Liputan6.com, Jakarta Belakangan, istilah gelu ramai diperbincangkan setelah kerap muncul dalam berbagai konten horor bertema Jawa. Secara harfiah, gelu adalah gumpalan tanah yang berbentuk bulat dan berfungsi sebagai pengganjal jenazah saat dimakamkan.
Popularitas kata ini tidak lepas dari mitos pulung gantung yang berkembang di Gunungkidul, Yogyakarta. Bagi warga yang memercayainya, gelu adalah petunjuk yang diyakini muncul tepat di bawah mayat atau jasad yang tergantung.
Namun, penjelasan mistis semacam ini perlu ditempatkan pada porsinya. Mengutip kajian HIMIESPA FEB UGM, pulung gantung sejatinya hanyalah mitos yang tidak dapat menjelaskan tingginya angka bunuh diri di daerah tersebut.
Advertisement
Gelu Adalah Apa? Pengertian dan Asal-usul Istilahnya
Untuk memahami maknanya secara utuh, penting mengetahui bahwa gelu sebagai pengganjal jenazah berasal dari tradisi pemakaman. Tanah yang dibulat-bulat berdiameter kurang lebih 10 cm untuk sandaran mayat saat diletakkan di liang lahat dalam bahasa Jawa disebut gelu, sedangkan dalam bahasa Sunda disebut gegelu. Jadi, secara asal-usul, benda ini merupakan perlengkapan pemakaman yang lazim, bukan benda gaib.
Dalam konteks mitos, pengertian gelu adalah gumpalan tanah bulat yang dipercaya sebagai alas atau pengganjal jenazah pelaku bunuh diri. Secara filosofis, gelu bisa dibaca sebagai lambang beban batin yang membulat dan mengeras; tanah yang tadinya remah dan ringan menjadi padat karena tekanan. Dalam pandangan Jawa, tanah bukan sekadar tempat berpijak, melainkan ruang asal, tempat hidup, sekaligus tempat kembali, sehingga benda kecil dari tanah pun kerap diberi makna simbolik.
Perlu dicatat, kata gelu ternyata memiliki arti berbeda di luar konteks budaya Jawa. Dalam bahasa Bali, gelu bermakna respons fisik dan mental karena adanya suatu hal yang tidak terduga. Dalam bahasa Latin, gelu berarti es atau beku, dan bahkan menjadi nama tokoh pahlawan berjuluk Devil's Bane dalam seri gim Heroes of Might and Magic.
Di ranah teknologi, singkatan GELU juga populer. Dilansir dari Ultralytics, GELU adalah kependekan dari Gaussian Error Linear Unit, yaitu sebuah fungsi aktivasi pada jaringan saraf tiruan yang banyak digunakan model kecerdasan buatan modern seperti BERT dan GPT. Karena itu, memahami konteks kalimat menjadi kunci saat menemukan kata gelu, apakah merujuk pada tradisi, bahasa daerah, atau istilah teknis.
Fungsi Gelu Sebagai Pengganjal Jenazah dalam Pemakaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289184/original/077329700_1783395405-ac0c5ea8-5191-4592-844c-d71733784e6b.jpeg)
Fungsi utama gelu sebenarnya bersifat teknis dalam prosesi pemakaman Islam. Jenazah wajib dimiringkan ke sebelah kanan dan dihadapkan ke arah kiblat, serta disunahkan menempelkan pipi jenazah ke bumi. Agar posisi miring ini bertahan dan tubuh tidak terlentang, dibutuhkan penyangga.
Di sinilah gelu berperan. Beberapa butir bantalan tanah disusun di bagian belakang tubuh jenazah, mulai dari kepala, pundak, punggung, hingga kaki, dengan jumlah ganjil, yaitu tiga, lima, atau tujuh butir, agar jenazah tetap miring menghadap kiblat dan tidak roboh. Dengan demikian, keberadaan gelu di dalam liang kubur adalah hal yang wajar dan justru dianjurkan.
Pemahaman ini penting untuk meluruskan persepsi. Meskipun dalam kajian fikih bulatan tanah ini tidak termasuk hal yang bersifat prinsip, dalam praktik masyarakat gelu menjadi sesuatu yang mengiringi jenazah di dalam kubur. Artinya, menemukan gelu di bawah sebuah makam bukanlah pertanda supranatural, melainkan konsekuensi dari cara pemakaman yang memang menggunakan penyangga tanah.
