Liputan6.com, Lampung - Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau dilaporkan menyelimuti permukiman warga Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan. Namun, data yang diterima Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan justru tidak mencatat adanya erupsi sejak 22 Oktober 2026.
Kondisi itu menjadi perhatian karena abu vulkanik dilaporkan mencapai rumah-rumah warga hingga menempel tebal pada kendaraan. Sementara itu, pemantauan visual Gunung Anak Krakatau juga mengalami kendala akibat abu vulkanik yang menutupi kamera pengawas (CCTV) hingga panel surya.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, data yang diterimanya dari Pos Pengamatan Pasauran, Banten, hanya menunjukkan aktivitas berupa embusan dalam periode tersebut.
Advertisement
"Dari tanggal 22 sampai sekarang itu enggak ada letusan, di situ adalah embusan-embusan aja," kata Suwarno saat dikonfirmasi, Rabu (28/10/2026).
Dia menjelaskan, Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan menerima laporan aktivitas gunung dari Pasauran secara berkala setiap enam jam. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada pihak terkait.
"Jadi kita cuma dapat data dari sana saja, tiap enam jam," ujarnya.
Suwarno menegaskan, pos pengamatan di Lampung Selatan menjalankan fungsi pemantauan berdasarkan data dari Pasauran. Pos tersebut tidak memiliki perangkat pengamatan mandiri seperti yang tersedia di pos pengamatan di Banten.
Sementara itu, laporan tidak tercatatnya erupsi tersebut muncul di tengah keluhan warga Pulau Sebesi yang terdampak sebaran abu vulkanik.
Sekretaris Desa Tejang Pulau Sebesi, Riko Iswanto, sebelumnya mengatakan abu vulkanik mulai mencapai permukiman warga sekitar pukul 14.00 WIB pada Senin, 26 Oktober 2026.
Abu bahkan menempel cukup tebal pada kendaraan warga. Hingga Selasa, abu masih ditemukan di lingkungan permukiman, meski intensitasnya disebut mulai berkurang dibandingkan sehari sebelumnya.
"Kalau kemarin siang itu lumayan parah. Di motor debunya tebal benar. Saya juga sempat tidur, tetapi pas bangun sudah mulai ada debu," kata Riko dikonfirmasi Liputan6.com, Selasa (27/10/2028).
Di sisi lain, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Deny Mardiono, menjelaskan pemantauan visual mengalami kendala setelah abu vulkanik menutupi panel surya.
Akibatnya, pengisian daya peralatan tidak berjalan optimal sehingga kamera pengawas atau CCTV tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
“Ya, peralatan kami saat ini terkendala untuk memantau secara visual,” kata Deny.
Meski demikian, Deny menyebut instrumen seismik masih dapat beroperasi di tengah gangguan pengamatan visual tersebut.
Suwarno mengatakan aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih tercatat. Namun, data gempa tidak serta-merta dapat digunakan untuk memastikan terjadinya erupsi tanpa didukung data pengamatan yang sesuai.
“Kalau kegempaannya ada terus, terdata. Iya, data-datanya ada,” ujar Suwarno.
Dengan kondisi tersebut, catatan kegempaan, hembusan, dan erupsi perlu dibedakan berdasarkan hasil pemantauan instrumen serta pengamatan yang tersedia.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati gunung dalam radius 5 kilometer dari pusat aktivitas.
Warga juga diimbau mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi instansi terkait.
CCTV Pemantau Gunung Anak Krakatau Terkendala Abu
Di tengah laporan abu vulkanik yang mencapai permukiman Pulau Sebesi, pemantauan visual Gunung Anak Krakatau juga mengalami kendala. Abu yang menutupi panel surya menyebabkan pengisian daya peralatan pemantauan tidak optimal.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten, Deny Mardiono, membenarkan adanya aktivitas erupsi. Namun, peralatan visual di lokasi pengamatan belum dapat berfungsi secara optimal.
"Ya, peralatan kami saat ini terkendala untuk memantau secara visual," kata Deny, Selasa (27/10/2026).
Dia menjelaskan, abu vulkanik yang menutupi panel surya mengganggu pengisian daya sehingga kamera pengawas atau CCTV tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya.
"Dikarenakan tertutup abu vulkanik sehingga pengisian catu daya tidak optimal untuk menghidupkan peralatan," ungkapnya.
Meski pemantauan visual terganggu, peralatan seismik masih berfungsi untuk merekam aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan pengamatan periode pukul 12.00-18.00 WIB pada Selasa, tercatat satu gempa frekuensi rendah, dua gempa hybrid, serta tremor menerus dengan amplitudo dominan 5 milimeter.
Sementara itu, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, sebelumnya menyebut aktivitas erupsi yang terlihat dalam video tidak terdeteksi oleh peralatan pengamatan di posnya maupun di Pulau Sebesi.
"Mungkin (erupsi), karena di kami alat kami tidak terdeteksi. Bahkan di alat pengamatan di Pulau Sebesi pun tak teramati," kata Suwarno.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384221/original/069034000_1793161865-Screenshot_2026-10-28_111726.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291533/original/094652600_1783567822-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T102907.971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5150531/original/011713400_1741077091-Kuda1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370019/original/097624000_1791544375-asap.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384476/original/097543500_1793173698-IMG-20261027-WA0104.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384456/original/065692700_1793172258-20261028_125743.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384368/original/043917900_1793168462-WhatsApp_Image_2026-10-28_at_12.52.511.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384359/original/033163200_1793168006-IMG_20261028_130317.jpg)