Hari Cagar Biosfer Internasional: Daftar wilayah Cagar biosfer di Indonesia

Indonesia memiliki 21 cagar biosfer UNESCO yang tersebar dari Sumatera hingga Papua, termasuk Raja Ampat.

Diterbitkan 02 November 2026, 12:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Cagar Biosfer Internasional menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Setiap tahun, peringatan yang jatuh pada 3 November ini mengajak masyarakat dunia untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan, keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kekayaan cagar biosfer cukup beragam. Hingga 2026, terdapat 21 kawasan yang tercantum dalam jaringan cagar biosfer dunia UNESCO, mulai dari hutan hujan tropis, pegunungan, lahan gambut, hingga kawasan pesisir dan laut. Beberapa di antaranya bahkan menjadi habitat satwa langka serta memiliki ekosistem yang penting bagi keseimbangan lingkungan.

Mengenal Hari Cagar Biosfer Internasional dan Sejarah Peringatannya

Hari Cagar Biosfer Internasional atau International Day for Biosphere Reserves merupakan peringatan yang ditetapkan oleh UNESCO melalui Konferensi Umum ke-41 pada 2021. Tanggal 3 November dipilih sebagai hari peringatan untuk meningkatkan perhatian masyarakat terhadap peran cagar biosfer dalam melindungi alam sekaligus mendukung kehidupan manusia.

Peringatan ini berkaitan erat dengan program Man and the Biosphere (MAB) yang diluncurkan UNESCO pada 1971. Program tersebut merupakan inisiatif ilmiah internasional yang bertujuan memperbaiki hubungan antara manusia dan lingkungan melalui penelitian, pendidikan, konservasi, serta pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Hari Cagar Biosfer Internasional pertama kali diperingati pada 3 November 2022. Melalui momentum tersebut, UNESCO ingin mendorong berbagai negara untuk mengembangkan kawasan yang mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

Apa Itu Cagar Biosfer dan Mengapa Penting bagi Lingkungan?

Cagar biosfer merupakan kawasan yang diakui secara internasional melalui program MAB UNESCO karena memiliki peran penting dalam konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan. Kawasan ini bisa mencakup ekosistem daratan, pesisir, laut, maupun gabungan beberapa jenis lingkungan.

Berbeda dengan kawasan konservasi yang berfokus pada perlindungan alam, cagar biosfer juga memperhatikan hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Penduduk setempat tetap dapat melakukan aktivitas ekonomi, seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata, selama kegiatan tersebut memperhatikan kelestarian ekosistem.

UNESCO menetapkan tiga fungsi utama yang harus dijalankan oleh cagar biosfer, yaitu:

  1. Konservasi: Melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, spesies, sumber daya genetik, dan warisan budaya.
  2. Pembangunan berkelanjutan: Mendorong kegiatan ekonomi dan sosial yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan serta tradisi masyarakat.
  3. Dukungan logistik: Mendukung kegiatan penelitian, pendidikan, pelatihan, pemantauan lingkungan, dan pertukaran pengetahuan.

Untuk menjalankan ketiga fungsi tersebut, cagar biosfer dibagi menjadi tiga zona pengelolaan.

  • Zona inti (core area): Bagian kawasan yang mendapatkan perlindungan ketat untuk menjaga habitat, spesies, dan ekosistem.
  • Zona penyangga (buffer zone): Area di sekitar atau berdekatan dengan zona inti yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan terbatas dan sesuai dengan tujuan konservasi, seperti penelitian serta pendidikan lingkungan.
  • Zona transisi (transition area): Kawasan tempat masyarakat tinggal dan menjalankan kegiatan ekonomi secara berkelanjutan.

