5 Tren Wisata Akhir Tahun 2026, Turis ASEAN Makin Hemat

Data AirAsia MOVE menunjukkan wisatawan ASEAN tetap gemar bepergian pada 2026 dengan strategi pengeluaran yang lebih cermat dan terencana.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat di kawasan ASEAN tetap menjadikan liburan sebagai bagian dari gaya hidup meski kondisi ekonomi global masih diwarnai berbagai tantangan. Perubahan terlihat pada cara wisatawan menyusun rencana perjalanan.

Mereka kini lebih berhati-hati dalam menentukan destinasi, waktu keberangkatan, dan alokasi anggaran agar memperoleh pengalaman terbaik tanpa menguras pengeluaran. Data pemesanan AirAsia MOVE untuk periode perjalanan 1 Juli hingga 31 Desember 2026 memperlihatkan pola baru dalam perilaku wisatawan.

Perencanaan perjalanan dilakukan lebih matang dengan mempertimbangkan efisiensi biaya, durasi penerbangan, serta nilai yang diperoleh dari setiap keputusan. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak mengurangi keinginan untuk bepergian, melainkan lebih cermat dalam mengelola kebutuhan perjalanan.

Berikut lima tren perjalanan yang diprediksi membentuk perilaku wisatawan ASEAN hingga penghujung 2026, merujuk rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 22 Juli 2026.

1. Pengeluaran lebih selektif

Wisatawan tetap rela mengalokasikan anggaran lebih besar untuk tiket pesawat dibandingkan akomodasi. Data MOVE menunjukkan, rata-rata pengeluaran untuk tiket penerbangan sekitar 35 persen lebih tinggi daripada biaya hotel.

Meski demikian, wisatawan tidak asal memilih tempat menginap. Dari sekitar satu juta pilihan hotel di platform MOVE, sebanyak 76 persen pemesanan dilakukan pada hotel bintang tiga dan empat. Angka tersebut menunjukkan preferensi terhadap akomodasi yang menawarkan keseimbangan antara kenyamanan, fasilitas, dan harga yang kompetitif.

2. Periode gajian jadi waktu favorit memesan liburan

Hampir 40 persen pemesanan penerbangan melalui aplikasi MOVE dilakukan untuk keberangkatan pada rentang tanggal 25 hingga 5 setiap bulan, bertepatan dengan siklus penerimaan gaji di banyak negara ASEAN.

 

Menyesuaikan Waktu Liburan

Masyarakat semakin disiplin menyesuaikan waktu liburan dengan kondisi finansial mereka. Perencanaan seperti ini membantu wisatawan mengatur anggaran tanpa harus mengorbankan pengalaman berwisata.

3. Destinasi dekat semakin diminati

Wisatawan juga semakin memilih destinasi yang dapat dijangkau dalam waktu singkat. Penerbangan internasional berdurasi kurang dari empat jam meningkat 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan kini menyumbang sekitar 62 persen dari total pemesanan internasional.

Pilihan tersebut memungkinkan wisatawan menghemat waktu perjalanan sekaligus menekan biaya transportasi. Minat terhadap destinasi regional tetap tinggi karena menawarkan akses yang mudah tanpa mengurangi kualitas pengalaman berlibur.

4. Liburan direncanakan jauh sebelum keberangkatan

Perencanaan menjadi salah satu kunci utama perjalanan pada 2026. Data MOVE menunjukkan semakin banyak wisatawan memesan tiket lebih dari 120 hari sebelum jadwal keberangkatan.

 

Pesan Lebih Awal

Pemesanan lebih awal mencerminkan optimisme masyarakat untuk tetap bepergian sekaligus memanfaatkan berbagai penawaran yang tersedia. Pola ini diperkirakan akan menjaga permintaan perjalanan tetap kuat pada semester kedua 2026.

Malaysia, Thailand, Indonesia, Jepang, dan Filipina diproyeksikan menjadi destinasi favorit berkat konektivitas penerbangan yang semakin baik serta banyaknya pilihan promo perjalanan.

5. Milenial dan Gen Z masih menjadi penggerak utama

Generasi milenial menyumbang 43 persen dari total pemesanan di platform MOVE, sedangkan Gen Z berkontribusi sebesar 23 persen. Kedua kelompok usia produktif tersebut masih menempatkan perjalanan sebagai bagian penting dari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Meski tetap aktif bepergian, keputusan mereka kini lebih terukur. Wisatawan muda tidak hanya mengejar destinasi populer, tapi juga mempertimbangkan efisiensi anggaran, kemudahan akses, serta manfaat yang diperoleh dari setiap perjalanan.

Liburan Tetap Jadi Prioritas

Pertumbuhan tren tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak serta-merta mengurangi minat masyarakat ASEAN untuk bepergian. Wisatawan justru semakin adaptif dalam menyusun strategi perjalanan, mulai dari menentukan waktu pemesanan, memilih destinasi dengan akses yang mudah, hingga menyesuaikan anggaran untuk transportasi dan akomodasi.

Perubahan perilaku ini diperkirakan akan mendorong pelaku industri pariwisata menghadirkan lebih banyak penawaran yang mengutamakan fleksibilitas dan value. Bagi maskapai, hotel, dan penyedia layanan perjalanan digital, pola tersebut menjadi sinyal bahwa wisatawan kini lebih mengutamakan pengalaman yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

Selama konektivitas penerbangan terus berkembang dan promo perjalanan tetap tersedia, permintaan wisata di kawasan ASEAN diperkirakan akan bertahan hingga akhir 2026, didorong oleh konsumen yang semakin cermat, terencana, dan selektif dalam mengambil setiap keputusan perjalanan.