Liputan6.com, Jakarta - Gorengan menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia karena memiliki tekstur renyah, cita rasa gurih, dan cocok dinikmati kapan saja, mulai dari camilan sore hingga pelengkap berbagai hidangan utama. Di balik kepopulerannya, ada banyak anggapan yang beredar mengenai cara menggoreng yang benar maupun penggunaan minyak goreng, tetapi tidak semuanya didukung oleh fakta atau teknik memasak yang tepat.
Beberapa mitos tentang gorengan yang salah bahkan sudah dipercaya secara turun-temurun sehingga dianggap sebagai kebenaran tanpa pernah dipertanyakan kembali. Padahal, memahami teknik menggoreng yang benar tidak hanya membantu menghasilkan makanan yang lebih renyah dan lezat, tetapi juga dapat menjaga kualitas minyak serta membuat proses memasak menjadi lebih efektif.
1. Gorengan Selalu Berminyak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528539/original/060103400_1773287362-Gemini_Generated_Image_nc2tr2nc2tr2nc2t.jpeg)
Banyak orang menganggap semua makanan yang digoreng pasti akan menyerap banyak minyak sehingga terasa berminyak ketika dimakan. Anggapan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya benar karena jumlah minyak yang terserap lebih dipengaruhi oleh suhu minyak, jenis adonan, kadar air pada bahan, dan teknik menggoreng daripada proses menggoreng itu sendiri.
Apabila minyak sudah mencapai suhu yang ideal dan makanan segera membentuk lapisan luar yang renyah, minyak justru tidak mudah masuk ke bagian dalam makanan. Sebaliknya, minyak yang kurang panas membuat makanan berada lebih lama di dalam wajan sehingga menyerap lebih banyak minyak dan menghasilkan tekstur yang lembek sekaligus terasa lebih berminyak.
Advertisement
2. Semakin Panas Minyak, Semakin Bagus Hasil Gorengan
Masih banyak orang yang percaya bahwa memanaskan minyak hingga sangat panas akan membuat gorengan menjadi lebih renyah dan matang sempurna. Faktanya, suhu minyak yang terlalu tinggi justru dapat membuat bagian luar makanan cepat berubah kecokelatan atau bahkan gosong sebelum bagian dalamnya matang secara merata.
Teknik menggoreng yang baik bukan menggunakan suhu setinggi mungkin, melainkan menjaga suhu tetap stabil sesuai jenis makanan yang dimasak. Pada kisaran suhu sekitar 170–180 derajat Celsius, sebagian besar gorengan dapat menghasilkan warna keemasan, tekstur renyah, dan tingkat kematangan yang lebih merata dibandingkan menggunakan minyak yang terlalu panas.
3. Mengisi Wajan Terlalu Penuh Tidak Memengaruhi Hasil Gorengan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3500552/original/098377000_1625380011-1501257-6-tips-membuat-tahu-crispy.jpg)
Sebagian orang memilih memasukkan banyak bahan sekaligus agar proses memasak lebih cepat selesai, karena menganggap jumlah makanan di dalam wajan tidak memengaruhi kualitas hasil akhir. Kenyataannya, setiap bahan yang dimasukkan akan menurunkan suhu minyak sehingga proses penggorengan menjadi kurang optimal apabila jumlahnya terlalu banyak.
Selain membuat suhu minyak turun, wajan yang terlalu penuh juga menghasilkan lebih banyak uap air yang terperangkap di antara potongan makanan. Kondisi tersebut menyebabkan permukaan gorengan menjadi lembap, sulit membentuk lapisan renyah, dan akhirnya terasa lebih lembek dibandingkan jika digoreng secara bertahap.
Advertisement
4. Semua Jenis Minyak Cocok untuk Menggoreng
Banyak orang beranggapan semua minyak goreng memiliki fungsi yang sama sehingga bisa digunakan untuk menggoreng berbagai jenis makanan tanpa mempertimbangkan karakteristiknya. Padahal, setiap jenis minyak memiliki titik asap atau smoke point yang berbeda sehingga ketahanannya terhadap panas juga tidak sama.
Minyak dengan titik asap tinggi umumnya lebih cocok digunakan untuk menggoreng karena lebih stabil saat terkena suhu tinggi dan tidak mudah menghasilkan asap. Sebaliknya, beberapa minyak yang memiliki aroma kuat atau titik asap lebih rendah lebih sesuai digunakan sebagai campuran salad, tumisan ringan, atau penyedap makanan daripada untuk proses penggorengan dalam waktu lama.