Pembagian tersebut memungkinkan kegiatan konservasi berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat. Cagar biosfer juga menjadi tempat untuk mengembangkan berbagai solusi terhadap persoalan lingkungan, seperti perubahan iklim, kerusakan habitat, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Daftar 21 Wilayah Cagar Biosfer di Indonesia

Berdasarkan direktori resmi Man and the Biosphere Programme UNESCO, Indonesia memiliki 21 cagar biosfer yang tersebar di enam kelompok wilayah kepulauan. Data tersebut juga sejalan dengan laporan Kementerian Kehutanan yang dipublikasikan untuk tahun 2025.

Kawasan-kawasan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang didominasi hutan hujan tropis, ekosistem rawa gambut, danau, serta pegunungan, sementara lainnya memiliki kawasan terumbu karang, mangrove, dan habitat biota laut.

1. Cagar Biosfer di Wilayah Sumatera

Sumatera memiliki empat cagar biosfer yang tersebar di beberapa provinsi. Kawasan-kawasan tersebut dikenal memiliki hutan tropis, lahan gambut, ekosistem rawa, serta habitat berbagai satwa endemik yang perlu dilindungi.

1. Cagar Biosfer Gunung Leuser (1981)

Cagar Biosfer Gunung Leuser terletak di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Kawasan ini memiliki bentang alam yang sangat beragam, mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan pegunungan, hutan rawa gambut, hingga kawasan subalpin.

Gunung Leuser juga menjadi salah satu habitat penting bagi satwa langka Sumatera, seperti orangutan Sumatera, harimau Sumatera, gajah Sumatera, dan badak Sumatera. Keberadaan ekosistem hutan yang luas membuat kawasan ini memiliki fungsi penting dalam menjaga ketersediaan air dan keseimbangan lingkungan.

2. Cagar Biosfer Siberut (1981)

Cagar Biosfer Siberut berada di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Pulau Siberut memiliki tingkat endemisme yang tinggi karena terpisah secara geografis dari daratan utama Sumatera dalam waktu yang sangat panjang.

Kawasan ini dikenal sebagai habitat berbagai spesies flora dan fauna khas Mentawai, terutama primata endemik. Hutan hujan tropis dataran rendah menjadi ekosistem utama yang mendukung kehidupan satwa dan masyarakat setempat.

3. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil–Bukit Batu (2009)

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil–Bukit Batu terletak di Provinsi Riau dan dikenal dengan ekosistem hutan rawa gambutnya. Kawasan ini memiliki fungsi penting dalam menjaga cadangan air, menyimpan karbon, serta melindungi habitat satwa liar.

Beberapa satwa yang hidup di kawasan tersebut antara lain harimau Sumatera, gajah, tapir, dan beruang madu. Selain konservasi, kawasan ini juga menjadi tempat penelitian mengenai ekologi gambut dan pengembangan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

4. Cagar Biosfer Berbak–Sembilang (2018)

Cagar Biosfer Berbak–Sembilang mencakup wilayah Jambi dan Sumatera Selatan. Kawasan ini menggabungkan Taman Nasional Berbak dan Taman Nasional Sembilang serta sejumlah kawasan suaka margasatwa.

Ekosistemnya meliputi hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan dataran rendah, dan mangrove. Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai burung migran yang melakukan perjalanan melalui jalur migrasi Asia Timur–Australasia.

Keberadaan lahan basah tersebut sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan sekaligus mendukung kehidupan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada perikanan dan pertanian.

2. Cagar Biosfer di Wilayah Jawa

Jawa memiliki lima cagar biosfer yang mencakup ekosistem pegunungan, hutan tropis, kepulauan, kawasan pesisir, hingga bentang alam karst.

Sebagian kawasan tersebut berada di sekitar taman nasional yang memiliki peran penting dalam melindungi flora dan fauna khas Pulau Jawa.

5. Cagar Biosfer Cibodas (1977)

Cagar Biosfer Cibodas berada di Jawa Barat, dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai kawasan intinya. Kawasan ini merupakan salah satu cagar biosfer tertua di Indonesia yang memperoleh pengakuan UNESCO pada 1977.

