Harga Emas Tergelincir, Investor Menanti Risalah Rapat The Fed

Selain konflik Timur Tengah, investor mencermati langkah kebijakan moneter the Fed ke depan sehingga mempengaruhi harga emas.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 06:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah pada Selasa, 7 Juli 2026 (Rabu pagi Jakarta). Koreksi harga emas dunia terjadi seiring investor memantau meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik. Selain itu, investor juga bersiap untuk risalah pertemuan the Federal Reserve (the Fed) Juni untuk mengetahui panduan mengenai prospek kebijakan moneter.

Mengutip CNBC, Rabu, (8/7/2026), harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.141,16 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus melemah 0,2% menjadI US$ 4.157,40.

Emas batangan mencapai level tertinggi dalam dua minggu pada Senin pekan ini karena data pekerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan pekan lalu mendorong pasar mengurangi harapan kenaikan suku bunga jangka pendek.

"Namun, saya pikir kenyataan mulai terungkap the Fed masih sangat fokus pada pengendalian inflasi, jadi suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama tampaknya menjadi jalur the Fed yang paling mungkin,” ujar Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.

Pelaku pasar memprediksi peluang kenaikan suku bunga sebesar 60% pada September, menurut CME FedWatch Tool.

Perhatian kini beralih ke notulen rapat Fed, yang dijadwalkan akan dirilis pada Rabu. Di Timur Tengah, dua kapal tanker dihantam di Selat Hormuz, dan Iran mengatakan tidak akan ada lagi pembicaraan damai kecuali Presiden AS Donald Trump menghentikan ancamannya yang berulang kali untuk memulai kembali perang. Harga minyak sedikit naik setelah berita tersebut.

Emas seringkali berada di bawah tekanan ketika kekhawatiran inflasi membuat suku bunga tetap tinggi, mengurangi daya tarik aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas batangan.

Sementara itu, bank sentral China mempertahankan pembelian emas selama 20 bulan berturut-turut. Cadangan emas China mencapai 75,44 juta troy ons murni pada akhir Juni, naik dari 74,96 juta pada bulan sebelumnya.

Hong Kong meluncurkan sistem kliring pusat untuk emas pada Selasa dan juga menghidupkan kembali perdagangan berjangka emas karena berupaya menjadi pusat cadangan regional untuk logam mulia.

Harga Emas Dunia Turun usai Sentuh Level Tertinggi 2 Pekan

Sebelumnya, harga emas dunia terkoreksi pada perdagangan Senin setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang menekan pergerakan logam mulia.

Pelemahan harga emas masih terbatas karena pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Mengutip CNBC, Selasa (7/7/2026), harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.159,99 per ounce. Sebelumnya, logam mulia ini sempat mencatat level tertinggi sejak 22 Juni.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 1% menjadi US$ 4.167,50 per ounce.

"Indeks dolar AS sedikit lebih tinggi hari ini dan itu menjadi faktor bearish harian bagi emas," kata analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Kenaikan nilai tukar dolar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap logam mulia cenderung melemah sehingga memberikan tekanan pada harga.

 

Suku Bunga The Fed

Meski begitu, pelemahan harga emas tidak berlangsung terlalu dalam. Pasalnya, data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni melambat cukup signifikan. Selain itu, jumlah pekerja pada dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.

Data tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi keyakinan bahwa The Fed akan segera kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga naik, daya tarik emas biasanya berkurang karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.

Fokus investor kini beralih ke risalah rapat kebijakan moneter terakhir The Fed yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Dokumen tersebut diyakini dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dalam beberapa bulan mendatang.

 

Prediksi JP Morgan

Menurut Jim Wyckoff, pelaku pasar akan mencermati setiap pernyataan dalam risalah rapat tersebut untuk mencari sinyal baru mengenai prospek kebijakan moneter AS.

"Para trader akan mencermati risalah rapat tersebut untuk melihat apakah mereka bisa mendapatkan petunjuk lain mengenai arah kebijakan moneter AS. Kejutan apa pun yang muncul dari risalah tersebut tentu berpotensi menggerakkan pasar," ujar Wyckoff.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 56%.

Sementara itu, J.P. Morgan dalam laporan riset yang diterbitkan pada Jumat menilai permintaan emas dari sejumlah sektor utama tidak akan sekuat perkiraan sebelumnya. Karena itu, bank investasi tersebut memperkirakan kenaikan harga emas sepanjang tahun ini akan relatif terbatas.

J.P. Morgan memproyeksikan harga emas rata-rata berada di kisaran US$ 4.300 per ounce pada kuartal III 2026. Selanjutnya, harga emas diperkirakan meningkat menjadi US$ 4.500 per ounce pada kuartal IV 2026.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6