Rupiah Ditutup Nyaris Tembus 18.000 per Dolar AS, Sentimen Domestik Jadi Beban

Kurs rupiah ditutup melemah ke 17.995 per dolar AS. Sentimen domestik, mulai dari PMI manufaktur, defisit neraca dagang, hingga data AS membebani rupiah.

Diterbitkan 02 Juli 2026, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Pelemahan mata uang Garuda dipicu kombinasi sentimen negatif dari dalam negeri yang memengaruhi kepercayaan pelaku pasar.

Berdasarkan data perdagangan, kurs rupiah ditutup turun 43 poin atau 0,24% ke level 17.995 per dolar AS, dari posisi sebelumnya 17.952 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah menjadi 17.994 per dolar AS, dibandingkan sehari sebelumnya di level 17.961 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap sejumlah perkembangan ekonomi domestik.

“Kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Indonesia bulan Mei defisit, Inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI (Morgan Stanley Capital International),” ujarnya dikutip dari Antara,.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur Indonesia juga menunjukkan perlambatan. Data terbaru S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia berada di level 46,9 pada Juni 2026, menjadi penurunan terdalam dalam satu tahun terakhir.

 

Proyeksi Fitch Ratings

Ibrahim menjelaskan penurunan PMI mencerminkan melemahnya kondisi sektor manufaktur nasional. Permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia menurun sehingga berdampak pada penurunan pesanan baru.

“Headline menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun. Penyebab utama penurunan pada bulan Juni adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun,” kata Ibrahim.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari proyeksi Fitch Ratings yang memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Angka tersebut sedikit di bawah median negara dengan peringkat BBB yang mencapai lima bulan.

Menurut Fitch, penurunan cadangan devisa dipengaruhi memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Dari eksternal, pelaku pasar juga menanti rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 110 ribu tenaga kerja. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,3%, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan nilai tukar rupiah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6