Ekosistemnya terdiri dari hutan hujan tropis pegunungan dengan berbagai jenis tumbuhan dan satwa endemik Jawa. Kawasan ini juga mencakup hutan produksi, perkebunan teh, lahan hortikultura, serta permukiman masyarakat di zona penyangga dan transisi.

6. Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru–Arjuno (2015)

Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru–Arjuno berada di Jawa Timur dan memiliki bentang alam pegunungan vulkanik yang khas. Kawasannya mencakup lingkungan Gunung Bromo, Tengger, Semeru, Arjuno, hingga Welirang.

Ekosistem yang terdapat di dalamnya sangat beragam, mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan pegunungan, savana, hingga kawasan subalpin. Keanekaragaman tumbuhan dan satwa membuat wilayah ini memiliki nilai penting bagi konservasi alam.

Selain itu, aktivitas pertanian, peternakan, dan pariwisata menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan sekitarnya.

7. Cagar Biosfer Belambangan (2016)

Cagar Biosfer Belambangan terletak di Jawa Timur, khususnya wilayah ujung timur Pulau Jawa. Kawasan ini mencakup tiga taman nasional, yaitu Alas Purwo, Baluran, dan Meru Betiri, serta Cagar Alam Kawah Ijen.

Kekayaan ekosistemnya meliputi hutan dataran rendah, hutan pegunungan, savana, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Setiap kawasan memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda sehingga mendukung keberadaan berbagai jenis flora dan fauna.

Baluran dikenal dengan bentang alam savananya, Alas Purwo memiliki kawasan hutan dan pesisir, sedangkan Meru Betiri menjadi salah satu kawasan penting untuk perlindungan habitat satwa dan penyu.

8. Cagar Biosfer Karimunjawa–Jepara–Muria (2020)

Cagar Biosfer Karimunjawa–Jepara–Muria berada di Jawa Tengah. Kawasan ini menggabungkan ekosistem kepulauan dan laut Karimunjawa dengan bentang alam daratan serta pegunungan di sekitar Gunung Muria.

Keanekaragaman lingkungannya mencakup terumbu karang, pulau-pulau kecil, hutan tropis dataran rendah, dan hutan pegunungan. Karimunjawa juga dikenal sebagai kawasan yang memiliki potensi perikanan dan pariwisata bahari.

Keberadaan masyarakat pesisir dan aktivitas ekonomi lokal menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

9. Cagar Biosfer Merapi–Merbabu–Menoreh (2020)

Cagar Biosfer Merapi–Merbabu–Menoreh terletak di Jawa Tengah dan mencakup kawasan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, serta kawasan Menoreh.

Kawasan intinya melibatkan Taman Nasional Gunung Merapi, Taman Nasional Gunung Merbabu, dan Suaka Margasatwa Sermo. Bentang alamnya meliputi hutan pegunungan dan formasi batuan kapur di kawasan Menoreh.

Selain menjadi tempat perlindungan keanekaragaman hayati, kawasan ini juga memiliki fungsi penting sebagai daerah resapan air yang mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Catatan penamaan: Direktori UNESCO saat ini menampilkan ejaan Merapi Merbaru Menoreh. Namun, profil kawasan menyebut Taman Nasional Gunung Merbabu, dan nama yang umum digunakan dalam publikasi penetapannya adalah Merapi Merbabu Menoreh.

3. Cagar Biosfer di Wilayah Kalimantan

Kalimantan memiliki dua cagar biosfer yang dikenal dengan kekayaan hutan hujan tropis, rawa gambut, dan lahan basah. Kawasan ini memiliki fungsi ekologis penting karena menjadi habitat berbagai satwa liar sekaligus menjaga keseimbangan tata air.

10. Cagar Biosfer Tanjung Puting (1977)

Cagar Biosfer Tanjung Puting berada di Kalimantan Tengah, tepatnya di kawasan Semenanjung Tanjung Puting. Wilayah ini memiliki beragam ekosistem, seperti hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan dataran rendah, hutan kerangas, dan mangrove.

