Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang merasa rumahnya semakin penuh meskipun sudah berkali-kali membeli tempat penyimpanan atau merapikan barang. Lemari dipenuhi pakaian yang jarang digunakan, meja menumpuk berbagai benda, sementara sudut ruangan perlahan berubah menjadi tempat menyimpan barang yang belum tentu dibutuhkan. Kondisi tersebut terkadang membuat aktivitas sehari-hari terasa kurang nyaman.
Salah satu pendekatan yang bisa dicoba untuk mengatasi masalah tersebut adalah Danshari, sebuah filosofi merapikan rumah dari Jepang yang mengajarkan pentingnya menolak barang yang tidak diperlukan, membuang benda yang sudah tidak berguna, serta melepaskan keterikatan terhadap kepemilikan. Menariknya, pendekatan ini juga mengajak seseorang mengevaluasi kebiasaan dan pola pikir agar lebih selektif dalam menjalani kehidupan.
Apa Itu Danshari, Metode Merapikan Rumah dari Jepang?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388063/original/048053400_1793598000-1bba4bdc-91a4-4552-99ef-8ef3cc8b9155.jpg)
Danshari (断捨離) merupakan konsep merapikan kehidupan dengan mengurangi barang-barang yang tidak lagi dibutuhkan sekaligus melepaskan keterikatan berlebihan terhadap benda. Metode ini diperkenalkan oleh Hideko Yamashita yang mengembangkan pendekatan tersebut menjadi metode penataan kehidupan sehari-hari.
Berbeda dari kegiatan bersih-bersih biasa, Danshari tidak hanya berfokus pada bagaimana membuat rumah terlihat rapi. Pendekatan ini mengajak seseorang mengevaluasi hubungan dengan barang yang dimiliki. Pertimbangannya bukan sekadar apakah suatu benda masih bisa digunakan, melainkan apakah benda tersebut benar-benar dibutuhkan dan memberikan manfaat dalam kehidupan saat ini.
Dalam praktiknya, Danshari mengajak seseorang untuk lebih sadar ketika membeli, menyimpan, maupun membuang barang. Dengan begitu, rumah tidak dipenuhi benda yang hanya menumpuk tanpa fungsi jelas. Ruang yang tersedia pun bisa digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting.
Advertisement
Asal-usul Danshari dan Filosofi yang Melatarbelakanginya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304501/original/087497500_1784717476-44669.webp)
Konsep Danshari dikembangkan oleh Hideko Yamashita setelah mengenal filosofi praktik yoga ketika masih menjadi mahasiswa. Ia mendapatkan inspirasi dari tiga prinsip dalam yoga, yakni Dangyo, Shagyo, dan Rigyo, yang kemudian diterapkan dalam kegiatan merapikan barang dan kehidupan sehari-hari.
Danshari kemudian dikenal sebagai pendekatan yang menghubungkan kegiatan merapikan rumah dengan proses mengenali diri sendiri. Seseorang diajak memahami alasan mempertahankan suatu barang, termasuk apakah benda tersebut masih dibutuhkan atau hanya disimpan karena rasa sayang, kebiasaan, maupun kekhawatiran akan membutuhkannya suatu saat nanti.
Istilah Danshari sendiri bukan sekadar kata dalam bahasa Jepang yang berarti membuang barang. Istilah tersebut merupakan ciptaan Hideko Yamashita dan bukan istilah agama Buddha, meskipun inspirasinya berkaitan dengan filosofi yoga.
Memahami Tiga Prinsip Utama Danshari
Sesuai namanya, Danshari terdiri dari tiga prinsip yang saling berkaitan, yaitu Dan, Sha, dan Ri. Masing-masing memiliki makna tersendiri dan menjadi dasar dalam menerapkan filosofi ini.
1. Dan (断): Menolak Barang yang Tidak Dibutuhkan
Prinsip pertama adalah Dan, yang berarti menolak atau menghentikan masuknya barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Artinya, proses merapikan rumah sebaiknya dimulai sebelum barang memenuhi setiap sudut ruangan.
Contohnya, seseorang perlu mempertimbangkan kembali kebiasaan membeli pakaian hanya karena sedang diskon. Begitu pula ketika menerima barang gratis, suvenir, atau hadiah yang sebenarnya tidak memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Prinsip ini mengajarkan pentingnya menjadi lebih selektif dalam berbelanja dan menerima barang. Dengan membatasi benda yang masuk ke rumah, seseorang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penumpukan barang pada kemudian hari.
2. Sha (捨): Membuang Barang yang Tidak Lagi Dibutuhkan
Prinsip kedua adalah Sha, yaitu menyingkirkan barang yang sudah tidak diperlukan. Tahap ini mengajak seseorang mengevaluasi benda-benda yang selama ini disimpan, tetapi jarang atau bahkan tidak pernah digunakan.
