12 Kucing Pembawa Rezeki Menurut Primbon Jawa, Dipercaya Bawa Keberuntungan

Percaya atau tidak, primbon Jawa menyebut beberapa jenis kucing bisa membawa rezeki dan keberuntungan. Simak 12 kucing pembawa rezeki menurut primbon Jawa yang

Diterbitkan 22 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada jenis-jenis kucing pembawa rezeki menurut primbon Jawa. Sejak zaman dahulu, masyarakat Jawa memiliki kepercayaan yang kuat terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk hewan peliharaan. Kucing, sebagai salah satu hewan yang banyak dijumpai di masyarakat Indonesia, tidak hanya dianggap lucu dan menggemaskan. Lebih dari itu, kucing juga dipercaya dapat membawa pertanda baik atau buruk bagi pemiliknya.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, kucing bukanlah sekadar hewan peliharaan biasa. Beberapa jenis kucing diyakini memiliki pertanda tertentu bagi pemiliknya, mulai dari membawa keberuntungan, kelancaran rezeki, keselamatan, hingga kemudahan dalam menjalani hidup. Kepercayaan ini telah mengakar kuat dalam budaya lokal.

Kepercayaan mengenai kucing pembawa rezeki menurut primbon Jawa ini salah satunya tertulis dalam naskah kuno Serat Ngalamating Kucing. Berikut 12 jenis kucing dengan ciri fisik khusus yang konon mendatangkan kelancaran rezeki, keselamatan, dan kebahagiaan bagi pemiliknya, berdasarkan tafsir primbon Jawa, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (21/5/2026).

Kucing Wulan Krahingan

Kucing Wulan Krahingan memiliki ciri khas bulu hitam polos yang mendominasi hampir seluruh tubuhnya. Namun, keunikan utamanya terletak pada corak putih yang tampak jelas di bagian perut sebelah kiri. Penanda fisik ini menjadi identifikasi penting menurut kepercayaan Primbon Jawa.

Dalam tradisi Primbon Jawa, jenis kucing ini dipercaya kuat membawa keberuntungan dan kemudahan dalam mencapai keinginan pemiliknya. Kehadirannya diyakini dapat membuka jalan bagi kelancaran rezeki dan terpenuhinya harapan. Pemiliknya diharapkan akan merasakan aliran keberuntungan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepercayaan mengenai kucing Wulan Krahingan ini tertulis dalam naskah kuno Serat Ngalamating Kucing, bait keempat, yang artinya: "Jangan kamu memelihara kucing yang badannya hitam semua, perut sebelah kiri bercorak putih, akan membawa kebaikan, dinamakan kucing Wulan Krahingan, akan terkabul segala keinginannya. Kalau ekornya tumpul lebih baik."

Kutipan tersebut menjelaskan secara rinci tentang pertanda baik yang dibawa oleh kucing dengan ciri-ciri tersebut. Ini menegaskan posisi Wulan Krahingan sebagai salah satu kucing pembawa rezeki.

 

Kucing Leksana Nira

Kucing Leksana Nira dikenali dari ciri khas bulu berwarna hitam di sekujur tubuhnya. Namun, yang membedakannya adalah keempat kakinya yang memiliki corak atau belang putih. Kombinasi warna ini dianggap memiliki makna khusus dalam primbon Jawa.

Menurut Primbon Jawa, jenis kucing ini dipercaya membawa keberuntungan serta kelimpahan rezeki bagi pemiliknya. Selain itu, kucing Leksana Nira juga diyakini dapat menciptakan suasana tenteram dan penuh kebahagiaan dalam rumah tangga. Kehadirannya diharapkan membawa ketenangan batin.

Keyakinan tentang kucing Leksana Nira ini tercatat dalam Serat Ngalamating Kucing, bait kedua, yang artinya: "Jika ingin memelihara kucing, cari yang keempat kakinya belang putih, utamanya yang hitam bulunya, dinamakan Leksana Nira. Yang memelihara akan bahagia, banyak rezekinya, apalagi jika ekornya tumpul."

Naskah kuno tersebut menguraikan bagaimana ciri fisik tertentu pada kucing dapat menjadi indikasi keberuntungan. Kucing ini menjadi simbol kemakmuran dan kebahagiaan.

 

Kucing Pujanggana Mengku

Kucing Pujanggana Mengku memiliki ciri fisik yang sangat mencolok, yaitu badan berwarna putih bersih secara keseluruhan. Namun, bagian kepalanya justru berwarna hitam pekat, menciptakan kontras yang unik. Ciri ini menjadi penanda penting dalam primbon.