Tanjung Puting dikenal luas sebagai habitat orangutan Kalimantan. Keberadaan satwa tersebut menjadikan kawasan ini memiliki nilai konservasi yang tinggi sekaligus menjadi salah satu tujuan penelitian dan pendidikan lingkungan.

Kawasan ini juga mendukung kehidupan berbagai satwa lainnya yang bergantung pada ekosistem hutan dan lahan basah.

11. Cagar Biosfer Betung Kerihun–Danau Sentarum Kapuas Hulu (2018)

Cagar Biosfer Betung Kerihun–Danau Sentarum Kapuas Hulu terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kawasan ini menggabungkan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum.

Kekayaan alamnya terdiri dari hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pegunungan, danau, serta ekosistem rawa. Danau Sentarum memiliki karakteristik perairan yang dipengaruhi perubahan musim sehingga menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan dan satwa lainnya.

Sementara itu, hutan di kawasan Betung Kerihun memiliki peran penting dalam menjaga daerah aliran sungai dan melindungi keanekaragaman hayati Pulau Kalimantan.

4. Cagar Biosfer di Wilayah Nusa Tenggara

Wilayah Nusa Tenggara memiliki tiga cagar biosfer yang mencakup kawasan daratan, kepulauan, pesisir, dan laut. Keberadaan pegunungan vulkanik serta ekosistem laut menjadikan ketiga kawasan tersebut memiliki karakteristik lingkungan yang beragam.

12. Cagar Biosfer Komodo (1977)

Cagar Biosfer Komodo berada di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di antara Pulau Flores dan Sumbawa. Kawasan ini mencakup Pulau Komodo, Rinca, Padar, serta sejumlah pulau kecil di sekitarnya.

Komodo menjadi daya tarik utama kawasan ini karena merupakan habitat asli satwa komodo (Varanus komodoensis). Selain hutan dan savana, wilayah tersebut memiliki ekosistem laut dengan terumbu karang dan berbagai biota perairan.

Perpaduan ekosistem daratan dan laut membuat kawasan Komodo memiliki nilai penting dalam perlindungan keanekaragaman hayati.

13. Cagar Biosfer Rinjani Lombok (2018)

Cagar Biosfer Rinjani Lombok berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini memiliki Gunung Rinjani sebagai salah satu elemen utama bentang alamnya.

Lingkungan di wilayah tersebut meliputi kawasan pesisir, perbukitan, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan savana. Perbedaan ketinggian wilayah menciptakan beragam kondisi habitat bagi tumbuhan dan satwa.

Selain konservasi, kawasan ini mendukung kegiatan masyarakat, seperti pertanian, perkebunan, dan pariwisata alam.

14. Cagar Biosfer SAMOTA (2019)

Cagar Biosfer SAMOTA berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Nama SAMOTA merupakan singkatan dari Saleh–Moyo–Tambora, yaitu tiga bentang alam utama yang menjadi bagian dari kawasan tersebut.

Ekosistemnya mencakup pulau-pulau kecil, mangrove, kawasan pesisir, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan savana. Kawasan Teluk Saleh juga memiliki kekayaan biota laut, sedangkan Pulau Moyo dikenal dengan keanekaragaman satwa dan tumbuhannya.

Gunung Tambora menjadi salah satu bagian penting kawasan ini karena memiliki karakteristik lingkungan pegunungan dan sejarah vulkanik yang khas.

5. Cagar Biosfer di Wilayah Sulawesi

Sulawesi memiliki enam cagar biosfer yang mencakup ekosistem hutan tropis, pegunungan, karst, kepulauan, serta kawasan laut. Beberapa di antaranya berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia yang dikenal memiliki kekayaan biota laut.

