Liputan6.com, Jakarta Pernahkah kamu rela berburu potongan harga kecil ketimbang langsung menebus barang mahal yang sudah lama diincar? Kebiasaan seperti ini punya penjelasan ilmiah dan menjadi inti dari ciri orang yang lebih pilih diskon kecil daripada beli mahal menurut psikologi.
Bagi sebagian orang, sensasi "menang" saat berhasil mendapat diskon terasa jauh lebih memuaskan daripada sekadar memiliki barang baru. Rasa puas itulah yang kerap mendorong seseorang menunda pembelian sampai harganya turun, sekecil apa pun potongan yang ditawarkan.
Mengacu pada riset yang diterbitkan ScienceDirect, konsumen yang hemat terbukti kurang materialistis, kurang mementingkan status, dan lebih mandiri dari pendapat orang lain dalam keputusan belanja mereka . Memahami hal ini membantu kamu membaca ciri orang yang lebih pilih diskon kecil daripada beli mahal menurut psikologi secara lebih adil, bukan buru-buru melabelinya "pelit".
Advertisement
Apa Itu Kebiasaan Memilih Diskon Kecil daripada Membeli Barang Mahal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361494/original/062450700_1790735303-de3fd506-f009-4cda-9540-12693dc5ea4d.jpg)
Secara sederhana, ini adalah kecenderungan seseorang untuk lebih tergerak oleh rasa berhasil berhemat dibanding dorongan memiliki barang termahal. Pendekatan semacam ini dekat dengan cara mengatur keuangan dengan bijak, di mana belanja hemat berarti memaksimalkan nilai dari setiap pengeluaran lewat perencanaan cermat tanpa mengorbankan kualitas hidup.
Dalam praktiknya, dorongan ini bekerja lewat prinsip perceived value alias nilai yang dipersepsikan. Diskon membuat pelanggan menganggap sebuah produk lebih bernilai karena mereka yakin sedang mendapat penawaran bagus. Karena itu, potongan kecil pun bisa terasa seperti kemenangan meski selisih harganya sebenarnya tidak besar.
Perilaku ini juga erat dengan sifat hemat sebagai karakter dan bagian dari gaya hidup frugal living. Merujuk riset yang terhimpun di ResearchGate, sifat hemat umumnya dipahami sebagai perbedaan individual bersifat trait yang ditandai kedisiplinan dalam memperoleh barang serta pola pembelanjaan yang cermat dan terkendali. Jadi, memilih diskon kecil daripada beli mahal kerap bukan soal tidak mampu, melainkan cara berpikir yang menekankan kontrol.
Advertisement
Ciri Orang yang Lebih Pilih Diskon Kecil daripada Beli Mahal Menurut Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4698617/original/098171600_1703637508-Warga_Inggris_Ramai-ramai_Berburu_Diskon_di_Boxing_Day-AP__3_.jpg)
Ciri pertama yang paling kentara adalah kebiasaan membandingkan harga dan menunda pembelian sampai muncul potongan. Mereka jarang tergoda membeli di tempat pertama dan lebih suka menabung "kemenangan-kemenangan kecil" dari setiap diskon yang berhasil didapat. Bagi kelompok ini, kebiasaan yang terlihat boros justru bisa menjadi tanda bahwa seseorang cermat dan berpikir jangka panjang soal uang, bukan sekadar pelit.
Ciri berikutnya, mereka piawai menahan diri. Psikolog menyebut orang yang tumbuh dalam keluarga hemat kerap mengembangkan sejumlah sifat khas, termasuk kecemasan soal keuangan sekaligus kemampuan menunda kepuasan. Kemampuan menunda inilah yang membuat mereka sanggup menahan keinginan membeli barang mahal, lalu menunggu momen diskon tiba.
Menariknya, orang yang gemar berburu diskon sering kali jago bernegosiasi dan tegas memilah kebutuhan dari keinginan. Dr. Kim Arrington, psikolog di Hackensack University Medical Center, dikutip dari Parade, menyatakan bahwa anak dari orang tua hemat kerap tumbuh menjadi seorang negosiator yang baik karena mereka perlu membenarkan setiap pembelian dan memilah keinginan dari kebutuhan.
Baca juga: ciri orang yang tidak pernah menawar harga saat belanja.
Ciri terakhir, mereka mendapat kepuasan emosional dari proses berhemat itu sendiri. Berbagai studi menemukan konsumen merasa pintar atau beruntung setiap kali menemukan apa yang mereka anggap sebagai penawaran hebat. Perasaan "menang" inilah yang membedakan mereka dari pembeli impulsif, sekaligus menjelaskan mengapa diskon kecil pun sanggup memicu senyum puas.
Alasan Otak Menyukai Diskon dan Sensasi Berhemat
Salah satu kuncinya adalah loss aversion atau kecenderungan menghindari kerugian. Manusia merasakan kehilangan jauh lebih kuat dibanding keuntungan, sehingga diskon membingkai keputusan belanja sebagai upaya menghindari kerugian, "kalau tidak beli sekarang, aku rugi", alih-alih sekadar mengeluarkan uang. Karena itu, potongan harga terasa seperti menyelamatkan uang, bukan menghabiskannya.