Dalam Primbon Jawa, kucing dengan karakteristik ini dipercaya membawa berbagai pertanda baik bagi pemiliknya. Keberuntungan, kelancaran rezeki, hingga kesehatan yang prima adalah beberapa manfaat yang diyakini dapat diperoleh. Kucing ini dianggap sebagai pembawa energi positif.

Kepercayaan mengenai kucing Pujanggana Mengku ini juga tertulis dalam Serat Ngalamating Kucing, bait keenam, yang artinya: "Jika kamu memelihara kucing, badannya putih semua, namun hanya kepalanya saja yang hitam, itu pertanda baik, banyak kelebihanmu, dinamakan Pujanggana Mengku. Yang ekornya tumpul lebih utama."

Naskah tersebut menggarisbawahi keistimewaan kucing ini. Pemiliknya diharapkan akan mendapatkan banyak kelebihan dalam hidup.

 

Kucing Satriya Tapa

Kucing Satriya Tapa memiliki ciri khas pada empat telapak kakinya yang berwarna belang putih. Selain itu, bagian mulut dan area matanya juga memiliki corak putih yang serupa. Kombinasi corak ini memberikan penampilan yang khas dan mudah dikenali.

Menurut Primbon Jawa, kucing ini dipercaya sebagai pembawa pertanda baik dan dapat membantu terkabulnya keinginan pemiliknya. Kehadiran Satriya Tapa diyakini mampu menjadi perantara bagi doa dan harapan yang dipanjatkan. Ini menjadikannya hewan peliharaan yang istimewa.

Kepercayaan ini secara eksplisit tertulis dalam Serat Ngalamating Kucing, bait kedelapan, yang artinya: "Jika kamu memelihara kucing, yang telapak kakinya belang putih, begitu juga mulut dan matanya, itu pertanda baik, disebut Satriya Tapa. Keinginanmu dikabulkan, yang berekor tumpul paling utama."

Naskah kuno tersebut memberikan panduan tentang jenis-jenis kucing yang membawa keberuntungan. Satriya Tapa adalah salah satu yang paling dihormati dalam tradisi ini.

 

Kucing Pandhita Lelaku

Kucing Pandhita Lelaku memiliki ciri khas adanya garis putih yang membentang dari bagian punggung hingga ke mulutnya. Menariknya, warna bulu lainnya pada kucing ini bisa beragam, tidak terpaku pada satu warna tertentu. Garis putih inilah yang menjadi penanda utamanya.

Jenis kucing ini dipercaya membawa pertanda baik menurut Primbon Jawa. Kehadirannya di rumah diyakini dapat mendatangkan aura positif dan keberuntungan bagi penghuninya. Kucing Pandhita Lelaku dianggap sebagai simbol perjalanan spiritual yang lurus dan membawa berkah.

Kepercayaan mengenai kucing Pandhita Lelaku ini tercantum dalam Serat Ngalamating Kucing, bait kesepuluh, yang artinya: "Kalau kamu memelihara kucing, di punggungnya bergaris putih, apa saja warna bulunya, sampai pada mulutnya, itu perlambang bagus, disebut Pandhita Lelaku. Yang ekornya tumpul lebih baik."

Naskah tersebut menguraikan detail ciri fisik dan makna filosofis di baliknya. Ini menunjukkan kedalaman pemahaman masyarakat Jawa terhadap alam dan hewan.

 

Kucing Sangga Buwana

Kucing Sangga Buwana memiliki ciri khas berupa punggung yang belang, dengan warna wajah yang serupa dengan warna bulu pada tubuhnya. Kombinasi corak ini menciptakan harmoni visual yang indah. Ciri ini dianggap istimewa dalam primbon Jawa.

Dalam Primbon Jawa, kucing ini dipercaya membawa pertanda baik dan menjadi simbol terkabulnya doa bagi pemiliknya. Kucing Sangga Buwana diyakini memiliki kekuatan spiritual untuk membantu mewujudkan harapan. Kehadirannya dianggap membawa berkah dari langit.

Kepercayaan tersebut tertulis dalam Serat Ngalamating Kucing, bait ke-12, yang artinya: "Jika kamu memelihara kucing, yang punggungnya belang, bulunya serupa wajahnya, itu pertanda baik, disebut Sangga Buwana. Terkabul doa bagi yang memelihara, yang ekornya tumpul lebih utama."

Naskah kuno ini menjelaskan bagaimana karakteristik fisik kucing dapat dihubungkan dengan takdir dan keberuntungan. Sangga Buwana adalah salah satu yang paling dicari oleh mereka yang percaya primbon.

 

Kucing Wisnu Atapa (Wisnu Topo)

Kucing Wisnu Atapa digambarkan sebagai kucing yang sangat pendiam atau jarang mengeluarkan suara. Selain itu, warna wajahnya serupa dengan warna bulu di tubuhnya, menunjukkan keselarasan. Sifatnya yang tenang menjadi ciri khas utama.

