Sejarah Hari Suci Pagerwesi, Tradisi Umat Hindu Bali untuk Memperkuat Benteng Pengetahuan dan Iman

Sejarah Hari Suci Pagerwesi menyimpan makna mendalam bagi umat Hindu Bali. Kenali asal-usul, hubungan dengan Saraswati, serta tradisi memagari diri.

Diterbitkan 03 November 2026, 14:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di Bali, ada sejumlah hari suci yang perayaannya berkaitan erat dengan pengetahuan, kehidupan spiritual, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Salah satunya adalah Hari Suci Pagerwesi. Perayaan ini memiliki makna yang cukup dalam karena mengingatkan umat Hindu untuk menjaga diri dengan ilmu pengetahuan dan memperkuat keyakinan.

Nama Pagerwesi sendiri cukup menarik. Jika diartikan secara sederhana, kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu pager yang berarti pagar dan wesi yang berarti besi. Gabungan keduanya menggambarkan perlindungan yang kokoh, layaknya pagar besi yang menjaga sesuatu agar tidak mudah dirusak.

Namun, makna Pagerwesi tidak berhenti pada simbol perlindungan secara fisik. Dalam ajaran Hindu, hari suci ini berkaitan dengan pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru, Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai guru tertinggi. Ada pula pesan tentang pentingnya menghormati guru, menjaga pengetahuan, serta menggunakan ilmu untuk tujuan yang baik.

Lantas bagaimana sejarah Hari Suci Pagerwesi tradisi umat Hindu Bali untuk memperkuat benteng pengetahuan dan iman? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (3/11/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

Sejarah Hari Suci Pagerwesi dalam Tradisi Hindu Bali

Pembahasan mengenai sejarah Hari Suci Pagerwesi tidak bisa dilepaskan dari tradisi sastra keagamaan Hindu di Bali. Salah satu rujukan yang menjelaskan perayaan ini adalah Lontar Sundarigama, yang memuat tuntunan mengenai hari-hari suci dan pelaksanaan upacara keagamaan.

Dalam lontar tersebut, Pagerwesi disebut jatuh pada Budha Kliwon Wuku Shinta. Hari itu menjadi waktu pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga. Penjelasan ini juga dimuat dalam artikel Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) berjudul Hakikat Pagerwesi dan Kaitannya dengan Catur Purusa Artha.

Artinya, Pagerwesi bukan sekadar perayaan yang diwariskan sebagai kebiasaan tahunan. Ada landasan keagamaan dan filosofi yang menyertainya. Pemujaan kepada Tuhan sebagai guru tertinggi menjadi bagian penting dari perayaan tersebut.

Dalam perkembangannya, masyarakat Hindu Bali mempertahankan Pagerwesi sebagai salah satu hari suci yang mengikuti perhitungan kalender Pawukon. Tradisi ini terus menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat hingga sekarang.

Arti Nama Pagerwesi yang Melambangkan Perlindungan Kuat

Nama Pagerwesi memiliki arti yang sederhana, tetapi menyimpan pesan yang cukup luas. Kata pager berarti pagar, sedangkan wesi berarti besi. Jika digabungkan, keduanya menggambarkan pagar besi yang kuat untuk melindungi sesuatu yang dianggap berharga.

Dalam konteks keagamaan, sesuatu yang perlu dijaga bukan hanya tubuh atau harta benda, melainkan juga pikiran, keyakinan, dan pengetahuan. Manusia membutuhkan pegangan agar tidak mudah terbawa oleh hal-hal yang dapat menjauhkan dirinya dari kebaikan.

PHDI menjelaskan bahwa Pagerwesi sering dimaknai sebagai hari untuk magehang awak, yakni memagari atau memperkuat diri. Perlindungan yang dimaksud tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga tumbuh melalui pengetahuan dan kesadaran spiritual.

Dengan demikian, Pagerwesi mengingatkan bahwa manusia perlu memiliki prinsip hidup yang kuat. Ilmu pengetahuan menjadi salah satu bekal untuk memahami kehidupan sekaligus membedakan tindakan yang baik dan buruk.

Sang Hyang Pramesti Guru Menjadi Pusat Pemujaan Pagerwesi

Salah satu hal yang membedakan Pagerwesi dari beberapa hari suci lainnya adalah sosok yang menjadi pusat pemujaan, yaitu Sang Hyang Pramesti Guru. Dalam tradisi Hindu Bali, sebutan ini merujuk pada Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai guru alam semesta atau guru tertinggi.