Otak juga memberi "hadiah" secara kimiawi. Diskon bisa memberi sedikit dorongan dopamin karena rasanya seperti berhasil mengalahkan sistem. Bahkan, penelitian menemukan orang yang menerima diskon mengalami lonjakan oksitosin, hormon yang dikenal membuat perasaan nyaman.
Mengutip Volusion, emosi positif yang muncul dari sebuah penawaran membuat orang lebih mudah mengembangkan loyalitas dan mengaitkan pengalaman itu dengan momen menyenangkan saat berhemat. Sensasi menyenangkan inilah yang membuat kebiasaan berburu diskon terasa adiktif dan sulit dilepaskan.
Faktor waktu turut memperkuat dorongan itu. Ketika promo digelar dalam waktu terbatas, muncul rasa bahwa kamu harus segera membeli sebelum masa promosi habis, dan dari sanalah lahir urgensi untuk berbelanja. Supaya tidak kebablasan, tak ada salahnya belajar menghentikan pembelian impulsif yang dipicu diskon dadakan.
Advertisement
Bias Psikologi yang Membuat Diskon Kecil Terasa Menggoda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361516/original/019996000_1790735479-19dbf503-3172-4303-90f7-6be612ca863a.jpg)
Cara sebuah diskon disajikan sangat memengaruhi persepsi. Produk bertanda "diskon 50 persen" bisa terasa berbeda dibanding yang ditulis "harga separuh", padahal keduanya menawarkan penghematan yang sama persis. Otak kita lebih menangkap kesan "hemat besar" ketimbang menghitung nominal sebenarnya.
Ada pula daya tarik kata "gratis". Istilah gratis sangat memotivasi dan dikenal sebagai zero-price effect, membuat orang bereaksi lebih emosional terhadap diskon sehingga makin menginginkannya. Itu sebabnya bonus kecil kerap lebih menggoda dibanding potongan harga bernominal lebih besar.
Fenomena ini didukung temuan menarik soal cara kita menilai penawaran. Riset menyimpulkan bahwa pembeli jauh lebih menyukai mendapat sesuatu yang ekstra secara gratis daripada mendapat sesuatu yang lebih murah. Inilah alasan strategi "beli satu gratis satu" sering lebih ampuh dibanding sekadar memangkas harga.
Kelangkaan dan rasa takut ketinggalan juga bermain. Konsumen jauh lebih mungkin membeli bila yakin sebuah produk hanya tersedia dalam waktu atau jumlah terbatas, karena rasa takut ketinggalan membuat sesuatu yang langka terasa lebih bernilai.
Pola ini terlihat jelas pada promo tanggal cantik seperti 10.10 atau 12.12 yang sengaja dirancang memicu pembelian serentak. Meski begitu, jangan membeli produk hanya karena ada diskon besar jika barangnya sebenarnya tidak kamu perlukan.
Sisi Positif dan Risiko dari Kebiasaan Berburu Diskon
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/5172075/original/010023700_1742703235-WhatsApp_Image_2025-03-23_at_12.09.23.jpeg)
Di sisi positif, kebiasaan ini bisa menyehatkan keuangan. Frugal living bukan berarti hidup pelit, melainkan gaya hidup bijak yang memprioritaskan kebutuhan dan menghindari pemborosan. Bahkan, menabung uang tampak menghasilkan rasa sejahtera yang lebih besar dibanding sekadar menambah penghasilan.
Kebiasaan berhemat yang sehat juga membuka ruang untuk hal yang lebih bermakna. Membelanjakan uang untuk pengalaman, seperti makan bersama, menonton, atau berlibur, cenderung lebih memuaskan dibanding membeli barang. Tak heran bila banyak orang merasakan beragam manfaat dari gaya hidup hemat, mulai dari tabungan yang bertambah sampai berkurangnya stres finansial.
Namun ada sisi yang perlu diwaspadai. Sebagaimana dikutip dari Medium, penulis keuangan personal Ben Le Fort menggambarkan tipe "tightwad", yaitu "sebagian orang merasakan sakit begitu besar saat berbelanja hingga mengeluarkan uang lebih sedikit dari yang seharusnya".Â
Riset membagi hubungan orang dengan uang ke dalam beberapa tipe, mulai dari spendthrift, tightwad, frugal, hingga unconflicted. Terlalu ketat pada uang pun ada harganya. Sikap terlalu berhati-hati soal finansial bisa menghambat perawatan diri dan hubungan dekat, sehingga kesejahteraan justru sulit diraih. Kuncinya ada pada keseimbangan, seperti yang dicontohkan lewat berbagai kiat frugal living untuk Gen Z agar tetap bijak tanpa tersiksa rasa takut ketinggalan.
