Applause Presiden buat Pertumbuhan Ekonomi RI 2013 via Twitter

Presiden SBY menyampaikan terima kasih kepada masyarakat luas atas dukungan dan kerja samanya menjaga pertumbuhan ekonomi.

Diterbitkan 06 Februari 2014, 10:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan terima kasih kepada masyarakat luas atas dukungan dan kerja samanya menjaga pertumbuhan ekonomi, sehingga pada 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,8% sebagaimana diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (5/2/2014).

“Ini lebih rendah dari pertumbuhan 6.2% th.2012, tapi kita tetap nomor 2 (dua) dalam Group 20 (G-20),” kata Presiden SBY melalui akun twitter pribadinya  @SBYudhoyono seperti melansir laman Sekretariat Kabinet, Kamis (6/2/2014).

Presiden menyampaikan terima kasih dan apresiasinya pada jajaran pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas atas dukungan dan kerjasamanya selama ini.

Namun, mengingatkan tekanan terhadap negara emerging market seperti Indonesia masih tinggi, Presiden SBY juga mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersama-sama menjaga perekonomian sehingga terus tumbuh pada 2014 ini.

“Menghadapi situasi segelap apapun, sesulit apapun, termasuk ujian yang datang silih berganti, jangan pernah kita kehilangan optimisme,” tutur Presiden SBY melalui akun twitter pribadinya @SBYudhoyono yang diunggahnya Kamis pagi ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2013 mencapai 5,78%, atau melambat dibandingkan 2012 yang tumbuh 6,23%.

Sementara realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2013 (yoy) minus 1,42% dibandingkan kuartal III-2013. Adapun pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2012 ke Kuartal IV 2013 mencapai 5,72%.

Kepala BPS Suryamin menilai saat ini perekonomian global menunjukkan sinyal yang baik. "Ada perbaikan di China dan AS masih kuatnya ekspor kita. Ada data ekspor kuartal 4 signifikan meningkat," kata dia di Kantor BPS.

Dia mengakui terkait krisis di beberapa negara, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diprediksi 1,6% namun realisasinya 1,9%. Hal ini dikatakan berdampak kepada Indonesia, terutama pada kinerja ekspor, dan sektor pariwisata.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6