15. Cagar Biosfer Lore Lindu (1977)

Cagar Biosfer Lore Lindu berada di Sulawesi Tengah dan menjadi salah satu kawasan yang memiliki hutan pegunungan tropis penting di Pulau Sulawesi.

Sebagian besar wilayahnya didominasi hutan pegunungan dengan berbagai jenis flora dan fauna khas Sulawesi. Kawasan ini juga memiliki nilai budaya dan arkeologi karena terdapat peninggalan megalitik yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat setempat.

Keberadaan Lore Lindu mendukung perlindungan ekosistem hutan sekaligus kegiatan penelitian mengenai keanekaragaman hayati dan kebudayaan.

16. Cagar Biosfer Wakatobi (2012)

Cagar Biosfer Wakatobi terletak di Sulawesi Tenggara dan mencakup empat pulau utama, yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Kawasan ini dikenal dengan ekosistem lautnya yang kaya akan terumbu karang. Selain itu, terdapat berbagai habitat penting seperti mangrove, padang lamun, dan perairan pesisir yang mendukung kehidupan biota laut.

Wakatobi juga menjadi salah satu kawasan yang mengembangkan kegiatan perikanan dan pariwisata bahari dengan memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam.

17. Cagar Biosfer Taka Bonerate–Kepulauan Selayar (2015)

Cagar Biosfer Taka Bonerate–Kepulauan Selayar berada di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Kepulauan Selayar.

Kawasan ini terkenal dengan formasi atol, yaitu terumbu karang berbentuk melingkar yang mengelilingi perairan dangkal. Selain ekosistem terumbu karang, terdapat pula mangrove, pulau-pulau kecil, dan habitat berbagai satwa laut.

Keberadaan kawasan tersebut penting untuk menjaga keanekaragaman hayati laut sekaligus mendukung kehidupan masyarakat yang bekerja di sektor perikanan dan pariwisata.

18. Cagar Biosfer Togean Tojo Una-Una (2019)

Cagar Biosfer Togean Tojo Una-Una berada di Sulawesi Tengah, mencakup kawasan Kepulauan Togean dan wilayah sekitarnya.

Kawasan ini terletak di pusat Segitiga Terumbu Karang Dunia yang memiliki kekayaan spesies karang sangat tinggi. Ekosistemnya meliputi terumbu karang, mangrove, padang lamun, serta hutan tropis di wilayah kepulauan.

Sebagian masyarakat di kawasan ini menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan. Oleh sebab itu, pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

19. Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa (2020)

Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa terletak di Sulawesi Utara. Kawasan ini menggabungkan ekosistem laut dan daratan yang memiliki karakteristik keanekaragaman hayati berbeda.

Bunaken dikenal dengan kekayaan terumbu karangnya, sedangkan kawasan Tangkoko memiliki hutan tropis yang menjadi habitat berbagai satwa, termasuk tarsius. Selain itu, terdapat pula ekosistem mangrove, padang lamun, hutan pesisir, dan kawasan pulau kecil.

Perpaduan lingkungan tersebut menjadikan kawasan ini penting bagi perlindungan spesies laut dan satwa daratan Sulawesi.

20. Cagar Biosfer Bantimurung Bulusaraung–MA'RUPANNE (2023)

Cagar Biosfer Bantimurung Bulusaraung–MA'RUPANNE berada di Sulawesi Selatan dan mencakup tiga bentang alam utama, yaitu Bantimurung, Bulusaraung, dan kawasan karst Maros–Pangkep.

Kawasan ini dikenal dengan formasi karst berbentuk menara yang memiliki berbagai gua alami. Ekosistem tersebut menjadi habitat bagi beragam tumbuhan dan satwa, termasuk organisme yang hidup di lingkungan gua.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga dikenal sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman kupu-kupu. UNESCO mencatat lebih dari 250 spesies kupu-kupu di kawasan tersebut, termasuk beberapa spesies endemik Sulawesi.

