Laporan dari Australia : Ini Alasan Pebisnis Negeri Kanguru Ragu Investasi di Indonesia

Transaksi perdagangan antara Indonesia dengan Australia mengalami peningkatan tinggi berkat IA-CEPA. Namun, investasi Australia ke Indonesia stagnan.

Diterbitkan 18 November 2025, 08:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Sydney - Wakil Presiden Nasional Australia–Indonesia Business Council (AIBC) Lydia Santoso, mengungkapkan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) memang berhasil memperlancar perdagangan, namun belum cukup kuat untuk mendorong arus modal jangka panjang.

Ia menyebut investasi memerlukan faktor yang lebih kompleks dibanding perdagangan, terutama soal kepastian, hubungan, dan kepercayaan. Kondisi ini membuat Australia dan Indonesia menghadapi tantangan tersendiri.

Meski nilai perdagangan Indonesia–Australia meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir hingga mencapai sekitar AUD 30 miliar, namun investasi dua negara ini justru belum bergerak signifikan.

Lydia Santoso menekankan bahwa angka investasi Australia ke Indonesia masih berkisar AUD 1 miliar tingkat yang dianggap terlalu rendah untuk dua ekonomi besar dan bertetangga dekat.

"Perdagangan antara Australia dan Indonesia tiga kali lipat. Nilainya sekarang sekitar AUD 30 miliar. Tapi yang mengejutkan adalah bahwa investasi dua arah masih sangat rendah. Masih berada di sekitar AUD 1 miliar," ujar Lydia dalam media briefing di The Grace Hotel, Sydney, Australia, ditulis Selasa (18/11/2025).

Meski kerja sama dagang berkembang, ekosistem investasi belum memberikan rasa aman yang dibutuhkan investor Australia. Hal inilah yang membuat banyak peluang bisnis belum dimanfaatkan secara optimal.

"Jadi, IA-CEPA sebenarnya belum menggerakkan angka itu. Angkanya masih stabil di level tersebut," ujarnya.

 

 

Upaya Meningkatkan Kepercayaan dan Arah Kebijakan Baru

Meski ada tantangan, Lydia optimistis bahwa keraguan tersebut dapat diatasi jika kedua pemerintah memperkuat koordinasi dalam penyempurnaan IA-CEPA.

Pemerintah Indonesia dan Australia kini sedang mempertimbangkan renegosiasi beberapa aspek perjanjian tersebut untuk menyesuaikan dengan kondisi ekonomi global pasca-pandemi. Kunjungan balasan Perdana Menteri Australia ke Indonesia pada Februari 2025 diharapkan membuka ruang diskusi yang lebih konkret.

"Saya pikir Perdana Menteri kami dijadwalkan untuk melakukan kunjungan balasan ke Indonesia pada Februari tahun depan. Tahun ini adalah peringatan lima tahun IA-CEPA, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Australia," ujarnya.

 

Investasi Australia ke Indonesia Tersendat di Level Pola Pikir

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Institut Australia–Indonesia, Rob Law, mengatakan hubungan ekonomi Indonesia–Australia sebenarnya menyimpan potensi besar, namun hingga kini masih belum tergarap optimal.

Salah satu penyebab utama adalah pola pikir pelaku bisnis Australia yang masih tertuju pada pasar-pasar tradisional. Amerika Serikat dan Tiongkok tetap menjadi magnet utama bagi ekspansi bisnis mereka.

Selain dianggap lebih familiar, kedua negara itu menawarkan skala pasar yang sangat besar sehingga terasa lebih “aman” bagi perusahaan Australia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6