Liputan6.com, Jakarta Mendiamkan orang kerap dianggap jalan pintas untuk meredakan pertengkaran. Padahal, cara mendiamkan orang yang keliru justru bisa memperkeruh suasana dan melukai perasaan.
Ada garis tegas antara diam yang menyehatkan dan diam yang menghukum. Cara mendiamkan orang yang bijak selalu punya tujuan jelas, batas waktu, dan niat untuk kembali berbicara.
Dalam psikologi, sikap sengaja mendiamkan orang dikenal sebagai silent treatment atau perlakuan diam. Sebagaimana disampaikan Cleveland Clinic, silent treatment adalah tindakan menahan komunikasi, baik secara sengaja maupun tidak, yang biasanya muncul saat seseorang kewalahan menghadapi konflik. Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com pada Senin (20/7/2026).Â
Advertisement
Cara Mendiamkan Orang secara Sehat Ketika Emosi Memuncak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301699/original/080201400_1784513171-ChatGPT_Image_20_Jul_2026__09.04.11.jpg)
Saat amarah memuncak, memilih diam sejenak bisa jauh lebih bijak daripada memaksakan diskusi. Cara mendiamkan orang yang sehat bertujuan menurunkan tensi, bukan memenangkan pertengkaran, sehingga masalah tetap bisa dibicarakan setelah kepala dingin.
Ada kalanya berdiam diri justru produktif, selama disertai kesepakatan untuk membahasnya kembali. Lalu, untuk mendiamkan orang secara sehat bisa dilakukan dengan cara berikut:
-
Kenali sinyal emosi yang memuncak: Perhatikan napas yang memburu, dada sesak, atau dorongan untuk membalas. Ini tanda tubuh sedang tidak siap berdiskusi dan butuh menenangkan diri lebih dulu.
-
Sampaikan niat untuk mengambil jeda: Jangan pergi diam-diam. Katakan bahwa kamu butuh waktu, bukan sedang mengabaikan.Â
-
Tetapkan batas waktu yang jelas: Sebutkan durasinya, misalnya "aku butuh 30 menit," lalu berjanji kembali. Sebagaimana diungkapkan Gottman Institute, mengambil jeda saat emosi membanjir (flooding) membantu seseorang berpikir lebih jernih.
-
Manfaatkan jeda untuk meredakan emosi: Atur napas, berjalan sebentar, atau tuliskan perasaanmu. Aktivitas ini membantu kamu menjauh dari situasi pemicu tanpa harus memutus komunikasi.
-
Kembali dan buka kembali percakapan: Setelah tenang, hampiri orang tersebut dan bahas inti masalahnya. Diam yang sehat selalu diakhiri dengan dialog, bukan kebisuan berkepanjangan.
Baca juga: panduan mengontrol emosi agar hidup lebih tenang.
Advertisement
Cara Mendiamkan Orang Toksik yang Menguras Energi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301700/original/093384100_1784513177-0effe11a-eba7-4563-aa0d-7257467fb662.jpg)
Tidak semua orang layak mendapat energi dan penjelasan panjang darimu. Terhadap sosok yang manipulatif atau terus merendahkan, cara mendiamkan orang bisa berubah fungsi menjadi alat perlindungan diri, yaitu membatasi akses mereka pada emosimu.
Dilansir dari Verywell Mind, silent treatment yang dipakai untuk mengontrol dapat membuat masalah penting dalam hubungan tidak pernah terselesaikan. Karena itu, menjaga jarak dari orang yang bersikap toksik berbeda dengan menghukum; fokusnya adalah keselamatan mentalmu.
-
Batasi frekuensi dan kedalaman interaksi: Kurangi obrolan ke hal-hal seperlunya saja. Kamu tidak wajib menanggapi setiap provokasi yang dilontarkan.
-
Tahan reaksi emosional berlebihan: Respons yang datar membuat mereka kehilangan "bahan bakar." Semakin kecil reaksimu, semakin cepat pola manipulasi kehilangan tenaga.