5. Minyak Goreng Harus Langsung Dibuang Setelah Sekali Dipakai
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/9296270/original/078068700_1784009468-Ilustrasi_Makanan__Camilan__Gorengan__Sarapan__Makan_Siang_oleh_Aditya_Eka_Prawira__2_.jpeg)
Anggapan bahwa minyak goreng hanya boleh digunakan satu kali masih cukup sering ditemui, padahal kenyataannya minyak dapat dipakai kembali apabila kondisinya masih baik dan diolah dengan benar setelah digunakan. Hal terpenting adalah menyaring sisa-sisa remah makanan, membiarkan minyak dingin, lalu menyimpannya dalam wadah yang bersih dan tertutup rapat.
Meski demikian, minyak goreng juga tidak boleh digunakan tanpa batas karena kualitasnya akan terus menurun setiap kali dipanaskan. Jika minyak mulai berbau tengik, mengeluarkan asap lebih cepat dari biasanya, berubah menjadi sangat kental, atau memiliki warna yang jauh lebih gelap, sebaiknya minyak tersebut tidak digunakan lagi demi menjaga kualitas makanan dan keamanan proses memasak.
Advertisement
6. Api Paling Besar Selalu Menghasilkan Gorengan Terbaik
Tidak sedikit orang memilih menggunakan api besar sejak awal hingga proses menggoreng selesai karena menganggap cara tersebut dapat mempercepat kematangan sekaligus menghasilkan tekstur yang lebih renyah. Padahal, api yang terlalu besar sering membuat suhu minyak naik secara berlebihan sehingga makanan mudah gosong pada bagian luar sementara bagian dalamnya masih belum matang sempurna.
Mengatur besar kecilnya api sesuai kondisi minyak jauh lebih penting daripada mempertahankan api besar sepanjang waktu. Dengan menjaga panas tetap stabil, makanan memiliki kesempatan matang secara merata, warna gorengan lebih cantik, dan risiko minyak cepat rusak akibat suhu yang terlalu tinggi juga dapat dikurangi.
7. Menutup Wajan saat Menggoreng Membuat Gorengan Lebih Renyah
Sebagian orang percaya bahwa menutup wajan selama proses menggoreng dapat mempercepat pemasakan sekaligus membuat hasil akhirnya lebih renyah. Kenyataannya, tutup wajan justru membuat uap air terjebak di dalam sehingga kelembapan meningkat dan kembali mengenai permukaan makanan yang sedang digoreng.
Akibat adanya uap yang terperangkap, lapisan luar gorengan dapat kehilangan kerenyahannya lebih cepat meskipun awalnya sudah terlihat kering. Menutup wajan hanya lebih sesuai digunakan pada kondisi tertentu, sedangkan untuk sebagian besar gorengan berlapis tepung atau makanan yang mengutamakan tekstur renyah, wajan terbuka biasanya memberikan hasil yang lebih baik.
Advertisement
8. Adonan Tepung yang Lebih Tebal Pasti Membuat Gorengan Lebih Renyah
Banyak orang sengaja membuat lapisan tepung setebal mungkin dengan harapan gorengan akan menjadi lebih renyah dan tahan lama. Padahal, kerenyahan tidak hanya ditentukan oleh ketebalan adonan, melainkan juga dipengaruhi oleh komposisi tepung, kadar cairan, suhu minyak, dan teknik menggoreng yang digunakan.
Lapisan tepung yang terlalu tebal justru dapat menyerap lebih banyak minyak sehingga teksturnya terasa berat dan kurang garing ketika disantap. Adonan yang seimbang dengan suhu minyak yang tepat biasanya mampu menghasilkan lapisan luar yang tipis, renyah, serta tetap memberikan kesempatan agar rasa asli dari bahan makanan tetap terasa.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mitos tentang Gorengan
1. Berapa suhu minyak yang ideal untuk menggoreng?
Umumnya sekitar 170–180 derajat Celsius agar makanan matang merata dan renyah.
2. Apakah minyak goreng boleh digunakan kembali?
Boleh, selama masih dalam kondisi baik, telah disaring, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
3. Mengapa gorengan menjadi berminyak?
Biasanya karena suhu minyak terlalu rendah, bahan terlalu banyak dalam wajan, atau gorengan tidak ditiriskan dengan benar.
4. Apakah semua minyak goreng cocok untuk deep frying?
Tidak. Minyak dengan titik asap tinggi lebih disarankan untuk proses penggorengan.
5. Mengapa gorengan cepat lembek setelah matang?
Salah satu penyebabnya adalah uap air yang terperangkap atau proses penirisan yang kurang tepat sehingga kerenyahan cepat berkurang.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4529326/original/039044100_1691417008-IMG_4489.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318452/original/095120500_1786096948-Screenshot_2026-08-07_170145.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308116/original/010825900_1785129339-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-27T121435.797.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318203/original/006537500_1786089051-bibit_ayam_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318444/original/097497700_1786096558-f434c8af-0aa6-460f-b406-cf48123c9f7a.jpg)
