Karakter Orang yang Paling Update Gosip di Kantor Menurut Psikologi

Kenali karakter orang yang paling update gosip di kantor menurut psikologi, mulai dari rasa ingin tahu tinggi hingga kebutuhan akan pengakuan sosial.

Diterbitkan 02 November 2026, 19:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Orang yang paling update gosip di kantor belum tentu sekadar suka ikut campur urusan orang lain. Faktanya, ada beberapa karakter orang yang paling update gosip di kantor menurut psikologi.

Dalam sudut pandang psikologi, gosip dapat dipengaruhi oleh kebutuhan sosial, keinginan memperoleh informasi, dan dorongan meningkatkan citra diri. Tinjauan ilmiah dalam Journal of Organizational Behavior (2023) menyebutkan bahwa gosip di tempat kerja berfungsi sebagai pertukaran informasi, peningkatan ego, integrasi sosial, dan pemisahan sosial.

Namun, bukan berarti setiap orang yang mengetahui banyak informasi tentang rekan kerjanya memiliki karakter atau kepribadian tertentu. Untuk memahami fenomena ini, kita perlu mengetahui faktor pendorong gosip dan dampaknya terhadap hubungan kerja.

1. Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Salah satu karakter yang mungkin dimiliki orang yang paling update gosip di kantor adalah rasa ingin tahu yang tinggi. Orang seperti ini biasanya tertarik mengikuti perkembangan di kantor, mulai dari suasana kerja, hubungan antar rekan, hingga keputusan atasan.

Rasa ingin tahu tersebut membuat mereka cenderung memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin dilewatkan orang lain. Misalnya, mereka menyadari ketika dua rekan kerja yang biasanya akrab tiba-tiba menjaga jarak atau ketika seorang atasan mendadak mengadakan rapat tertutup.

Dalam konteks psikologi sosial, mencari informasi tentang orang lain merupakan salah satu cara manusia memahami lingkungan sosialnya. Penelitian tentang gosip di tempat kerja juga mengidentifikasi pertukaran informasi sebagai salah satu fungsi utama perilaku tersebut.

Meski begitu, rasa ingin tahu yang tinggi tidak otomatis membuat seseorang menjadi tukang gosip. Perbedaannya terletak pada cara menggunakan informasi, baik untuk membantu orang lain maupun menyebarkan kabar yang belum tentu benar.

2. Pandai Membaca Situasi dan Memperhatikan Perubahan Kecil

Orang yang selalu mengetahui perkembangan terbaru di kantor sering kali terlihat peka terhadap dinamika sosial. Mereka memperhatikan perubahan perilaku, cara orang berkomunikasi, hingga suasana yang muncul ketika beberapa rekan kerja berkumpul.

Contohnya, seseorang mungkin menyadari bahwa seorang karyawan mendadak lebih sering berbicara dengan manajer. Dari situ, ia mulai bertanya-tanya apakah ada perubahan tanggung jawab atau peluang promosi yang sedang dibicarakan.

Kemampuan memperhatikan situasi seperti ini bisa membantu seseorang memahami lingkungan kerjanya. Namun, perlu dibedakan antara mengamati fakta dan menafsirkan sesuatu berdasarkan dugaan pribadi.

Penelitian dalam Journal of Applied Psychology (2021) menunjukkan bahwa penilaian terhadap gosip dipengaruhi oleh isi informasi, kredibilitas sumber, dan maksud penyampainya.

Karena itu, orang yang terlihat paling tahu tentang kehidupan kantor belum tentu memiliki informasi yang akurat. Mereka mungkin memang jeli mengamati lingkungan, tetapi kesimpulan yang dibuat tetap perlu diperiksa sebelum dipercaya.

3. Senang Menjalin Hubungan Sosial

Tidak semua gosip bertujuan menjatuhkan orang lain. Membicarakan orang lain terkadang menjadi cara membangun kedekatan dan kebersamaan antar rekan kerja.

Bayangkan dua karyawan yang sedang beristirahat bersama. Mereka mulai membicarakan perubahan kebijakan kantor, kebiasaan atasan, atau kabar bahwa seorang rekan akan pindah divisi. Percakapan tersebut dapat membuat mereka merasa memiliki pengalaman dan informasi yang sama.

Sebuah artikel ilmiah dalam Group & Organization Management menjelaskan definisi gosip sebagai “informal and evaluative talk about another organizational member who is not present”, yaitu percakapan informal yang mengandung penilaian tentang anggota organisasi yang tidak hadir.