Kaitan Gelu dengan Mitos Pulung Gantung
Nama gelu menjadi begitu terkenal karena terhubung dengan pulung gantung. Dalam bahasa Jawa, pulung berarti takdir, sedangkan pulung gantung dimaknai semacam takdir kematian seseorang dengan cara gantung diri. Secara visual, pulung gantung diyakini sebagai benda berbentuk bola api besar yang terbang di langit dan dianggap pertanda buruk. Untuk gambaran lebih lengkap, pembaca bisa menyimak ulasan tentang pulung gantung antara fakta dan mitos.
Kaitan antara keduanya terletak pada ritual setelah kejadian. Menurut cerita yang berkembang, ketika ada dugaan pulung gantung, warga akan segera menggali tanah tepat di bawah jenazah, dan bila benar karena pulung gantung akan ditemukan tiga bongkahan bola tanah yang masih basah. Lebih jauh lagi, bola tanah tersebut dipercaya harus segera diambil agar tidak menular ke warga lain. Kisah semacam ini bisa dibaca dalam kesaksian para penyintas soal mitos ini.
Versi cerita yang lebih menyeramkan mengaitkan gelu dengan makhluk halus. Pencarian gelu di bawah jasad dipercaya dapat mencegah gantung diri di masa depan, dan konon dapat mengusir makhluk yang menjelma menjadi pulung gantung. Makhluk itu digambarkan berwujud manusia berkulit hitam membusuk dengan darah menetes dari hidung dan telinga, yang diyakini menjaga tali yang biasa digunakan para korban. Cerita seperti ini tumbuh subur di tengah masyarakat, sebagaimana banyak kisah pulung gantung lain yang dikenal turun-temurun.
Meski demikian, kepercayaan ini kian menipis seiring waktu. Cahaya misterius yang disebut sebagai pertanda itu, dalam banyak cerita, digambarkan sebagai bola api yang terbang di langit malam, meskipun tidak pernah ada penjelasan rinci yang bisa dibuktikan. Fenomena ini merupakan bagian dari lanskap kepercayaan Jawa yang luas, mulai dari primbon hingga berbagai pantangan pada malam 1 Suro.
Advertisement
Proses dan Syarat Pencarian Gelu Menurut Kepercayaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4210660/original/055358700_1667286488-mor-1667137364_6360134358e9f.jpg)
Menurut kepercayaan setempat, gelu tidak bisa dicari sembarangan karena proses penggalian tanah harus memenuhi syarat menurut para sesepuh atau pemuka adat masyarakat. Berdasarkan sejumlah kesaksian warga yang pernah melakukan penggalian, hasilnya kerap tidak seragam, bahkan sering kali meski sudah digali, gelu yang dicari tidak ditemukan. Berikut tahapan dan syarat yang umum diyakini:
- Pembacaan doa oleh pemuka adat. Syarat pertama pencarian gelu adalah pembacaan doa-doa oleh tokoh adat sebelum penggalian dimulai.
- Digali sebelum jenazah diturunkan. Konon, gelu hanya bisa ditemukan jika tanah digali tepat di bawah mayat, sebelum tubuh diturunkan.
- Lokasi tepat di bawah jasad. Titik penggalian diyakini harus persis berada di bawah tubuh korban yang tergantung.
- Jumlah gelu ganjil. Kadang hanya ditemukan satu, dua, atau tiga gumpalan tanah, dengan jumlah tiga dianggap paling ideal.
- Segera diambil. Gelu yang ditemukan diyakini harus langsung diangkat agar "tuah" buruknya tidak menyebar ke warga lain.
- Diyakini mencegah kejadian berulang. Sebagian orang percaya gelu adalah kunci untuk menghentikan rangkaian kematian, dan jika tidak ditemukan, pulung gantung diyakini akan terus datang.
- Bergantung pada terpenuhinya syarat. Jika syaratnya tidak dipenuhi, gelu diyakini tidak akan pernah terlihat.
Ritual ini memperlihatkan betapa kuatnya kepercayaan lokal, mirip dengan banyak mitos lain yang masih beredar di masyarakat. Bagi masyarakat pendukungnya, praktik ini menjadi cara kolektif untuk memberi makna atas peristiwa tragis yang sulit diterima nalar.
Fakta dan Penjelasan Ilmiah di Balik Mitos Gelu
Kabupaten Gunungkidul memang lama dikenal dengan angka bunuh diri yang tinggi, tetapi para peneliti menegaskan penyebabnya bukan hal gaib. Sejak era 1960-an wilayah ini dikenal tandus dan rawan kekeringan, dan tragedi bunuh diri lebih erat kaitannya dengan kemiskinan, kekering, serta kesulitan hidup sehari-hari. Studi yang dimuat Analisa: Journal of Social Science and Religion bahkan menyimpulkan, "Mitos ini mampu memperdalam rasa putus asa sehingga mempercepat keputusan seseorang untuk mengakhiri hidupnya."