6. Cagar Biosfer di Wilayah Papua

Papua memiliki satu cagar biosfer yang mendapatkan pengakuan UNESCO pada 2025. Kawasan ini dikenal memiliki kekayaan keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi dan menjadi bagian penting dari Segitiga Terumbu Karang Dunia.

21. Cagar Biosfer Raja Ampat (2025)

Cagar Biosfer Raja Ampat berada di Provinsi Papua Barat Daya, tepatnya di Kabupaten Raja Ampat. Kawasan ini mencakup sekitar 610 pulau, atol, dan taka, dengan sebagian di antaranya tidak berpenghuni.

Raja Ampat memiliki ekosistem laut yang sangat kaya, termasuk terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Wilayah perairannya menjadi habitat bagi beragam ikan, penyu laut, serta berbagai organisme yang mendukung keseimbangan ekosistem pesisir.

Selain kekayaan laut, kawasan ini juga mempunyai hutan hujan tropis dataran rendah dan pegunungan. Masyarakat adat setempat turut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pengetahuan tradisional dan praktik pengelolaan sumber daya alam.

Pengakuan UNESCO pada 2025 menjadikan Raja Ampat sebagai cagar biosfer terbaru Indonesia dalam daftar yang diperiksa hingga November 2026.

Apakah Seluruh Cagar Biosfer Indonesia Masih Terdaftar di UNESCO?

Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas daftar cagar biosfer adalah perbedaan antara status pengakuan internasional dan kondisi pengelolaan di lapangan.

Berdasarkan direktori resmi UNESCO yang diperiksa pada 2 November 2026, seluruh 21 kawasan Indonesia masih tercantum dalam World Network of Biosphere Reserves (WNBR). Dengan demikian, kawasan-kawasan tersebut masih memiliki status pengakuan internasional sebagai cagar biosfer.

Namun, status tersebut tidak otomatis berarti seluruh kawasan mempunyai aktivitas pengelolaan atau tingkat keberhasilan konservasi yang sama. Setiap kawasan memiliki tantangan lingkungan, struktur pengelolaan, dan kondisi sosial ekonomi yang berbeda.

UNESCO juga menerapkan mekanisme evaluasi berkala setiap 10 tahun untuk menilai fungsi, zonasi, pengelolaan, serta keterlibatan masyarakat dalam cagar biosfer. Evaluasi ini bertujuan memastikan kawasan tetap memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam kerangka WNBR.

Karena itu, status terdaftar di UNESCO menjadi dasar untuk memastikan pengakuan internasional suatu kawasan, sedangkan kondisi operasional dan efektivitas pengelolaannya perlu dilihat melalui laporan evaluasi masing-masing wilayah.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Hari Cagar Biosfer Internasional

1. Kapan Hari Cagar Biosfer Internasional diperingati?

Hari Cagar Biosfer Internasional diperingati setiap 3 November. UNESCO menetapkan tanggal tersebut melalui Konferensi Umum ke-41 pada 2021.

2. Berapa jumlah cagar biosfer di Indonesia?

Indonesia memiliki 21 cagar biosfer yang tercantum dalam jaringan UNESCO hingga November 2026.

3. Apa cagar biosfer tertua di Indonesia?

Cibodas, Tanjung Puting, Komodo, dan Lore Lindu merupakan beberapa cagar biosfer Indonesia yang tercatat sejak 1977.

4. Apa cagar biosfer terbaru di Indonesia?

Cagar Biosfer Raja Ampat merupakan kawasan terbaru Indonesia yang masuk dalam jaringan UNESCO pada 2025.

5. Apa perbedaan cagar biosfer dan taman nasional?

Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam dengan fungsi utama perlindungan ekosistem, penelitian, pendidikan, dan pemanfaatan berkelanjutan. Sementara itu, cagar biosfer merupakan pengakuan internasional yang mengintegrasikan konservasi, pembangunan berkelanjutan, dan dukungan penelitian dalam satu bentang kawasan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6