Definisi tersebut menunjukkan bahwa gosip tidak selalu identik dengan fitnah atau pembicaraan bernada negatif. Percakapan mengenai rekan kerja bisa berisi apresiasi, informasi yang berguna, kritik, ataupun penilaian pribadi.

Namun, kedekatan yang dibangun melalui gosip juga memiliki risiko. Jika kebersamaan terbentuk dengan cara membicarakan atau mengucilkan orang tertentu, hubungan sosial di kantor justru dapat menjadi kurang sehat.

4. Membutuhkan Pengakuan dan Perhatian dari Orang Lain

Ada pula orang yang senang menjadi sumber informasi karena merasa lebih diperhatikan ketika membawa kabar terbaru. Saat rekan kerja bertanya tentang suatu kejadian, mereka memperoleh kesempatan untuk berbicara, menjelaskan informasi, dan menjadi pusat perhatian dalam percakapan.

Dalam situasi tertentu, mengetahui sesuatu lebih dahulu dapat membuat seseorang merasa memiliki posisi khusus di lingkungan sosialnya. Ia mungkin merasa lebih berpengaruh karena dianggap sebagai orang yang paling memahami situasi di kantor.

Penelitian Aamna Khan dan Richa Chaudhary yang diterbitkan dalam International Journal of Manpower pada 2023 meneliti hubungan antara karakteristik kepribadian, evaluasi diri, dan gosip di tempat kerja. Studi tersebut melibatkan 616 karyawan dari berbagai organisasi di India dan menemukan bahwa narsisisme berhubungan secara signifikan dengan gosip positif maupun negatif di lingkungan kerja.

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti semua orang yang suka bergosip memiliki kepribadian narsistik. Penelitian itu membahas hubungan antarvariabel, bukan cara untuk mendiagnosis kepribadian seseorang hanya berdasarkan kebiasaannya membicarakan orang lain.

Karena itu, lebih tepat melihat kebutuhan akan perhatian sebagai salah satu kemungkinan motivasi, bukan kesimpulan pasti. Seseorang bisa saja senang berbagi kabar karena ingin terlibat dalam percakapan, tanpa memiliki niat untuk mendominasi lingkungan sosialnya.

5. Tertarik pada Dinamika Kekuasaan di Kantor

Lingkungan kerja tidak hanya berkaitan dengan tugas dan target, tetapi juga melibatkan hubungan antar karyawan, keputusan atasan, persaingan, serta pembagian tanggung jawab. Tidak heran jika sebagian orang tertarik mencari tahu kedekatan dengan atasan, peluang promosi, hingga perubahan struktur organisasi.

Orang yang selalu mengikuti kabar kantor mungkin menggunakan informasi informal untuk memahami situasi yang belum dijelaskan secara resmi. Misalnya, mereka mencoba mencari tahu alasan perubahan jadwal rapat atau kemungkinan pergantian pemimpin tim.

Penelitian Khan dan Chaudhary juga mengkaji bagaimana persepsi terhadap politik organisasi berkaitan dengan hubungan antara narsisme dan gosip di tempat kerja. Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi politik organisasi memoderasi hubungan antara narsisme dan gosip positif.

Temuan ini memberi gambaran bahwa suasana organisasi dapat ikut mempengaruhi perilaku bergosip. Ketika karyawan merasa bahwa hubungan, pengaruh, dan persaingan memiliki peran besar dalam pengambilan keputusan, informasi informal bisa menjadi semakin menarik.

Meski begitu, mengikuti dinamika kantor tidak selalu berarti seseorang manipulatif atau gemar berpolitik. Ada karyawan yang memang perlu memahami perubahan organisasi agar bisa mengantisipasi dampaknya terhadap pekerjaan mereka.

6. Cenderung Menggunakan Gosip untuk Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Membicarakan rekan kerja terkadang menjadi cara tidak langsung untuk mengevaluasi posisi diri sendiri. Seseorang mungkin memperhatikan siapa yang mendapat pujian dari atasan, siapa yang dianggap paling kompeten, atau siapa yang memperoleh kesempatan lebih besar.

Perbandingan sosial semacam ini dapat membantu seseorang memahami standar yang berlaku di lingkungannya. Misalnya, promosi rekan kerja bisa mendorong karyawan lain mempelajari keterampilan dan pencapaian yang mendukung keberhasilannya.

