Tren Ritel Berubah, Pengembang Pilih Fokus Bangun Ekosistem

Peritel kini lebih mengutamakan ekosistem kawasan dibanding sekadar lokasi strategis. Pengembang di Tangerang pun mulai menyesuaikan strategi.

Diterbitkan 02 Agustus 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelaku usaha ritel kini tidak lagi menjadikan kawasan premium atau lokasi strategis sebagai satu-satunya pertimbangan dalam menentukan ekspansi bisnis. Mereka semakin mengutamakan tren, aktivitas kawasan, dan kekuatan ekosistem sebagai faktor utama dalam memilih lokasi usaha.

Perubahan orientasi tersebut sejalan dengan transformasi industri ritel yang kini semakin mengarah pada penyediaan pengalaman berbelanja dan interaksi sosial.

Kepala Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan, berdasarkan Quarterly Property Market Report kuartal I 2026, pusat perbelanjaan dan kawasan komersial kini memperkuat perannya sebagai destinasi gaya hidup melalui kurasi penyewa yang lebih ketat, penyelenggaraan berbagai acara, serta penyediaan ruang sosial.

"Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online," ujarnya, Minggu (2/8/2026).

Data Colliers menunjukkan tingkat kekosongan pusat perbelanjaan premium di Jakarta pada kuartal I 2026 berada di angka 4,2%. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi penutupan salah satu department store utama di Mal Kelapa Gading 1.

Meski demikian, aktivitas penyewaan ruang ritel tetap tumbuh. Permintaan terutama datang dari sektor makanan dan minuman (F&B) serta merek-merek ritel mewah internasional yang terus berekspansi melalui kemitraan dengan peritel lokal.

Di sisi lain, terbatasnya pasokan mal premium baru turut mendorong kenaikan tarif sewa rata-rata sebesar 1,09% secara kuartalan pada awal 2026.

"Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk lebih selektif dalam memilih lokasi serta menerapkan format gerai alternatif guna menjaga efisiensi operasional," ujar Ferry.

 

Pengembang Perkuat Ekosistem Kawasan

Perubahan preferensi pelaku usaha tersebut mulai direspons oleh sejumlah pengembang, salah satunya Summarecon Serpong melalui pengembangan kawasan terintegrasi Serpong CBD.

Saat ini, kawasan tersebut telah dihuni lebih dari 12.000 keluarga dan didukung sekitar 2.000 unit rumah toko (ruko). Aktivitas kawasan ditopang oleh keberadaan Summarecon Mall Serpong, SQP Hub, SQP Park, serta berbagai fasilitas lain yang membuat kawasan tetap hidup sejak pagi hingga malam hari.

Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur mengatakan pelaku usaha kini lebih memperhatikan aktivitas yang terjadi di dalam suatu kawasan dibanding sekadar lokasinya.

"Sekarang pelaku usaha bukan cuma melihat apakah lokasinya strategis atau tidak. Mereka juga ingin tahu, apakah kawasannya memang hidup, apakah ada aktivitas yang terus bergerak setiap hari," katanya.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Summarecon Serpong bersiap meluncurkan kawasan komersial Strozzi Commercial di koridor Symphonia Boulevard dengan harga mulai sekitar Rp 4 miliar.

 

Fasilitas Lainnya

Proyek tersebut ditujukan bagi berbagai jenis usaha, mulai dari F&B, ritel, wellness, hingga layanan profesional. Setiap unit dilengkapi mezzanine serta didukung jalan dengan right of way (ROW) selebar 36 meter dan 32 meter.

"Kawasan ini juga mengusung konsep double-layer parking guna meningkatkan kapasitas parkir bagi tenant maupun pengunjung," ujar Albert.

Selain itu, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas pendidikan, stasiun pengisian kendaraan listrik (electric vehicle charging station), serta berbagai fasilitas komersial lainnya yang diharapkan mampu menciptakan arus kunjungan harian secara berkelanjutan.

Dengan model pengembangan kawasan yang mengintegrasikan hunian, komersial, dan fasilitas pendukung, keberlangsungan bisnis ritel dinilai kini semakin bergantung pada kekuatan ekosistem serta konsistensi aktivitas pengunjung di kawasan tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6