Harga Emas Diprediksi Bergerak Terbatas, Simak Hasil Survei Kitco

Survei Kitco menunjukkan analis masih terbelah soal arah harga emas pekan ini, sementara investor ritel tetap cenderung optimistis.

Diterbitkan 03 Agustus 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas pada pekan ini setelah gagal mempertahankan reli di atas level US$ 4.100 per ounce. Hasil survei mingguan Kitco News menunjukkan analis Wall Street masih terbelah mengenai arah pergerakan logam mulia, sementara investor ritel tetap cenderung optimistis meski keyakinannya mulai berkurang.

Dikutip dari Kitco, Senin (3/8/2026), sepanjang pekan lalu, harga emas menghadapi tekanan dari sikap bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang mempertahankan suku bunga, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield), serta kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat akibat kenaikan harga minyak.

Di sisi lain, pelemahan inflasi berdasarkan data Personal Consumption Expenditures (PCE) sempat mendorong harga emas bangkit. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah data Employment Cost Index (ECI) Amerika Serikat dirilis lebih tinggi dari perkiraan sehingga kembali menekan harga emas.

Pada akhir perdagangan pekan lalu, harga emas spot berada di level US$ 4.048,40 per ounce, atau relatif tidak berubah dibandingkan awal pekan.

Dalam survei terbaru Kitco News, sebanyak 17 analis berpartisipasi. Hasilnya menunjukkan pandangan Wall Street masih terbagi hampir merata. Sebanyak lima analis (29%) memperkirakan harga emas akan naik pada pekan ini, enam analis (35%) memprediksi harga akan turun, sementara enam analis lainnya (35%) menilai harga emas masih akan bergerak mendatar atau sideways.

Sementara itu, survei terhadap investor ritel atau Main Street menunjukkan optimisme mulai berkurang, meski mayoritas masih memperkirakan harga emas akan menguat.

Dari 184 responden, sebanyak 87 orang (47%) memperkirakan harga emas naik pada pekan ini, 55 responden (30%) memprediksi turun, sedangkan 42 responden (23%) memperkirakan emas akan tetap bergerak dalam fase konsolidasi.

 

Analis Terbelah

Meski hasil survei Kitco menunjukkan pandangan analis masih terbelah, sebagian besar menilai harga emas belum memiliki katalis yang cukup kuat untuk keluar dari kisaran pergerakan saat ini.

Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, memperkirakan harga emas masih akan bergerak stabil hingga pasar memperoleh kejelasan mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan perkembangan konflik di Timur Tengah.

"Perlu ada pergerakan naik dan turun lebih dulu sampai pasar memiliki kesimpulan mengenai prospek pengetatan kebijakan moneter ke depan. Pasar juga membutuhkan kejelasan terkait konflik di Timur Tengah. Ketika konflik itu berakhir, dolar AS akan kehilangan statusnya sebagai aset safe haven dan itu akan menjadi sentimen positif bagi emas. Untuk saat ini, pasar masih membutuhkan kejelasan sebelum bergerak lebih tinggi secara meyakinkan," ujar Day.

Pandangan serupa disampaikan Senior Market Analyst Barchart.com, Darin Newsom. Menurut dia, belum ada perubahan fundamental yang mampu mengubah arah pergerakan emas sehingga logam mulia tersebut diperkirakan masih bergerak sideways.

"Tidak ada yang berubah di pasar emas. Investor terus berpindah dari satu sektor ke sektor lain mencari peluang, sementara bank sentral di berbagai negara terus membeli emas. Dari keduanya, pembelian oleh bank sentral menjadi indikator yang lebih penting karena mencerminkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global," katanya.

Minat Beli Masih Kuat

Sementara itu, Senior Market Strategist Forex.com James Stanley masih mempertahankan pandangan positif terhadap emas. Menurut dia, kemampuan harga emas bertahan di atas level psikologis US$ 4.000 per ounce menunjukkan minat beli masih cukup kuat meski imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat terus meningkat.

"Level US$ 4.000 masih terlihat sangat kuat. Kenaikan imbal hasil obligasi memang menjadi sentimen negatif bagi emas, tetapi pembeli tetap mampu mempertahankan level tersebut. Saya masih mempertahankan pandangan bullish untuk jangka panjang hingga ada alasan yang benar-benar mengubah prospek tersebut," ujar Stanley.

Di sisi lain, Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski memilih bersikap netral. Menurut dia, emas masih berada dalam fase konsolidasi di sekitar level US$ 4.000 sehingga peluang kenaikan maupun penurunan relatif seimbang pada pekan ini.

 

Prediksi Analis Lain

Analis senior StoneX Group, Bob Haberkorn, menjadi salah satu yang paling optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang. Meski demikian, ia memperkirakan harga emas masih berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek sebelum kembali melanjutkan tren kenaikan.

Menurut Haberkorn, konflik di Timur Tengah yang kembali memanas serta kenaikan harga minyak berpotensi membatasi ruang penguatan emas pada pekan ini. Di sisi lain, ia menilai Federal Reserve kemungkinan belum akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat meski muncul tiga suara berbeda dalam rapat terakhir bank sentral AS.

"Secara keseluruhan saya masih sangat bullish terhadap emas dan perak. Namun untuk pekan ini, saya memperkirakan keduanya masih akan berada di bawah tekanan dan bergerak dalam kisaran yang terbatas," katanya.

Haberkorn bahkan menilai koreksi harga masih mungkin terjadi sebelum reli berikutnya dimulai. Menurut dia, penurunan hingga mendekati US$ 3.800 per ounce justru dapat menjadi fondasi yang lebih kuat bagi kenaikan harga emas dalam jangka panjang.

"Saya melihat level US$ 4.000 menjadi area penopang yang kuat. Namun jika harga sempat turun di bawah level tersebut, saya memperkirakan minat beli akan kembali muncul dengan cepat," ujarnya.

Masih Bergerak Terbatas 

Sementara itu, Presiden dan Chief Operating Officer Asset Strategies International, Rich Checkan, menilai harga emas masih akan bergerak terbatas. Menurut dia, keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga, perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, inflasi yang mulai mereda, serta menguatnya dolar AS membuat harga emas belum memiliki katalis untuk mencetak rekor baru.

"Level US$ 4.000 menjadi batas bawah pergerakan emas saat ini. Selama berbagai faktor tersebut masih bertahan, ruang kenaikan emas juga akan tetap terbatas," kata Checkan.

Berdasarkan hasil survei Kitco News, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati sejumlah sentimen utama pada pekan ini, mulai dari perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, arah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, hingga peluang perubahan kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Dengan pandangan analis yang masih terpecah dan investor ritel yang tetap cenderung optimistis, harga emas diperkirakan akan bergerak sideways dengan volatilitas yang tetap tinggi. Level psikologis US$ 4.000 per ounce dipandang menjadi area penting yang akan menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6