Penelitian dalam Jurnal Psikologi Ulayat menemukan, "Perilaku bunuh diri tidak dilakukan sebagai respons terhadap kepercayaan pulung." Sementara itu, sebuah analisis retrospektif yang dipublikasikan di ResearchGate menyebutkan, "Kisah atau mitos ini bisa dilihat sebagai upaya untuk mengubur rasa malu."Â Dengan kata lain, mitos gelu dan pulung gantung berfungsi sebagai bahasa budaya untuk memahami peristiwa yang mengguncang, bukan bukti sebab-akibat gaib.
Para ahli menilai pendekatan mitos tidak cukup untuk menanggulangi persoalan ini. Kajian yang dimuat Atlantis Press menegaskan, "Teori-teori yang ada tentang bunuh diri dan kematian belum cukup menjelaskan fenomena di Gunungkidul." Karena itu, alih-alih terpaku pada mitos, langkah paling penting adalah mengenali tanda-tanda seseorang ingin bunuh diri dan memahami cara mencegah bunuh diri secara tepat.
Catatan: Bunuh diri sering kali bukan akibat satu faktor, melainkan kombinasi berbagai masalah emosional, psikologis, dan sosial, sehingga membutuhkan penanganan serius sebagai bagian dari isu darurat kesehatan mental. Bila Anda atau orang terdekat sedang berada dalam tekanan berat, jangan ragu menghubungi layanan kesehatan jiwa terdekat atau Halo Kemenkes di 1500-567, karena berbicara dan mencari bantuan adalah langkah pertama menuju pemulihan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Gelu
1. Apa itu gelu dalam bahasa Jawa?
Dalam bahasa Jawa, gelu adalah gumpalan atau bulatan tanah berbentuk bulat berukuran sekitar 10 cm yang digunakan sebagai penyangga dan pengganjal jenazah saat dimakamkan. Fungsinya menjaga tubuh jenazah tetap miring menghadap kiblat di dalam liang lahat, sehingga sebenarnya merupakan perlengkapan pemakaman yang lazim, bukan benda gaib.
2. Mengapa gelu dikaitkan dengan mitos pulung gantung?
Gelu dikaitkan dengan pulung gantung karena dalam cerita masyarakat Gunungkidul, gumpalan tanah ini diyakini muncul tepat di bawah jasad korban gantung diri. Sebagian warga percaya menemukan dan mengambil gelu dapat mencegah kejadian serupa terulang, meski keyakinan ini tidak memiliki dasar ilmiah dan kini hanya dipegang sebagian kecil masyarakat.
3. Apakah keberadaan gelu bisa dijelaskan secara ilmiah?
Bisa. Gelu adalah bantalan tanah yang memang lazim dipakai untuk menyangga jenazah di liang kubur, sehingga wajar ditemukan di bawah makam mana pun. Para peneliti menegaskan tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul lebih tepat dijelaskan lewat faktor kesehatan jiwa, kemiskinan, dan tekanan sosial, bukan oleh kekuatan gaib dari gelu maupun pulung gantung.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5143694/original/079839900_1740549746-WAWANCARA_PRESIDEN_KE-6_SBY_ANG__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1791827/original/015659300_1512525714-10321102_10205492268656460_4374129301795033883_o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288187/original/072178800_1783308035-qttrw02p13YDlvDeNDMJYrjcNT33HbMTJxWB87et.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289170/original/048335500_1783394486-063_2284674341.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289160/original/045856400_1783393532-063_2284950784.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289056/original/097559000_1783389885-063_2284969451.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709339/original/015500500_1782788430-neymar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929771/original/004907300_1782959836-bos3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516473/original/017053500_1772306812-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8906115/original/073442900_1782946797-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288986/original/034116600_1783373945-000_B9FD7NA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288982/original/076824500_1783372194-000_B9FD6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4283166/original/072851600_1672970832-wedding-bands-hands-bride-groom-with-beautiful-wedding-bouquet-made-greenery-white-flowers_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6571887/original/005344600_1779416688-deodoran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5751148/original/094619400_1778651789-unnamed__79_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3225987/original/098481400_1599023065-Imunisasi-Campak5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571428/original/061592000_1777620306-pis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4617868/original/072798700_1697788718-_fpdl.in__shower-head-with-hot-water_23-2149088614_normal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5372348/original/034637900_1759740027-meteor_jatuh.jpg)