Kucing ini dipercaya membawa berbagai kebaikan bagi pemiliknya, seperti keselamatan, kesehatan, dan ketenteraman hidup. Kehadiran Wisnu Atapa diyakini mampu menciptakan suasana damai di lingkungan rumah. Kucing ini dianggap sebagai pelindung.

Kepercayaan mengenai kucing Wisnu Atapa tercantum dalam Serat Ngalamating Kucing, bait ke-14, yang artinya: "Kalau kamu memelihara kucing, diam tanpa ada suara, bulu serta mukanya, itu akan menjadi baik, seperti dewa yang bertapa. Namun besar risikonya, jangan pernah menganiayanya."

Dalam tafsir Primbon Jawa, kucing Wisnu Atapa dianggap memiliki aura yang kuat dan membawa perlindungan bagi rumah maupun pemiliknya. Naskah tersebut juga memberikan peringatan penting. Pemilik dilarang menyia-nyiakan atau menganiaya kucing ini, karena perlakuan buruk dapat mendatangkan kesialan.

 

Kucing Rekatha Sura (Candra Mawa)

Kucing Rekatha Sura memiliki ciri khas berupa pusaran bulu atau pola menyerupai pusar pada bagian kepala dan dadanya. Pola unik ini menjadi penanda penting yang membedakannya dari kucing lain. Pusaran ini dianggap sebagai tanda istimewa.

Dalam Primbon Jawa, kucing dengan tanda tersebut dipercaya membawa pertanda yang sangat baik bagi pemiliknya. Pusaran bulu dianggap menjadi tanda istimewa yang tidak dimiliki semua kucing, melambangkan keberuntungan besar. Kucing ini dianggap sangat beruntung.

Kepercayaan mengenai kucing Rekatha Sura tertulis dalam Serat Ngalamating Kucing, bait ke-10, yang artinya: "Lihatlah kucing, yang mempunyai pusar bulu, di bagian kepala dan dadanya, tanpa membuat kekacauan, dinamakan Rekatha Sura. Baiknya berlebih-lebih, disebut Candra Mawa.".

Naskah kuno ini menyoroti keistimewaan kucing Candra Mawa. Kehadirannya diyakini dapat mendatangkan kemakmuran dan kebaikan yang berlimpah bagi pemiliknya.

 

Kucing Sari Kuning

Kucing Sari Kuning memiliki ciri khas berupa garis memanjang dari bagian punggung hingga ke wajahnya. Garis ini bisa memiliki warna yang kontras dengan bulu lainnya, membuatnya mudah dikenali. Ciri fisik ini memiliki makna mendalam dalam primbon.

Dalam Primbon Jawa, kucing ini dipercaya membawa manfaat besar dan menjadi simbol keberuntungan bagi pemiliknya. Bahkan, kucing ini diibaratkan seperti "menyimpan emas", yang melambangkan nilai keberuntungan dan manfaat besar bagi kehidupan. Kehadirannya dianggap membawa kekayaan.

Kepercayaan tersebut tertulis dalam Serat Ngalamating Kucing, bait ke-21, yang artinya: "Jika kamu memelihara kucing, yang punggungnya bergaris panjang, kemudian juga wajahnya, baik manfaatnya untuk kita, Sari Kuning namanya. Yang memelihara kucing itu, ibaratnya menyimpan emas."

Naskah tersebut menjelaskan bagaimana kucing Sari Kuning dapat menjadi sumber rezeki. Ini menunjukkan betapa tinggi nilai kucing ini dalam pandangan masyarakat Jawa.

 

Kucing Udan Emas

Kucing Udan Emas memiliki ciri khas bulu berwarna merah keputih-putihan. Warna ini seringkali menyerupai warna rusa atau menjangan, memberikan kesan eksotis pada penampilannya. Ciri unik ini menjadi penanda keberuntungan.

Dalam Primbon Jawa, kucing ini dipercaya sebagai pembawa rezeki dan kemuliaan bagi orang yang memeliharanya. Nama "Udan Emas" sendiri memiliki makna hujan emas, yang melambangkan datangnya keberuntungan dan kemakmuran secara terus-menerus. Kucing ini dianggap membawa berkah yang tak terhingga.

Kepercayaan mengenai kucing Udan Emas tertulis dalam Serat Ngalamating Kucing, bait ke-22, yang artinya: "Kamu sudah memelihara kucing, merah keputihan warna kucing itu, seperti menjangan warnanya, lebih baik berilah makan dia. Maka akan banyak rezeki, mendapat derajat lah yang memelihara, disebut kucing Udan Emas."

