Tidak Terganggu Dampak Perang, WIKA: Kita Gunakan Material Dalam Negeri

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menegaskan bahwa proyek perseroan tidak terdampak signifikan oleh konflik Iran-Israel.

Diterbitkan 06 April 2026, 22:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) memastikan kelanjutan proyek-proyek infrastruktur yang sedang berjalan tidak akan terganggu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Meskipun ketegangan antara Iran dan sekutu Amerika Serikat memicu fluktuasi ekonomi global, WIKA mengklaim ketergantungan terhadap material impor yang minim menjadi benteng utama dalam menjaga kinerja perusahaan.

Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Agung Budi Waskito, menyatakan konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel-Amerika Serikat tidak berdampak signifikan terhadap proyek-proyek perseroan. Menurut Agung, mayoritas kebutuhan material proyek masih dipasok dari dalam negeri sehingga tekanan terhadap kinerja perusahaan tetap terbatas.

“Sebenarnya, WIKA pada umumnya tidak menggunakan material impor sehingga memang efeknya tidak sangat besar karena kita hampir semuanya menggunakan material yang di dalam negeri,” katanya di Kantor Proyek Tol Harbour Road II, Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).

Meski demikian, Ia mengakui adanya kenaikan harga pada sejumlah material impor yang berdampak pada industri karya. Ia mencontohkan besi beton yang disebut masih sering diimpor.

Lagi, ia menegaskan porsi penggunaan material impor oleh WIKA relatif kecil. Maka dari itu, ia masih meyakini proyek yang berjalan tidak akan terganggu. “Tentu ada beberapa material yang mengalami kenaikan (harga). Material pertama adalah material impor, seperti besi beton,” jelasnya.

WIKA Catat Penjualan Rp 20,45 Trilliun di 2025

Sebelumnya, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatat kontrak baru sebesar Rp 17,46 triliun, yang berkontribusi pada total kontrak berjalan sebesar Rp 50,52 triliun sepanjang 2025.

Mengutip Keterbukaan Informasi BEI, Jumat (3/4/2026) atas kontrak berjalan tersebut, Perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp 20,45 triliun, terdiri dari Penjualan non Kerja Sama Operasi (KSO) sebesar Rp 13,33 triliun dan Penjualan KSO sebesar Rp 7,12 triliun, sehingga Perseroan membukukan laba kotor (gross profit) sebesar Rp 1,13 triliun.

"Gross Profit Margin (GPM) Perseroan tercatat meningkat dari 7,9% di tahun 2024 menjadi 8,5% di tahun 2025. Peningkatan margin tersebut terutama berasal dari core business Perseroan yaitu infrastruktur & gedung dan EPCC," kata Corporate Secretary WIKA, Ngatemin (Emin).

Keunggulan operasi dan pengelolaan proyek WIKA juga ditunjukan dengan EBITDA operasi yang positif sebesar Rp 426,52 miliar. Hal ini mencerminkan kinerja operasi yang semakin baik (Operation excellence) di tengah proses restrukturisasi yang sedang berjalan.

Di sisi lain, Perseroan juga terus merealisasikan upaya perbaikan struktur keuangan dengan mencatatkan penurunan pada utang usaha sebesar Rp 1,79 triliun dan utang berbunga sebesar Rp 2,08 triliun, atau menurun 29,5% dan 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini menunjukan kemampuan Perseroan dalam melakukan pengelolaan proyek secara unggul dan berkelanjutan, serta komitmen Perseroan untuk terus menurunkan kewajiban dan menjaga keseimbangan arus kas di tengah tekanan industri.

Upaya Penyehatan Keuangan

Selain mengupayakan operation excellence dan perbaikan struktur permodalan, Perseroan melalui 8 langkah stream penyehatan keuangan juga terus mengupayakan percepatan penyelesaian piutang baik melalui mediasi hukum maupun upaya penagihan.

Terbukti Perseroan mampu menurunkan nilai piutang sebesar Rp 1,89 triliun atau sebesar 29,2% menjadi Rp 4,58 triliun, dan nilai pekerjaan dalam proses konstruksi sebesar Rp 1,15 triliun atau sebesar 34,6% di tahun 2025.

Ia menyampaikan bahwa Perseroan terus berupaya meningkatkan kinerja operasi dan melakukan perbaikan struktur permodalan.

“Peningkatan kinerja operasi serta perbaikan struktur permodalan yang dilakukan secara konsisten melalui 8 stream penyehatan menjadi fondasi penting untuk menjaga keunggulan dan keberlangsungan Perseroan," ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6