Mentan Amran Bantah Beras Langka, Stok Tembus 5,3 Juta Ton

Mentan Amran Sulaiman meminta pedagang beras tidak memainkan harga.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 23:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman memastikan pasokan beras di pasaran dalam kondisi aman dan cukup. Dia membantah adanya kelangkaan beras di tingkat konsumen.

Amran menegaskan, produksi beras nasional dalam kondisi yang melimpah, bahkan telah dinobatkan sebagai swasembada beras nasional. Untuk itu, kata dia, tidak ada alasan kelangkaan beras di pasaran. Dia juga akan menindak produsen atau pedagang nakal.

"Beras kita melimpah. Jangan mempermainkan di lapangan karena kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka. Tolong tidak ada pangan, khususnya beras, makanan pokok kita, (itu) langka," tegas Amran, mengutip keterangan resmi, Jumat (12/6/2026).

Dia menerangkan saat ini stok cadangan beras pemerintah (CBP) telah mencapai 5,3 juta ton. Kapasitas gudang pun dipastikan cukup dengan adanya tambahan penyewaan gudang penyimpanan. Amran menggandeng Satgas Pangan Polri untuk memastikan tidak ada kelangkaan beras.

"Kami bersama Satgas Pangan pantau seluruh Indonesia. Jangan dibuat langka. Tidak ada langka. Semua gudang kita penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,3 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka," beber Amran.

Pencapaian produksi beras Indonesia pun turut disebut dalam laporan Rice Outlook May 2026 yang dirilis United States Department of Agriculture (USDA). USDA melaporkan produksi beras secara global periode 2025-2026 meningkat 1,5 juta ton. Pada Rice Outlook bulan April 541,3 juta ton kemudian naik menjadi totalnya 542,8 juta ton.

Indonesia disebut menjadi salah satu negara dengan perubahan angka produksi beras tertinggi bersama Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam. Namun jika dibandingkan 3 negara tadi, hanya Indonesia yang memiliki angka total produksi beras setahun mencapai lebih dari 30 juta ton. Nigeria berada di angka 5,9 juta ton, Pantai Gading 1,7 juta ton, dan Vietnam 26,2 juta ton.

 

 

 

Wanti-Wanti Pengusaha

Amran meminta para pengusaha untuk menaruh harga yang sesuai. Dia juga menolak modus-modus agar ada impor beras karena stok di dalam negeri yang kekurangan. Hanya saja, modus itu tak bisa berlaku lagi ketika cadangan beras RI melimpah.

"Jadi kepada teman-teman pengusaha, jangan mempermainkan harga di lapangan. Kalau dulu, stok di Bulog hanya 1 juta ton kemudian harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang berbeda. Kita surplus. Kita sudah swasembada," ungkap Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini.

"Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak," imbuh Amran.

 

Pasokan Beras Tidak Langka di Toko Ritel

Menanggapi stok beras minim di ritel moderen, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mendorong Perum Bulog untuk mengisi kekurangan suplai beras di ritel modern. Ini karena Bulog mempunyai merek beras premium, sehingga merupakan kesempatan emas dalam pemasaran beras komersial Bulog.

"Bukan langka. Saya kira kan kami juga kunjungan ke lapangan, melihat di ritel modern itu masih ada, (memang) tidak banyak tapi ada. Ini kesempatan Bulog masuk. Bulog kan punya Befood, punya Punokawan, Setra Ramos. Nah Bulog mengisi kekurangan suplai, jadi bukan langka. Ini bisa diisi oleh Bulog," ucap Ketut.

Adapun dalam laporan yang diterima Bapanas, per 12 Juni stok beras komersial yang ada di Bulog masih berada di angka 11,4 ribu ton. Realisasi pengadaan setara beras untuk stok komersial pun terus bergerak. Saat ini telah mencapai 45,5 ribu ton dari total pengadaan 3,1 juta ton.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6