Naskah kuno ini menegaskan peran kucing tersebut sebagai pembawa kemakmuran. Pemiliknya diharapkan akan mendapatkan derajat yang tinggi dan rezeki yang melimpah.

 

Kucing Kusumo Wibowo

Kucing Kusumo Wibowo memiliki ciri khas kepala dan keempat telapak kakinya berwarna putih polos. Meskipun badannya bisa memiliki warna dan corak tertentu yang bervariasi, bagian putih ini menjadi identifikasi utamanya. Ciri ini dianggap membawa aura kemuliaan.

Bagi pemelihara yang merawatnya dengan baik, kucing ini dipercaya akan mendapatkan rezeki dengan mudah. Kucing Kusumo Wibowo diyakini mampu membuka pintu-pintu rezeki yang sebelumnya tertutup. Kehadirannya membawa keberuntungan dan kemudahan dalam hidup.

Kepercayaan ini berasal dari tafsir primbon Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kucing ini menjadi simbol kemuliaan dan kewibawaan. Merawatnya dengan penuh kasih sayang dipercaya akan mengundang berkah.

Kucing Condromowo

Kucing Condromowo memiliki berbagai ragam dan corak warna yang berbeda-beda, menunjukkan keunikan pada setiap individu. Namun, ciri khas yang paling menonjol adalah adanya unyeng-unyeng atau pusaran pada bagian kepala, punggung, atau dadanya. Pusaran ini adalah penanda utamanya.

Dipercaya bahwa kucing ini dapat membawa kemuliaan dan kemakmuran rezeki bagi pemiliknya. Kucing Condromowo dianggap memiliki energi positif yang kuat. Kehadirannya di rumah diyakini dapat meningkatkan status sosial dan finansial pemiliknya.

Dalam tradisi primbon Jawa, kucing dengan pusaran bulu seperti ini selalu dikaitkan dengan keberuntungan. Keberadaan pusaran ini menjadi indikator bahwa kucing tersebut adalah pembawa berkah. Merawatnya dengan baik akan mendatangkan kebaikan.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa yang tertuang dalam Serat Ngalamating Kucing, terdapat 12 jenis kucing dengan ciri fisik khusus yang diyakini sebagai kucing pembawa rezeki menurut primbon Jawa. Ini menunjukkan kekayaan budaya dan filosofi Jawa.

Apapun kepercayaan Anda, merawat kucing dengan baik adalah perbuatan mulia yang patut dilakukan. Kucing yang sehat dan bahagia akan memberikan ketenangan bagi pemiliknya, terlepas dari mitos yang menyertainya. Kasih sayang kepada hewan adalah nilai universal.

 

Pertanyaan Seputar Kucing Pembawa Rezeki

Q: Apakah kepercayaan ini berasal dari Islam atau ajaran agama?

A: Tidak. Kepercayaan ini berasal dari tradisi dan naskah kuno Jawa, seperti Serat Ngalamating Kucing, bukan dari ajaran agama. Umat Islam tetap meyakini bahwa rezeki semata-mata dari Allah SWT, namun mitos ini dihormati sebagai kearifan lokal budaya Jawa.

Q: Apakah semua kucing kampung bisa menjadi pembawa rezeki?

A: Tidak semua. Hanya kucing dengan ciri fisik khusus (seperti corak putih di perut kiri, kaki belang, pusaran bulu, dll.) yang disebut dalam primbon. Kucing biasa tanpa ciri tersebut tidak dianggap memiliki pertanda khusus.

Q: Apakah ekor tumpul benar-benar pertanda utama?

A: Menurut Serat Ngalamating Kucing, ekor tumpul (bundel) memang disebut lebih utama dibandingkan ekor panjang untuk beberapa jenis kucing. Namun, tidak semua kucing berekor tumpul otomatis pembawa rezeki – tetap harus memenuhi ciri warna dan corak tertentu yang disebutkan dalam primbon.

Q: Apa yang harus dilakukan jika memiliki kucing pembawa rezeki?

A: Merawat kucing dengan baik, memberinya makan, dan tidak menyakitinya adalah tindakan yang dianjurkan. Dalam primbon, menyayangi kucing tersebut dipercaya akan memperkuat datangnya keberuntungan. Sebaliknya, menganiayanya dapat mendatangkan petaka.

Q: Apakah kucing Wisnu Atapa benar-benar bisu?

A: Kucing Wisnu Atapa digambarkan sebagai kucing yang sangat pendiam atau jarang bersuara, bukan bisu total dalam arti medis. Keistimewaannya justru pada sifatnya yang tenang dan tidak banyak mengeluarkan suara.