6 Ciri Orang yang Tak Tega Membuang Makanan Menurut Psikologi, Lebih dari Sekadar Hemat

Berikut 6 ciri orang yang tidak suka membuang makanan meski hanya tersisa sedikit menurut sudut pandang psikologi.

Diterbitkan 03 November 2026, 11:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Apakah Anda pernah bertanya-tanya ciri orang yang tidak suka membuang makanan meski hanya tersisa sedikit? Ada beberapa orang yang sulit sekali melihat makanan tersisa di piring atau di rumah, meskipun porsinya nyaris tak seberapa. Mereka terasa berat untuk membuang sisa makanan dan tak jarang memilih untuk memaksa menghabiskannya meskipun sudah terasa kenyang atau mencari cara untuk menyimpannya.

Bagi mereka, membuang sisa makanan, walaupun hanya sedikit, adalah hal yang mubazir. Beberapa juga berpendapat bahwa membuang-buang makanan itu tidak etis, khususnya saat masih ada orang yang kesulitan mencari makan. Akan tetapi, ternyata ada sisi psikologis yang lebih dalam yang menjelaskan soal kebiasaan ini.

Pada artikel ini, Anda akan melihat beberapa ciri orang yang tidak suka membuang makanan meski hanya tersisa sedikit menurut psikologis, seperti yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (3/11/2026). Mari simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

1. Punya Keengganan Kuat terhadap Pemborosan

Ciri pertama adalah keengganan yang kuat terhadap pemborosan makanan. Saat melihat nasi atau lauk yang tersisa di meja makan, yang ia lihat bukanlah "ini sampah", melainkan "ini masih bisa dimakan nanti".

Kebiasaan ini biasanya tertanam sejak kecil melalui kebiasaan keluarga yang menekankan pentingnya menghargai makanan yang tersedia. Seiring waktu, pola pikir tersebut berkembang menjadi semacam standar pribadi yang terus terbawa hingga mereka dewasa, membuat mereka merasa tidak nyaman setiap kali melihat makanan yang sebenarnya masih layak terbuang begitu saja.

2. Cenderung Hemat sekaligus Teliti, Ciri yang Sering Menyertai

Orang yang tak tega membuang makanan biasanya adalah seorang yang hemat dan teliti. Mereka bukannya pelit, tetapi mereka hanya terbiasa untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dengan semaksimal mungkin. Mereka tidak ingin ada yang mubazir.

Jika mengacu pada pada teori kepribadian Big Five, ini ada kaitannya dengan sifat conscientiousness atau kecermatan. Orang yang cermat biasanya terorganisir, disiplin, dan berpikir panjang sebelum bertindak. Orang dengan sifat ini biasanya merencanakan belanja dan konsumsi makanan dengan lebih matang, sehingga kecil kemungkinan bahan makanan berakhir terbuang karena lupa atau tidak terpakai.

Selain itu, sifat ini juga memiliki kaitan dengan sifat frugality atau sifat hemat dalam teori yang sama. Sifat ini mendorong seseorang untuk memaksimalkan nilai dari setiap sumber daya yang dimiliki, termasuk makanan. Ketika conscientiousness dan frugality bertemu, keduanya saling memperkuat satu sama lain. Kecermatan membuat seseorang lebih sadar akan apa yang ia punya, sementara kehematan mendorongnya untuk benar-benar memanfaatkan semuanya tanpa sisa.

3. Peka terhadap Rasa Kehilangan

Ada ciri yang jarang dibahas, yaitu kepekaan terhadap rasa kehilangan atas makanan yang sudah dimiliki. Begitu bahan makanan dibeli dan diolah menjadi hidangan, nilainya terasa melekat kuat di benak pemiliknya. Membuang sisa makanan pun terasa seperti melepaskan sesuatu yang sudah susah payah diusahakan.

Konsep ini memiliki keterikatan dengan teori loss aversion yang dikembangkan Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Teori ini menjelaskan bahwa rasa kehilangan terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kenikmatan dari jumlah keuntungan yang setara. Richard Thaler memperkuat gagasan ini melalui konsep endowment effect, di mana seseorang cenderung menilai suatu barang lebih tinggi semata-mata karena barang itu sudah menjadi miliknya.

Kecenderungan ini biasanya lebih kuat pada mereka yang pernah mengalami hidup dalam keterbatasan. Kebiasaan berhemat semasa merantau atau kuliah, misalnya, dapat menanamkan scarcity mindset yang terbawa hingga dewasa. Sepotong roti yang tersisa pun akhirnya terasa terlalu berharga untuk dibuang begitu saja.