Sebagai contoh, pakaian yang sudah tidak sesuai ukuran, peralatan dapur yang rusak, hingga tumpukan kertas yang tidak lagi memiliki kegunaan dapat dipertimbangkan untuk dikeluarkan dari rumah. Barang yang masih layak pakai juga bisa diberikan kepada orang lain atau disumbangkan.
Namun, proses ini tidak harus dilakukan secara terburu-buru. Seseorang tetap perlu mempertimbangkan fungsi, kondisi, dan nilai suatu benda sebelum memutuskan untuk membuangnya. Dokumen penting, barang berharga, serta benda yang memiliki fungsi khusus sebaiknya diperiksa dengan lebih teliti.
3. Ri (離): Melepaskan Keterikatan terhadap Barang
Prinsip ketiga adalah Ri, yakni melepaskan keterikatan berlebihan terhadap barang yang dimiliki. Inilah bagian yang membuat Danshari berbeda dari kegiatan membersihkan dan mengosongkan ruangan semata.
Sebagian orang kesulitan membuang barang karena menyimpan kenangan tertentu. Misalnya, pakaian dari masa sekolah, hadiah dari seseorang, atau benda yang dibeli dengan harga mahal. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak digunakan, barang tersebut tetap dipertahankan karena memiliki nilai emosional.
Melalui prinsip Ri, seseorang diajak memahami bahwa kenangan tidak selalu harus disimpan dalam bentuk benda. Pengalaman dan hubungan yang pernah terjadi tetap memiliki makna meskipun barang yang berkaitan dengannya sudah tidak lagi disimpan.
Advertisement
Cara Menerapkan Danshari untuk Merapikan Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296303/original/061013300_1784010492-6.jpg)
Danshari dapat diterapkan secara bertahap tanpa harus langsung mengubah seluruh kondisi rumah. Langkah awalnya adalah mengenali barang yang dimiliki dan mengevaluasi apakah benda tersebut masih sesuai dengan kebutuhan sekarang.
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memulai metode Danshari.
1. Mulai dari Satu Area Kecil
Jangan langsung berusaha merapikan seluruh rumah karena pekerjaan tersebut bisa terasa melelahkan. Mulailah dari satu area sederhana, seperti meja kerja, laci pakaian, rak sepatu, atau meja dapur.
Keluarkan barang-barang dari area tersebut, kemudian periksa satu per satu. Kelompokkan berdasarkan fungsi dan kondisi agar lebih mudah menentukan benda yang masih dibutuhkan.
Cara ini juga membantu membangun kebiasaan merapikan secara konsisten. Setelah satu area selesai, lanjutkan ke bagian rumah lainnya sesuai waktu dan kemampuan.
2. Evaluasi Barang Berdasarkan Kebutuhan Saat Ini
Danshari mengajak seseorang menggunakan kondisi kehidupan sekarang sebagai salah satu pertimbangan ketika menentukan barang yang perlu dipertahankan. Jangan hanya menyimpan benda karena dahulu pernah digunakan atau mungkin akan dibutuhkan pada masa mendatang.
Misalnya, pakaian yang sudah tidak sesuai dengan aktivitas sehari-hari bisa dipertimbangkan untuk disumbangkan. Begitu pula perlengkapan hobi yang sudah tidak pernah digunakan dan tidak lagi memiliki fungsi.
Pertimbangkan beberapa pertanyaan berikut sebelum mempertahankan suatu benda:
- Apakah barang ini masih digunakan?
- Apakah benda tersebut masih memiliki fungsi yang jelas?
- Apakah saya menyimpannya hanya karena merasa sayang untuk membuangnya?
- Apakah keberadaannya memberikan manfaat dalam kehidupan sekarang?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu menentukan keputusan dengan lebih objektif.
3. Pisahkan Barang Berdasarkan Kategorinya
Setelah memeriksa barang, kelompokkan benda berdasarkan jenis dan kegunaannya. Misalnya, pakaian dikumpulkan bersama pakaian, dokumen dikelompokkan berdasarkan kepentingan, sementara peralatan dapur ditempatkan sesuai fungsinya.
Pengelompokan ini memudahkan proses evaluasi karena seseorang dapat melihat jumlah barang yang dimiliki dalam satu kategori. Terkadang, penumpukan terjadi karena memiliki terlalu banyak benda dengan fungsi serupa.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mempunyai belasan botol minum, padahal hanya menggunakan dua atau tiga secara bergantian. Dengan melihat seluruh koleksi sekaligus, keputusan untuk mempertahankan barang menjadi lebih mudah.