Advertisement
Cara Menyikapi Diskon agar Tetap Bijak Berbelanja
Kabar baiknya, kamu bisa menikmati diskon tanpa jatuh ke perangkap pemborosan. Langkah pertama memahami hal ini adalah menyadari bahwa diskon dirancang untuk memicu emosi, sehingga setiap keputusan sebaiknya dikembalikan pada kebutuhan nyata.
Biasakan membandingkan harga di berbagai toko sebelum memutuskan, karena menyisihkan waktu untuk membandingkan harga membantumu memperoleh barang lebih terjangkau. Sebelum berangkat, susun daftar dan anggaran seperti anjuran pada tips belanja bulanan hemat, lalu patuhi agar pengeluaran tidak melebar ke barang di luar rencana.
Bedakan dengan jujur antara kebutuhan dan keinginan, lalu tanyakan pada diri sendiri, "apakah aku tetap membeli ini seandainya tidak ada diskon?" Prinsip ini sejalan dengan cara menerapkan frugal living yang menekankan pembelian sesuai kebutuhan, bukan sekadar tergiur label promo. Kalau memang butuh, tak ada salahnya berhemat dengan cerdas dengan menunggu momen diskon untuk barang yang sudah pasti akan kamu pakai.
Fokuslah pada nilai jangka panjang, bukan angka potongan semata. Bila memungkinkan, pilih penawaran bernilai tambah seperti bundel, layanan bonus, atau gratis ongkir yang terasa menguntungkan tanpa mengubah patokan harga di kepalamu. Terakhir, jangan ragu memulai frugal living dari langkah kecil supaya kebiasaan berhemat tumbuh alami dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, ciri orang yang lebih pilih diskon kecil daripada beli mahal menurut psikologi bukanlah soal pelit, melainkan cara otak memaknai nilai, kepuasan, dan rasa aman finansial. Selama kamu tetap mengendalikan keputusan, dan bukan sebaliknya, kebiasaan berburu diskon bisa menjadi bagian dari panduan hidup hemat dan bijak yang justru menguntungkan dalam jangka panjang.
Â
Pertanyaan tentang Kebiasaan Memilih Diskon Kecil
1. Mengapa seseorang lebih memilih diskon kecil daripada langsung membeli barang mahal?
Kebiasaan ini dapat berkaitan dengan keinginan mendapatkan kepuasan dari penghematan. Bagi sebagian orang, berhasil memperoleh harga lebih rendah memberikan rasa puas karena merasa membuat keputusan belanja yang efisien.
2. Apakah suka menunggu diskon berarti seseorang pelit?
Tidak selalu. Memilih diskon dapat mencerminkan perilaku hemat, pertimbangan terhadap nilai barang, atau kebiasaan mengatur pengeluaran. Karakter seseorang tidak dapat disimpulkan hanya dari cara mereka berbelanja.
3. Apakah orang yang suka diskon cenderung tidak materialistis?
Sejumlah penelitian yang membahas konsumen hemat menemukan adanya hubungan antara perilaku hemat dengan tingkat materialisme dan orientasi status yang lebih rendah. Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang menyukai diskon pasti memiliki karakter yang sama.
4. Mengapa mendapatkan diskon bisa terasa lebih menyenangkan?
Diskon dapat menciptakan perasaan bahwa seseorang berhasil memperoleh barang dengan nilai yang lebih baik. Sensasi mendapatkan keuntungan dari sebuah transaksi inilah yang dapat menjadi sumber kepuasan tersendiri.
5. Apakah kebiasaan menunggu diskon selalu menunjukkan pengelolaan keuangan yang baik?
Belum tentu. Menunggu diskon bisa menghemat uang jika barang tersebut memang dibutuhkan. Sebaliknya, membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan hanya karena sedang murah tetap dapat membuat pengeluaran bertambah.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539434/original/056891000_1774600557-SPPI_koperasi_desa_merah_putih.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360761/original/003778800_1790664222-Your_paragraph_text__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361507/original/019299800_1790735415-c115b6c4-f0ac-41bb-854f-df499f4755f9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360092/original/062765500_1790589594-pexels-julio-lopez-75309646-18780712.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359266/original/071655900_1790493554-hl2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354885/original/079098700_1790065306-Oqdb3fSj8sP8hfoLdVTIN72qBw1Rz7LewN3ZFm8C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354884/original/074616300_1790065305-vBD1GH9aBYSPCU4P2bIwb6gLjZeheUG5pFpMr23V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355432/original/088591300_1790131412-12e1a11c-e037-49dd-8866-ecb496f19555.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353381/original/046182300_1789962683-01M2T6WS490FE967FGYS6WW2GD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353839/original/090035200_1789981251-79wiOhm34bpDlmczVyURmngOvcC6qDBJIBLXDgxs.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353869/original/052580800_1789981296-phiJaptY5VvVYjOh8YyrHj5xcxfU4xJNENpfD4cR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353840/original/008476800_1789981253-4RymYVDzVKznWbzHpQM8tN24gwxDEELg6YhXamcx.jpg)