4. Punya Kompas Moral, Membuang Makanan Terasa "Salah"

Bagi sebagian orang, membuang makanan menyentuh wilayah moral. Muncul rasa bersalah, seolah melanggar prinsip yang dipegang sejak lama. Makanan dipandang sebagai hasil kerja banyak pihak, dari petani sampai yang memasak di rumah.

Berdasarkan pengembangan skala Motivation to Avoid Food Waste (MAFW) yang dipublikasikan di ScienceDirect, ada empat motivasi utama menghindari pemborosan. Keempatnya adalah motivasi lingkungan, moral, finansial, dan sosial. Motivasi moral muncul lewat perasaan bersalah saat makanan disia-siakan. Ini sejalan dengan Norm Activation Theory dari Schwartz, ketika kesadaran akan konsekuensi membentuk norma pribadi.

Kamu mungkin merasa tidak enak hati melihat nasi kotak sebuah acara dibuang beramai-ramai. Atau kamu teringat pesan orang tua, "mubazir itu tidak baik". Bahkan sebuah studi neuroimaging menemukan sebagian orang memandang perbuatan membuang makanan sebagai sesuatu yang nyaris menjijikkan secara moral.

Baca juga: menghabiskan makanan di piring menurut psikologi.

5. Jago Merencanakan dan Menyulap Makanan Sisa

Selain karena dorongan perasaan, kebiasaan tidak membuang makanan juga bisa lahir dari keterampilan praktis. Sebagian orang memang terbiasa mengelola dapur dengan rapi, mulai dari menentukan menu, memperkirakan porsi, hingga memikirkan cara memanfaatkan bahan yang masih tersisa agar tidak terbuang percuma.

Kemampuan ini biasanya terbentuk dari kebiasaan yang diasah terus-menerus, baik lewat pengalaman pribadi maupun kebiasaan yang diturunkan di rumah. Semakin sering seseorang memasak dan mengatur stok bahan makanan, semakin peka pula ia dalam menilai apa yang masih layak diolah ulang dan apa yang benar-benar harus disingkirkan.

Keterampilan ini terlihat jelas dari cara seseorang menyikapi sisa makanan di dapur. Nasi semalam diolah kembali menjadi hidangan baru yang tetap menggugah selera, sementara potongan sayur atau lauk yang tersisa dipadukan menjadi menu sederhana namun tetap layak santap, sehingga dapur jarang menyisakan bahan yang benar-benar terbuang.

6. Penuh Rasa Syukur dan Makan dengan Sadar

Ciri terakhir berkaitan erat dengan cara seseorang memaknai momen makan itu sendiri. Mereka yang terbiasa makan dengan penuh kesadaran cenderung lebih menghargai setiap hidangan yang ada di hadapannya, sehingga muncul dorongan alami untuk tidak menyisakannya begitu saja.

Kesadaran ini biasanya tumbuh dari kebiasaan memperlakukan waktu makan sebagai momen yang berarti, bukan semata-mata rutinitas harian saja. Ketika seseorang benar-benar fokus pada apa yang sedang disantap, ia jadi lebih peka terhadap nilai dari makanan tersebut, mulai dari rasa, tekstur, hingga usaha di balik proses penyajiannya.

Pola ini sering terlihat dari cara seseorang menikmati makanan tanpa terburu-buru, misalnya meluangkan waktu sejenak sebelum mulai makan atau benar-benar menikmati setiap suap tanpa terganggu aktivitas lain. Dari situ, muncul rasa enggan menyisakan makanan, karena setiap porsi terasa terlalu berarti untuk dibiarkan terbuang sia-sia.

Pertanyaan Seputar Kebiasaan Tidak Membuang Sisa Makanan

Apakah tidak suka membuang makanan berarti pasti hemat?

Belum tentu. Kebiasaan ini dipengaruhi banyak faktor, seperti nilai moral, pola asuh, keterampilan mengelola makanan, sampai kepedulian pada lingkungan. Jadi, hemat hanyalah salah satu kemungkinan, bukan satu-satunya penjelasan.

Apakah menyimpan makanan sisa termasuk gangguan psikologis?

Pada umumnya tidak. Menyimpan makanan yang masih layak adalah hal normal, bahkan positif. Yang perlu diwaspadai adalah bila penumpukan tak terkendali, mengabaikan keamanan pangan, dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Bagaimana cara menyimpan makanan sisa agar tetap aman?

Dinginkan makanan maksimal dua jam setelah dimasak, simpan dalam wadah tertutup rapat, dan konsumsi dalam beberapa hari. Perhatikan perubahan bau, warna, dan tekstur sebelum memakannya lagi.

Baca juga: makanan sisa yang masih layak