Ini Modal Indonesia Tambah Daya Saing Investasi Hulu Migas

Daya tarik investasi hulu migas tidak hanya ditentukan potensi bawah permukaan (underground risk), melainkan juga faktor above ground risk.

Diterbitkan 18 September 2026, 19:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia masih memiliki potensi sumber daya minyak dan gas (migas) yang besar. Namun, daya tarik investasi tidak hanya ditentukan potensi bawah permukaan (underground risk), melainkan juga faktor above ground risk seperti kepastian politik, arah kebijakan ekonomi, regulasi, birokrasi perizinan, kepastian pasar, dan ketersediaan infrastruktur pendukung.

Penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan juga perlu terus didorong untuk meningkatkan daya saing investasi sektor hulu migas.

Sinergi tersebut menjadi salah satu kunci untuk mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, mendorong peningkatan produksi, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

“Dari sisi underground risk, kita termasuk tiga atau empat besar di Asia Pasifik. Sementara dari sisi above ground risk, faktor yang diperhatikan antara lain kepastian politik, visi dan arah ekonomi, regulasi dan kebijakan, birokrasi perizinan, kejelasan market, serta infrastruktur pendukung,” kata Dosen sekaligus Pengamat Migas dari Universitas Trisakti, Pri Agung Rakhmanto melansir Antara, Jumat (18/9/2026).

Potensi tersebut perlu didukung ekosistem investasi yang semakin kompetitif sehingga mampu menarik modal, terutama untuk eksplorasi dan pengembangan lapangan. Sejumlah perusahaan migas internasional yang masih melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi potensial disebutkan antara lain Eni, Petronas, dan Mubadala.

Kecepatan eksekusi proyek juga menjadi sinyal penting bagi investor. Semakin panjang waktu sejak penemuan (discovery) hingga proyek mulai berproduksi (onstream), semakin besar pengaruhnya terhadap persepsi investor dan keekonomian proyek.

Karena itu, sinergi antar pemangku kepentingan perlu menjadi salah satu pendorong percepatan eksekusi. “Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor,” ujar Pri Agung.

 

 

Upaya Pemerintah

Dari sisi fiskal, Pri Agung menilai pemerintah telah melakukan sejumlah perbaikan yang positif. Namun, persaingan mendapatkan modal global tetap ketat karena proyek di Indonesia harus bersaing dengan portofolio investasi di berbagai negara.

Keberhasilan kebijakan investasi juga tidak cukup diukur dari kenaikan nilai investasi, tetapi perlu tercermin pada indikator yang lebih konkret, terutama peningkatan cadangan dan produksi.

Kepercayaan investor terhadap sektor hulu migas antara lain tercermin dari keputusan investasi dan eksekusi proyek di lapangan. Proyek strategis seperti Abadi Masela dan North Hub/Geng North–Gehem, aktivitas eksplorasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta peluang pengembangan Wilayah Kerja (WK) migas baru menjadi momentum yang perlu terus dikawal hingga setiap tahapan proyek dapat direalisasikan.

Kathy Wu, bp Regional President Asia Pacific, beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa persaingan mendapatkan alokasi modal di tingkat global sangat ketat. Karena itu, kemitraan strategis dengan pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan investor.

“Proyek di Indonesia harus benar-benar kompetitif, baik dari sisi tingkat pengembalian investasi, risiko, kepastian pelaksanaan, hingga kepastian bahwa hasil yang dihitung di atas kertas benar-benar dapat terealisasi,” jelas Kathy.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6