-
Tegakkan batasan yang jelas: Tetapkan perilaku apa yang bisa dan tidak bisa kamu terima. Menghargai batasan personal adalah fondasi hubungan yang sehat.
-
Alihkan fokus ke diri sendiri: Isi waktu dengan hobi, olahraga, atau orang-orang yang mendukungmu. Energi lebih baik dipakai untuk hal positif ketimbang meladeni drama.
-
Cari dukungan bila perlu: Bicarakan dengan orang tepercaya atau tenaga profesional, terlebih bila situasi mulai mengganggu keseharian dan masuk ke pola hubungan yang tidak sehat.
Baca juga: pelajaran berharga yang bisa diambil dari toxic relationship.
Cara Menyikapi Orang yang Mendiamkan Kamu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5222442/original/003021000_1747394287-steptodown.com883206.jpg)
Berada di posisi yang didiamkan memang membingungkan dan melelahkan. Alih-alih membalas dengan taktik serupa, memahami cara mendiamkan orang justru membantumu meresponsnya dengan kepala dingin dan hati yang lebih lapang. Kenali dulu penyebab di baliknya sebelum bereaksi.
-
Tetap tenang dan jangan reaktif: Tarik napas sebelum menuntut jawaban. Ketenangan menunjukkan bahwa kamu bukan orang yang mudah dimanipulasi.
-
Beri ruang tanpa mengabaikan: Beri waktu untuk menenangkan diri, tetapi jangan biarkan berlarut-larut.Â
-
Cari tahu sumber masalah: Tengok kembali apa yang mungkin memicunya. Meregulasi diri secara emosional lebih dulu akan memudahkanmu berpikir jernih.
-
Akui situasi dengan kalimat "aku": Hindari nada menuduh. Katakan, "Aku merasa cemas saat kita tidak bicara," alih-alih "Kamu selalu diam kalau bertengkar."
-
Minta klarifikasi dengan lembut: Ajukan pertanyaan terbuka seperti, "Apakah ada hal yang mengganggumu dan perlu kita bicarakan?" Pendekatan komunikasi yang tenang dan terbuka membuka pintu dialog.
-
Minta maaf bila memang perlu: Jika kamu keliru, akui dengan tulus. Perhatikan pula bahasa tubuh dan sinyal non-verbal untuk mengetahui kapan ia siap bicara.
Advertisement
Kapan Mendiamkan Orang Berubah Menjadi Kekerasan Emosional
Diam sejenak untuk menenangkan diri itu wajar. Namun, diam yang berlangsung berhari-hari, bertujuan menghukum, dan menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan sudah masuk ranah kekerasan emosional. Banyak orang bertanya-tanya, apakah silent treatment itu baik atau buruk. Menariknya, istilah ini berakar dari sistem penjara abad ke-19, saat keheningan total dijadikan hukuman bagi narapidana dan terbukti merusak secara psikologis.
Merujuk laporan Medical News Today, perilaku diam termasuk cara yang tidak sehat untuk menyelesaikan konflik. Dampaknya pun nyata pada tubuh. Berikut tanda cara mendiamkan orang sudah bergeser menjadi manipulasi yang berbahaya:
-
Berlangsung sangat lama: Diam dibiarkan berhari-hari hingga berminggu-minggu tanpa upaya penyelesaian apa pun.
-
Bertujuan menghukum: Diam dipakai agar korban merasa bersalah, bukan untuk menenangkan diri sendiri.
-
Disertai ancaman atau penghinaan: Muncul kata-kata merendahkan sebagai alat kontrol, mirip bentuk kekerasan dalam pacaran.
-
Membuat korban terus menyalahkan diri: Korban sibuk mencari-cari letak kesalahannya sendiri hingga meragukan harga dirinya.
-
Menciptakan ketimpangan kekuasaan: Pelaku memegang kendali penuh atas kapan hubungan boleh kembali cair.
-
Terjadi berulang sebagai pola: Bukan sekali dua kali, melainkan kebiasaan yang muncul setiap ada konflik.