4. Pisahkan Barang yang Akan Disimpan, Disumbangkan, atau Dibuang
Setelah melakukan evaluasi, siapkan beberapa kategori untuk memisahkan barang. Setidaknya, gunakan tiga kelompok utama, yaitu barang yang masih digunakan, barang layak pakai yang ingin diberikan kepada orang lain, serta barang rusak atau tidak layak digunakan kembali.
Pakaian yang masih bagus tetapi tidak lagi dikenakan dapat disumbangkan. Peralatan rumah tangga yang sudah tidak berfungsi bisa dipisahkan untuk dibuang atau didaur ulang sesuai jenis materialnya.
Sementara itu, barang penting seperti dokumen identitas, surat kepemilikan, dan arsip keuangan perlu disimpan dengan aman. Jangan sampai proses merapikan rumah justru membuat dokumen yang masih dibutuhkan ikut terbuang.
5. Hentikan Kebiasaan Membeli Barang secara Impulsif
Merapikan rumah tidak akan memberikan perubahan jangka panjang apabila kebiasaan membeli barang yang tidak diperlukan tetap berlangsung. Oleh karena itu, prinsip Dan perlu diterapkan dalam aktivitas belanja sehari-hari.
Sebelum membeli sesuatu, pertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena promosi. Periksa juga apakah di rumah sudah tersedia benda lain dengan fungsi serupa.
Memberikan jeda sebelum melakukan pembelian juga bisa membantu mengurangi keputusan impulsif. Dengan cara tersebut, seseorang mempunyai waktu untuk mempertimbangkan manfaat barang dibandingkan sekadar mengikuti keinginan sesaat.
6. Tentukan Tempat Penyimpanan yang Jelas
Barang yang benar-benar dibutuhkan perlu memiliki tempat penyimpanan tersendiri. Setelah menentukan benda yang akan dipertahankan, kelompokkan dan letakkan sesuai fungsi agar mudah ditemukan ketika diperlukan.
Misalnya, alat kebersihan ditempatkan dalam satu area, perlengkapan memasak disimpan di sekitar dapur, sementara dokumen penting disimpan dalam map atau kotak khusus.
Hindari membeli terlalu banyak kotak penyimpanan hanya untuk menampung barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tujuan Danshari adalah mengurangi penumpukan, bukan sekadar menyembunyikan benda di dalam lemari atau wadah tertutup.
7. Lakukan Evaluasi Secara Berkala
Danshari bukan kegiatan yang harus diselesaikan dalam satu hari. Kebiasaan menyimpan barang dapat terbentuk selama bertahun-tahun sehingga proses mengevaluasinya membutuhkan konsistensi.
Sisihkan waktu secara berkala untuk memeriksa kondisi lemari, rak, dapur, maupun area penyimpanan lainnya. Perhatikan apakah terdapat barang yang mulai menumpuk atau benda yang sudah tidak lagi digunakan.
Evaluasi juga kebiasaan berbelanja agar rumah tidak kembali dipenuhi barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Dengan membangun rutinitas tersebut, kondisi rumah akan lebih mudah dipertahankan tanpa harus melakukan kegiatan bersih-bersih besar setiap saat.
Bagaimana Danshari Membantu Merapikan Pikiran?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369093/original/062621300_1791468619-woman-sitting-table-working-table-making-sign-with-hand-ok.jpg)
Hubungan antara kondisi rumah dan pikiran menjadi salah satu bagian menarik dari filosofi Danshari. Ketika rumah dipenuhi barang yang tidak terpakai, seseorang mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mencari benda yang diperlukan, membersihkan ruangan, atau menentukan tempat penyimpanan.
Melalui kegiatan memilah barang, seseorang berlatih membuat keputusan berdasarkan kebutuhan. Kebiasaan ini dapat mendorong refleksi mengenai prioritas, pola konsumsi, dan alasan mempertahankan sesuatu. Proses tersebut menjadi kesempatan untuk memahami kebiasaan diri sendiri dengan lebih baik.
Dalam pendekatan yang diperkenalkan Hideko Yamashita, merapikan barang berkaitan dengan upaya melepaskan keterikatan dan menata kembali hubungan seseorang dengan kepemilikan. Meski demikian, Danshari bukan terapi kesehatan mental dan tidak dapat dianggap sebagai metode penyembuhan gangguan psikologis.
Advertisement
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Menerapkan Danshari
Meskipun terlihat sederhana, menerapkan Danshari terkadang tidak mudah, terutama bagi orang yang sudah terbiasa menyimpan banyak barang. Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari agar proses merapikan rumah tidak menimbulkan masalah baru.
- Membuang barang secara terburu-buru. Jangan langsung menyingkirkan semua benda yang jarang digunakan tanpa memeriksa fungsi dan kepentingannya. Dokumen penting serta barang yang memiliki nilai khusus perlu dipertimbangkan secara matang.