Sang Hyang Pramesti Guru juga dikenal sebagai salah satu nama Dewa Siwa. Kedudukannya sebagai guru memiliki makna penting karena manusia membutuhkan tuntunan untuk menjalani kehidupan. Pengetahuan saja tidak selalu cukup jika tidak disertai pemahaman tentang bagaimana menggunakannya.

Karena itu, perayaan Pagerwesi menjadi kesempatan bagi umat untuk memohon tuntunan, keselamatan, dan keteguhan dalam menjalani kehidupan. Pemujaan ini juga mengandung penghormatan terhadap peran guru yang memberikan pengetahuan dan membimbing manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan tersebut terasa dekat dengan hubungan antara murid dan pengajar, anak dan orang tua, serta manusia dengan pembimbing spiritualnya. Setiap orang membutuhkan sosok yang dapat membantu menunjukkan arah ketika menghadapi berbagai persoalan.

Pagerwesi Diperingati Setiap 210 Hari Sekali

Tidak seperti perayaan yang mengikuti tanggal tetap dalam kalender Masehi, Hari Suci Pagerwesi menggunakan sistem kalender Pawukon. Perayaan ini jatuh setiap Budha Kliwon Wuku Shinta atau Rabu Kliwon pada Wuku Shinta.

Sistem Pawukon memiliki siklus 210 hari yang terbagi menjadi 30 wuku. Karena itu, Pagerwesi kembali diperingati setiap 210 hari sekali, bukan pada tanggal Masehi yang sama setiap tahun.

Perhitungan tersebut juga menjelaskan mengapa tanggal Pagerwesi bisa berubah jika dilihat berdasarkan kalender umum. Umat Hindu Bali mengikuti perhitungan hari berdasarkan sistem kalender tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan keagamaan mereka.

Dalam sejumlah penjelasan pemerintah daerah Bali, Pagerwesi juga disebut sebagai rerahinan gumi. Istilah ini merujuk pada hari suci yang diperuntukkan bagi seluruh umat, bukan hanya kalangan tertentu.

Memiliki Hubungan Erat dengan Hari Suci Saraswati

Pagerwesi tidak berdiri sendiri dalam rangkaian hari suci umat Hindu Bali. Perayaannya memiliki hubungan erat dengan Hari Saraswati yang dikenal sebagai hari pemujaan Dewi Saraswati, manifestasi Tuhan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Hari Saraswati jatuh pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, yakni hari terakhir dalam siklus 30 wuku. Setelah itu, rangkaian hari suci berlanjut memasuki Wuku Shinta.

Dalam rangkaian tersebut terdapat Banyu Pinaruh, Soma Ribek, dan Sabuh Mas sebelum akhirnya umat memperingati Pagerwesi pada Rabu Kliwon Wuku Shinta.

Hubungan ini memiliki pesan yang menarik. Jika Saraswati menjadi momentum untuk memuja dan menghormati anugerah ilmu pengetahuan, Pagerwesi mengingatkan manusia agar menjaga pengetahuan tersebut dengan baik. Ilmu yang telah diperoleh perlu digunakan secara bijaksana, bukan untuk merugikan orang lain.

Penjelasan mengenai hubungan rangkaian hari suci tersebut juga disampaikan oleh Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Buleleng. Sementara itu, BPK RI Perwakilan Provinsi Bali menguraikan bahwa pengetahuan perlu menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus membentuk kebijaksanaan.

Mengandung Pesan tentang Pentingnya Menghormati Guru

Selain berkaitan dengan ilmu pengetahuan, Pagerwesi juga mengingatkan umat tentang pentingnya menghormati guru. Dalam ajaran Hindu dikenal konsep Catur Guru yang menjelaskan empat sosok guru dalam kehidupan manusia.

Keempatnya adalah Guru Rupaka, yaitu orang tua yang melahirkan dan membesarkan; Guru Pengajian, yakni guru yang memberikan pendidikan; Guru Wisesa, yaitu pemerintah atau pemimpin yang menjalankan kewenangan; serta Guru Swadhyaya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru sejati.

Keempat sosok tersebut memiliki peran berbeda, tetapi sama-sama memberikan tuntunan dalam kehidupan. Orang tua mengajarkan nilai-nilai dasar, guru memberikan pengetahuan, pemimpin mengatur kehidupan bersama, sedangkan Tuhan menjadi sumber tuntunan spiritual.

