Liputan6.com, Jakarta - Di tengah kenaikan kasus campak diikuti dengan berbagai mitos yang diwariskan turun-temurun. Mulai dari larangan mandi hingga anjuran minum air kelapa saat terinfeksi.
Tak sedikit orang yang bingung membedakan mana yang benar-benar membantu proses penyembuhan dan mana yang justru bisa menghambat pemulihan.
Lalu, bagaimana faktanya menurut medis? Berikut penjelasan dokter.
Advertisement
1. Benarkah Tidak Boleh Mandi Saat Kena Campak?
Faktanya: Boleh mandi saat terkena campak seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Erpryta Nurdia Tetrasiwi dari Eka Hospital MT Haryono Jakarta.
"Boleh dong mandi, tidak masalah," kata Pryta.
Namun, pada beberapa orang yang masih mengalami demam mungkin merasa tidak nyaman untuk mandi karena akan merasa kedinginan. Pada kondisi ini tidak apa bila tidak ingin mandi.
Apabila kondisi sudah membaik dan bisa mandi, maka aktivitas ini bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan tubuh.
2. Apa Berjemur Perlu Dilakukan Saat Sakit Campak?
Faktanya: Secara umum berjemur membantu penyerapan vitamin D. Seperti diketahui, vitamin D sangat berperan pada imunitas tubuh.
"Namun, secara penelitian saya belum pernah membaca terkait ini," tuturnya.
3. Apa Minum Air Kelapa Biar Cepat Sembuh?
Faktanya: Minum air kelapa tidak langsung menyembuhkan seseorang dari campak. Terlebih penyakit ini memiliki fase-fasenya.
"Ada fase prodromal, simptomatis, lalu penyembuhan. Jadi, kalau mau minum 10 butir air kelapa ya enggak akan mempercepat penyembuhan," katanya.
Namun, Pryta berpesan bagi orang dewasa yang terkena campak sebaiknya untuk memeriksakan diri ke dokter.
"Sebagai tenaga medis yang melihat campak juga bisa membawa komplikasi banyak, sebaiknya tetap perlu dibawa ke dokter ya untuk memastikan kondisi pasien aman atau ada infeksi sekunder lain," tutur Pryta dalam temu media bersama Eka Hospital pada Kamis, 30 April 2026.
4. Apa Campak Cuma Sekali Kena?
Faktanya: Pryta mengungkapkan pada umumnya orang hanya sekali kena campak tapi pada beberapa kasus seseorang bisa terkena lebih dari sekali.
"Bisa, tapi jarang. Namun, kondisi yang berat itu biasanya yang pertama, kalau yang kedua itu (gejala) slight banget," tutur wanita lulusan Prodi Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
5. Apa Orang Dewasa Enggak Kena Campak?
Faktanya: Orang dewasa bisa kena campak.
Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan sekitar 8 persen kasus campak terjadi pada orang di atas 18 tahun.
Selain itu, fakta di ruang praktik, Pryta masih menemukan kasus campak pada orang dewasa. Bahkan akhir-akhir ini ia bisa mendapatkan sekitar 5 pasien suspek campak dalam satu bulan.
"Kalau dulu jarang, dulu satu bulan paling satu suspek campak," tuturnya.
Advertisement
Tentang Campak
Campak kerap dianggap sepele tapi pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi penyakit serius yang berujung pada komplikasi berat hingga kematian.
Secara medis, campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus dalam keluarga Paramyxoviridae.
Virus campak dapat menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Bahkan, virus ini juga bisa menyebar melalui udara (airborne) dan bertahan di permukaan benda selama beberapa jam.
Gejala khas campak, pada tahap awal (prodormal) berlangsung 2-4 hari. Pada fase ini pasien mengalami demam, lalu muncul gejala mirip flu yakni 3C: cough (batuk), coryza (pilek), conjunctivitis (mata merah).
Lalu, gejala paling khas dari campak adalah ada koplik spot atau bercak koplik.
"Bercak koplik itu kayak bercak keputihan di dalam pipi. Jadi disini warna keputihan. Itu khas banget (campak)," tutur Pryta.
Sesudah bercak koplik muncul, satu hingga dua hari kemudian diikuti dengan keluarnya ruam merah.
"Puncak penularan itu 4 hari sebelum dan 4 hari sesudah ruam itu muncul. Jadi, kalau sudah mersa ada gejala campak ya isolasi menular agar tidak menularkan ke orang lain," pesannya.
Komplikasi Campak
Virus campak tidak hanya menyebabkan ruam kulit, tetapi menyerang sistem pertahanan tubuh secara keseluruhan (immune amnesia). Kondisi itu bisa memicu komplikasi diantaranya:
● Pneumonia
Komplikasi ini merupakan penyebab kematian tertinggi akibat campak pada orang dewasa. Infeksi virus secara langsung menyerang jaringan paru atau memicu infeksi bakteri sekunder yang merusak kantong udara (alveoli).
● Ensefalitis (radang otak)
Sekitar 1 dari 1.000 pasien campak dewasa dapat mengalami peradangan otak. Kondisi ini bisa berakibat pada kejang, tuli, hingga kerusakan otak permanen yang sulit dipulihkan.
● Komplikasi jantung
Meskipun lebih jarang, virus ini dapat menyebabkan miokarditis atau peradangan pada otot jantung yang mengganggu ritme dan fungsi pompa darah.
● Kebutaan
Komplikasi pada mata dapat menyebabkan peradangan kornea (keratitis) yang jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan secara permanen.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304320/original/074308900_1784712554-cek_fakta_lowongan_SKK_Migas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2365270/original/068589700_1537681835-20180923-Pawai-Kampanye-Damai-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521382/original/090333100_1772688718-gempa_besar-_klaim_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304429/original/014311000_1784714561-Untitled_design.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4617868/original/072798700_1697788718-_fpdl.in__shower-head-with-hot-water_23-2149088614_normal.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303337/original/087011100_1784626958-063_2286813749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302533/original/039508800_1784583892-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295937/original/029239400_1783995735-000_A6DQ92Z.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288187/original/072178800_1783308035-qttrw02p13YDlvDeNDMJYrjcNT33HbMTJxWB87et.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715330/original/088178300_1782800436-1ER9ngvdXIgNNVgGIXxQHqMsy8PiUi0gS2WZoXXE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4283166/original/072851600_1672970832-wedding-bands-hands-bride-groom-with-beautiful-wedding-bouquet-made-greenery-white-flowers_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6571887/original/005344600_1779416688-deodoran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5751148/original/094619400_1778651789-unnamed__79_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3225987/original/098481400_1599023065-Imunisasi-Campak5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571428/original/061592000_1777620306-pis.jpg)