Namun, perbandingan sosial juga dapat berubah menjadi persaingan yang tidak sehat. Saat tersaingi oleh pencapaian orang lain, seseorang mungkin memilih menyebarkan gosip negatif daripada mempelajari keberhasilan rekannya.

Penelitian tentang gosip di tempat kerja telah menggunakan teori perbandingan sosial untuk menjelaskan kemungkinan hubungan antara karakteristik individu dan perilaku bergosip. Studi Khan dan Chaudhary, misalnya, menggunakan perspektif tersebut dalam mengembangkan model penelitiannya.

Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar seberapa sering seseorang membicarakan rekan kerjanya, melainkan juga tujuan dan isi pembicaraan tersebut. Gosip yang digunakan untuk memahami situasi berbeda dari gosip yang sengaja dipakai untuk merusak reputasi orang lain. 

7. Bisa Terlihat Ramah, tetapi Belum Tentu Dipercaya untuk Hal Penting

Orang yang selalu mengetahui kabar terbaru biasanya mudah terlibat dalam percakapan. Mereka mungkin dikenal supel dan mudah bergaul, sehingga orang lain nyaman mengobrol dengannya.

Akan tetapi, kesan ramah tidak selalu berjalan beriringan dengan kepercayaan. Jika sering membagikan rahasia orang lain, rekan kerja mungkin khawatir rahasia mereka juga akan tersebar.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology pada November 2024 menguji bagaimana orang menilai individu yang bergosip. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang bergosip dinilai kurang bermoral dan kompeten, tetapi lebih pandai bersosialisasi.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penilaian terhadap orang yang bergosip dapat bergantung pada konteks. Seseorang bisa menyenangkan diajak mengobrol, tetapi belum tentu dipercaya dalam urusan profesional.

Dengan demikian, kemampuan bersosialisasi saja tidak cukup untuk membangun kepercayaan di tempat kerja. Menjaga privasi, memeriksa kebenaran informasi, dan mengetahui kapan harus berhenti membicarakan orang lain juga merupakan bagian penting dari hubungan profesional.

8. Bisa Dipengaruhi Rasa Cemas dan Ketidakpastian

Sebagian orang mencari kabar terbaru karena merasa tidak nyaman ketika tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka mungkin khawatir tertinggal informasi, tidak memahami perubahan di kantor, atau menjadi pihak terakhir yang mengetahui keputusan penting.

Dalam kondisi seperti ini, mencari informasi informal bisa menjadi cara untuk mengurangi ketidakpastian. Seseorang mungkin lebih sering bertanya kepada rekan kerja tentang situasi tim, perubahan kebijakan, atau kemungkinan masalah yang akan memengaruhi pekerjaannya.

Namun, kebiasaan mencari informasi perlu dibedakan dari kecenderungan menyebarkan gosip negatif. Rasa khawatir dapat mendorong seseorang mencari penjelasan, tetapi tidak otomatis membuatnya gemar membicarakan keburukan orang lain.

Penelitian yang diterbitkan dalam BMC Psychology pada 2024 melibatkan 352 karyawan perempuan yang bekerja di lini depan berbagai organisasi jasa. Kecemasan menjadi salah satu faktor yang menghubungkan gosip negatif dengan menurunnya perilaku proaktif karyawan.

Temuan itu membahas dampak gosip negatif terhadap karyawan yang mengalaminya, bukan membuktikan bahwa semua orang yang aktif mencari gosip memiliki kecemasan. Meski begitu, penelitian tersebut menunjukkan bahwa gosip yang merugikan dapat membuat karyawan merasa kurang nyaman dan kurang leluasa mengambil inisiatif.

9. Tidak Selalu Menyadari Dampak Gosip terhadap Rekan Kerja

Orang yang paling update gosip di kantor belum tentu berniat menyakiti orang lain. Sebagian hanya mengulang cerita, menganggapnya menarik, atau tidak menyadari dampaknya terhadap reputasi orang lain.

Masalah muncul ketika informasi yang belum terverifikasi terus disebarkan. Cerita yang awalnya hanya berupa dugaan dapat berubah menjadi seolah-olah fakta setelah disampaikan berulang kali oleh banyak orang.

Penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 2018 menganalisis data dari 336 karyawan di tujuh perusahaan di China. Hasilnya menunjukkan bahwa gosip negatif berkaitan dengan penurunan kinerja dan kontribusi sukarela karyawan.

Artinya, gosip yang merugikan bukan hanya persoalan hubungan pribadi. Gosip negatif dapat mempengaruhi cara karyawan memandang posisi dan nilai dirinya di organisasi.

Hal yang bisa dilakukan ketika mendengar kabar tentang rekan kerja

Periksa kebenaran informasi

Jika kebenarannya belum jelas, sebaiknya jangan ikut menyebarkannya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau merugikan orang lain.

Bedakan fakta dan asumsi

Perubahan perilaku seseorang tidak otomatis membuktikan bahwa ia sedang menghadapi masalah tertentu. Pisahkan hal yang benar-benar terjadi dari dugaan pribadi agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru. Hindari menafsirkan situasi tanpa bukti yang jelas.

Hormati privasi

Informasi pribadi tidak harus menjadi bahan obrolan bersama. Hindari membagikan rahasia atau masalah pribadi rekan kerja tanpa izin. Dengan begitu, kepercayaan dan hubungan profesional di lingkungan kerja tetap terjaga.

Pilih percakapan yang bermanfaat

Jika suatu informasi berkaitan dengan pekerjaan, sampaikan kepada pihak yang memang perlu mengetahuinya. Hindari menyebarkan kabar yang tidak relevan atau berpotensi memicu konflik antar rekan kerja.

Hindari memperkeruh konflik

Sampaikan informasi secara netral tanpa melebih-lebihkan cerita atau menyudutkan pihak tertentu. Dengan begitu, kesalahpahaman dan konflik antar rekan kerja dapat dihindari.

Pertanyaan Seputar Karakter Orang yang Paling Update Gosip di Kantor Menurut Psikologi

Apakah orang yang suka bergosip selalu bisa membedakan fakta dan asumsi?

Belum tentu, dalam psikologi kognitif, manusia dapat mengalami bias konfirmasi, yaitu kecenderungan lebih memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan awalnya. Dalam konteks gosip kantor, seseorang mungkin lebih mudah mempercayai cerita yang sesuai dengan prasangkanya terhadap rekan kerja, meskipun bukti yang tersedia belum cukup.

Apakah kebiasaan bergosip bisa berubah seiring waktu?

Bisa. Kebiasaan berkomunikasi dapat berubah ketika seseorang menyadari dampak perilakunya atau berada dalam lingkungan yang memiliki norma komunikasi berbeda. Misalnya, budaya kerja yang mendorong keterbukaan, menghargai privasi, dan membiasakan verifikasi informasi dapat membantu karyawan lebih berhati-hati sebelum membagikan cerita tentang rekan kerja.

Apakah orang yang paling update gosip di kantor cenderung ekstrovert?

Tidak selalu. Dalam psikologi kepribadian, ekstrovert umumnya digambarkan sebagai individu yang menikmati interaksi sosial. Karena lebih sering berinteraksi dengan orang lain, mereka mungkin memiliki lebih banyak kesempatan mendengar kabar di kantor. Namun, orang introvert juga bisa mengetahui banyak informasi melalui pengamatan dan percakapan dalam lingkaran sosial yang lebih kecil. Jadi, kebiasaan mengikuti gosip tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan seseorang ekstrovert atau introvert.

Apakah orang yang suka bergosip bisa memiliki empati yang tinggi?

Bisa, tetapi kebiasaan bergosip saja tidak cukup untuk menilai tingkat empati seseorang. Empati berkaitan dengan kemampuan memahami atau merasakan keadaan emosional orang lain. Seseorang mungkin membicarakan pengalaman rekan kerja karena merasa prihatin atau ingin mencari cara untuk membantu. Sebaliknya, seseorang juga bisa menyebarkan cerita tanpa mempertimbangkan perasaan pihak yang dibicarakan. Karena itu, penting untuk melihat apakah ia mampu memahami perspektif orang lain dan mempertimbangkan dampak perkataannya.

Itulah beberapa karakter orang yang paling update gosip di kantor menurut psikologi. Dengan memahami berbagai kemungkinan motivasi di balik gosip, kita bisa melihat perilaku ini secara lebih objektif. Kebiasaan mengikuti gosip kantor tidak menentukan kepribadian seseorang, tetapi cara ia mengelola informasi mencerminkan hubungannya dengan orang lain.