Dalam kaitannya dengan Pagerwesi, penghormatan terhadap guru bukan hanya diwujudkan melalui ucapan atau sikap sopan. Lebih dari itu, manusia diharapkan mampu menghargai ilmu yang diberikan dan menerapkannya dalam tindakan sehari-hari.

Pesan ini membuat Pagerwesi memiliki relevansi yang luas. Menghormati guru berarti juga menghargai proses belajar dan tidak menyia-nyiakan pengetahuan yang telah diperoleh.

Persembahyangan dan Yoga Samadhi Menjadi Bagian dari Perayaan

Perayaan Pagerwesi umumnya diisi dengan persembahyangan dan menghaturkan persembahan kepada Tuhan. Umat Hindu dapat melaksanakannya di pura, sanggah, maupun merajan atau tempat suci keluarga di lingkungan rumah.

Dalam penjelasan PHDI mengenai hakikat Pagerwesi, persembahyangan biasanya dilakukan pada pagi hingga siang hari. Ada pula tuntunan dalam sastra yang menganjurkan pelaksanaan yoga dan samadhi pada tengah malam sebagai bentuk pemusatan pikiran dan pendalaman spiritual.

Pelaksanaan upacara juga memiliki perlengkapan persembahan atau banten. Bentuk dan kelengkapannya dapat berbeda sesuai dengan kedudukan serta tradisi pelaksanaan upacara.

Hal yang perlu dipahami, perayaan Pagerwesi tidak semata-mata dilihat dari banyaknya perlengkapan upacara. Inti yang ingin dijaga adalah ketulusan dalam bersembahyang, penghormatan kepada guru, serta usaha memperkuat diri melalui pengetahuan dan kehidupan spiritual.

Makna Pagerwesi Tetap Relevan dalam Kehidupan Masa Kini

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi informasi, makna Pagerwesi terasa semakin dekat dengan keseharian. Manusia bisa memperoleh pengetahuan dari banyak sumber, tetapi tidak semua informasi dapat diterima begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Pesan tentang memagari diri dapat dimaknai sebagai ajakan untuk memiliki prinsip, menjaga pikiran, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui banyak hal, tetapi juga perlu memahami dampak dari setiap tindakan yang dilakukan.

Nilai tersebut sejalan dengan filosofi Pagerwesi yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai perlindungan. Pengetahuan membantu manusia mengenali mana yang benar, mempertimbangkan keputusan, serta menghindari tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Pada akhirnya, Pagerwesi bukan hanya tentang rangkaian persembahyangan dalam kalender keagamaan. Ada pengingat yang lebih luas di baliknya, yakni bahwa manusia perlu terus belajar, menghormati guru, dan menjaga keyakinan agar tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Sejarah Hari Suci Pagerwesi

1. Apa yang dimaksud dengan Hari Suci Pagerwesi?

Hari Suci Pagerwesi merupakan salah satu hari raya umat Hindu, khususnya yang dirayakan di Bali. Perayaan ini menjadi momentum untuk memuja Sang Hyang Pramesti Guru serta memperkuat pengetahuan, keyakinan, dan perlindungan diri secara spiritual.

2. Apa arti kata Pagerwesi?

Pagerwesi berasal dari kata pager yang berarti pagar dan wesi yang berarti besi. Secara filosofis, istilah ini menggambarkan benteng perlindungan yang kuat untuk menjaga diri, pikiran, dan keyakinan.

3. Bagaimana sejarah Hari Suci Pagerwesi?

Tradisi Pagerwesi memiliki landasan dalam sastra keagamaan Hindu, salah satunya Lontar Sundarigama. Di dalamnya dijelaskan bahwa Pagerwesi merupakan hari pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru dan diperingati pada Budha Kliwon Wuku Shinta.

4. Kapan Hari Suci Pagerwesi dirayakan?

Pagerwesi dirayakan setiap Budha Kliwon Wuku Shinta dalam kalender Pawukon. Karena kalender tersebut memiliki siklus 210 hari, Pagerwesi juga kembali diperingati setiap 210 hari sekali.

5. Siapa yang dipuja saat Hari Suci Pagerwesi?

Umat Hindu memuja Sang Hyang Pramesti Guru, yaitu manifestasi Tuhan sebagai guru tertinggi. Pemujaan ini berkaitan dengan permohonan tuntunan, perlindungan, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6