- Memaksakan diri mengikuti standar minimalis. Danshari bukan tuntutan untuk memiliki rumah kosong atau barang sesedikit mungkin. Setiap orang mempunyai kebutuhan dan kondisi kehidupan yang berbeda.
- Hanya memindahkan barang ke tempat penyimpanan. Memasukkan semua benda ke dalam kotak tanpa melakukan evaluasi tidak menyelesaikan persoalan penumpukan.
- Mengabaikan kebiasaan berbelanja. Rumah dapat kembali penuh apabila seseorang masih sering membeli barang yang tidak diperlukan. Prinsip menolak barang baru perlu berjalan bersamaan dengan kegiatan menyingkirkan barang lama.
- Memaksakan orang lain mengikuti keputusan pribadi. Setiap anggota keluarga memiliki kebutuhan dan keterikatan berbeda terhadap barang miliknya. Sebaiknya diskusikan terlebih dahulu sebelum menyingkirkan benda yang dimiliki orang lain.
Apakah Danshari Sama dengan Metode KonMari?
Danshari dan KonMari sama-sama dikenal sebagai pendekatan penataan rumah dari Jepang. Keduanya mengajak seseorang mengevaluasi barang yang dimiliki, tetapi mempunyai penekanan yang berbeda.
Danshari menekankan tiga prinsip, yaitu menolak barang yang tidak dibutuhkan, membuang benda yang sudah tidak diperlukan, dan melepaskan keterikatan terhadap kepemilikan. Fokusnya mencakup hubungan seseorang dengan barang serta kebiasaan menerima dan menyimpannya.
Sementara itu, metode KonMari yang diperkenalkan oleh Marie Kondo menggunakan prinsip memilih barang yang spark joy atau memberikan rasa bahagia. Proses penataannya juga dikenal menggunakan kategori, seperti pakaian, buku, dokumen, komono atau barang campuran, serta benda sentimental.
Dengan demikian, keduanya memiliki tujuan untuk menciptakan rumah yang lebih tertata, tetapi pendekatan dalam menentukan barang yang dipertahankan tidak sepenuhnya sama. Danshari berfokus pada hubungan dengan kepemilikan, sedangkan KonMari menggunakan pertanyaan tentang kebahagiaan yang diberikan suatu benda sebagai salah satu pertimbangan.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Danshari
1. Apa arti Danshari dalam bahasa Jepang?
Danshari berasal dari tiga karakter Jepang, yaitu Dan (menolak), Sha (membuang), dan Ri (melepaskan keterikatan). Ketiganya menjadi prinsip untuk mengurangi barang yang tidak diperlukan sekaligus menata hubungan dengan kepemilikan.
2. Siapa pencipta metode Danshari?
Danshari dikembangkan dan diperkenalkan oleh Hideko Yamashita, seorang penulis asal Jepang yang mendapatkan inspirasi dari filosofi praktik yoga.
3. Apakah Danshari mengharuskan seseorang membuang semua barang?
Tidak. Danshari mengajarkan seseorang untuk mempertahankan barang yang benar-benar dibutuhkan dan melepaskan benda yang tidak lagi memberikan manfaat, bukan mengosongkan rumah dari seluruh kepemilikan.
4. Apa perbedaan Danshari dan KonMari?
Danshari berfokus pada menolak, membuang, dan melepaskan keterikatan terhadap barang. Sementara itu, KonMari mengajak seseorang mempertahankan benda yang memberikan rasa bahagia atau spark joy.
5. Bagaimana cara memulai Danshari bagi pemula?
Mulailah dari area kecil seperti lemari pakaian atau meja kerja. Periksa barang satu per satu, pertahankan benda yang masih dibutuhkan, lalu singkirkan barang yang tidak lagi memiliki fungsi.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320072/original/053154100_1786333844-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-10T104516.679.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387917/original/059774100_1793588866-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-11-02T100620.704.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349533/original/006044400_1789532857-HOAX__18_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388061/original/002094900_1793597992-f6e94ea4-28ef-426f-9aba-cf9938b44089.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289799/original/087182700_1783415439-4fszIMnb2kw9ojhc7zbepcDGR5ofS1UNU4NtIP5a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291937/original/094476600_1783579960-ArVK2JwAOyu2EuMk67JyF7y0i5MrTeMV1r3TAp9T.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5460715/original/071076300_1767273436-kereta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367533/original/084007700_1791353020-SnapInsta-Ai_2499253408521137530_279948745.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388069/original/003710300_1793598185-ivars-utinans-vkQgb1lZZPQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4833283/original/080840900_1715828974-Ilustrasi_wisuda__kelulusan_sekolah.jpg)