-
Tidak pernah ditutup dengan diskusi: Masalah dibiarkan menggantung tanpa resolusi yang menenangkan kedua pihak.
Jika pola ini yang kamu alami, memaksakan diri bertahan bukanlah keharusan. Baca juga: memahami silent treatment lebih dalam beserta cara mengatasinya, dan pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog bila kondisi mentalmu mulai terganggu. Ingat, tujuan dari setiap cara mendiamkan orang seharusnya meredakan, bukan melukai.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mendiamkan Orang
Apakah mendiamkan orang termasuk perilaku toksik?
Tidak selalu. Diam sejenak untuk menenangkan diri dan disertai kesepakatan untuk dibahas lagi tergolong sehat. Perilaku ini baru menjadi toksik ketika dipakai untuk menghukum, mengontrol, atau memanipulasi orang lain dalam waktu lama.
Berapa lama sebaiknya mendiamkan seseorang saat sedang marah?
Secukupnya untuk meredakan emosi, umumnya beberapa menit hingga beberapa jam, dan sebaiknya tidak dibiarkan berhari-hari. Yang terpenting adalah menyepakati kapan pembicaraan akan dilanjutkan agar masalah tidak menggantung dan menumpuk.
Apa yang harus dilakukan jika didiamkan seseorang?
Tetap tenang, beri ruang secukupnya, lalu ajak bicara dengan kalimat "aku" tanpa nada menuduh. Bila perlakuan diam terus berulang dan mengganggu kesehatan mentalmu, pertimbangkan menetapkan batasan yang tegas atau berkonsultasi dengan psikolog.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7669455/original/089727000_1780463646-Ahok_cek_fakta_dana_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302208/original/030738800_1784536511-Screenshot_2026-07-20_150334.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5507012/original/063330600_1771481312-baznas_ramadan_-_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301698/original/033633800_1784513161-ChatGPT_Image_20_Jul_2026__09.01.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301617/original/065063300_1784505165-ar1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301608/original/075036800_1784503489-TORRES_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301667/original/044600200_1784511418-messi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302473/original/030559500_1784555002-Spain_s_Gavi__left__falls_as_he_scuffles_with_Argentina_s_Leandro_Paredes__5__and_Thiago_Almada.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258400/original/000932100_1781342638-063_2281325777.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301814/original/084260800_1784520494-simeone.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5163925/original/080587200_1742089761-madrid_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293816/original/090553700_1783751992-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302437/original/062865000_1784549461-Argentina_s_Lionel_Messi__10__takes_a_corner_watched_by_Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302430/original/022838000_1784547974-FIFA_President_Gianni_Infantino__left__and_President_Donald_J._Trump__center__congratulate_Spain_s_Pau_Cubars__.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302353/original/019992900_1784542330-000_C2LP6JB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301375/original/093207900_1784453557-81251ffc-19d4-439c-9fc6-fb2f892ca4c7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298525/original/006692900_1784173860-fsPtjWwkcSRp8f7O6YhC5iNUUzpMsjD4FLGZMqEP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292755/original/074232000_1783655491-1M42a8wjecJO8uljCPhiU9rf6glHhFBhElRJERK1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301211/original/089061000_1784444602-ae688e14-3272-425d-931f-441300d2aba7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291906/original/082189800_1783579891-vU6HPdueSyzdBEYV0RjPNUTCFaPVStiwBzuU09F1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298504/original/010617600_1784173835-I0KjEhkqCom3v1XIJX39O6bolnXKI5RMLubRVxI3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298546/original/081020300_1784173886-eLx0V7c7N171OazOEWhkLOGChfdjh8yVG4xdmAVg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291909/original/002566200_1783579896-wM5aaqYmLlkTYZcBjn51kFRgvXt5BW20go5Kns62.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295371/original/050149500_1783927840-SN0JjksmwMopUeJjInRwE5jRqyKJhjvENxQI1oR0.jpg)