angka ini mencakup lebih dari 6.300 unit jet yang masih menunggu pengiriman dari perusahaan.

Bisnis Jet Komersial Masih Sulit Capai Titik Impas

Bisnis jet komersial Boeing hanya untung dalam 1 dari 18 kuartal terakhir. Para analis masih memperkirakan unit bisnis ini akan mendekati titik impas pada awal 2027.

Target tersebut sepenuhnya bergantung pada laju peningkatan produksi yang lebih lambat dari rencana. Harga saham Boeing sendiri sebagian besar diperdagangkan antara US$ 150-250 sejak 2020, setara Rp 2,7-4,5 juta, dengan batas atas pertama US$ 210 atau Rp 3,8 juta jika terjadi pemulihan harga.

Data pengiriman Boeing Oktober yang dirilis bulan depan akan menentukan apakah lini produksi 737 benar-benar bisa bertahan di angka 47 unit per bulan sesuai rencana terbaru perusahaan.

Â