Isu Finansial Menerpa AirAsia, Tony Fernandes Buka Suara

Diterpa isu finansial hingga kabar bailout, Tony Fernandes buka suara tegaskan kas AirAsia sehat dan tolak dana talangan.

Diterbitkan 18 September 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Co-founder AirAsia, Tony Fernandes menegaskan bahwa tingkat permintaan pasar terhadap penerbangan sejauh ini masih sangat kokoh. Kondisi ini bertahan meski industri penerbangan global tengah dibayang-bayangi memanasnya tensi geopolitik dan lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur).

Dalam sesi taklimat media yang digelar secara daring, Fernandes membeberkan bahwa load factor atau tingkat keterisian kursi AirAsia Group konsisten berada di kisaran 80% sepanjang kuartal III. Tak hanya itu, tren pemesanan tiket untuk kuartal IV juga menunjukkan sinyal yang sangat positif.

Ia menilai, situasi industri saat ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan era pandemi Covid-19. Kala itu, gelombang pembatasan perjalanan membuat maskapai sama sekali tidak bisa mengoperasikan armada secara normal.

"Covid-19 memberikan tekanan yang jauh lebih berat terhadap industri penerbangan dibandingkan kondisi yang dihadapi saat ini," ujarnya dikutip dari Antara, Jumat (18/9/2026).

Fernandes menambahkan, masyarakat saat ini masih memiliki kebebasan untuk bepergian lewat jalur udara. Hal inilah yang menjaga volume permintaan penerbangan tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

Mengenai komponen biaya, Fernandes menyebut harga avtur saat ini masih berada dalam batas toleransi finansial AirAsia. Menurut perhitungannya, harga avtur berkisar antara US$ 160 hingga US$ 190. Namun, maskapai siap menyesuaikan kembali harga tiket jika biaya bahan bakar melonjak terlampau tinggi.

Ia kembali menekankan bahwa daya beli serta fleksibilitas masyarakat untuk bepergian menjadi kuintensi utama yang menopang permintaan pasar dari guncangan geopolitik.

Periode Menantang Bagi AirAsia

Memasuki kuartal kedua, ia mengakui periode tersebut menjadi fase paling menantang bagi AirAsia, maskapai yang saat ini menguasai sekitar 60% pangsa pasar domestik Malaysia. Meski begitu, ia optimistis kinerja perusahaan akan segera pulih seiring diterapkannya penyesuaian tarif untuk meredam kenaikan harga avtur.

Di tengah tantangan tersebut, Fernandes memastikan posisi likuiditas dan manajemen arus kas (cash flow) AirAsia berada dalam kondisi yang sangat sehat.

Berdasarkan data per 30 Juni 2026, total liabilitas atau kewajiban AirAsia tercatat sebesar 18,4 miliar ringgit (sekitar Rp 81,4 triliun). Porsi terbesar dari angka tersebut, yakni 13 miliar ringgit (sekitar Rp 56,5 triliun), merupakan kewajiban sewa pesawat.

Pernyataan ini disampaikan Fernandes guna merespons rumor media terkait langkah Pemerintah Malaysia yang mengontak Malaysia Airlines dan Batik Air. Pemerintah setempat dilaporkan menyiapkan skenario darurat jika kondisi finansial AirAsia memburuk, termasuk opsi mengambil alih rute dan penumpang dari maskapai berbiaya murah (low-cost carrier) tersebut.

Menanggapi hal itu, Fernandes menegaskan bahwa AirAsia sama sekali tidak pernah mengajukan dana talangan kepada pemerintah. Ia juga menjamin tidak ada satu pun unit armada perusahaan yang dihentikan operasinya (grounded) akibat kendala gagal bayar.

Fernandes membeberkan bahwa agenda penggalangan dana senilai US$ 1 miliaryang saat ini dijalankan perusahaan murni ditujukan untuk refinancing (pembiayaan kembali). Langkah ini diambil demi memangkas beban bunga dan memperbaiki struktur tenor pembiayaan, bukan untuk mencari suntikan modal baru.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6