Sukses

Mau Anak Sukses, Hindari Gaya Asuh Seperti Ini

Liputan6.com, Jakarta Mengasuh anak sangat menantang, terutama di saat pascapandemi saat ini. Tentu tidak mudah membesarkan tiga orang putri.

Esther Wojcicki merupakan seorang pendidik, jurnalis, dan penulis buku laris “How to Raise Successful People.

Dia juga salah satu pendiri Tract, di mana dia membawa filosofi pengajaran yang berpusat pada siswa ke ruang kelas di seluruh dunia.

Esther memiliki tiga putri yang tumbuh menjadi orang-orang yang sangat berprestasi. Yaitu Susan adalah CEO YouTube, Janet adalah seorang dokter, dan Anne adalah salah satu pendiri dan CEO 23andMe. Mereka naik ke puncak ultra-kompetitif, profesi yang didominasi laki-laki.

Saat menulis bukunya, “How to Raise Successful People” Esther menerima begitu banyak pertanyaan tentang pendekatan pengasuhan yang membuat dirinya sukses seperti sekarang.

Tetapi yang benar-benar ingin diketahui banyak orang adalah bagaimana sebenarnya gaya pengasuhan buruk yang harus dihindari.

Berdasarkan pengalaman dan penelitiannya, Esther mengatakan percaya dengan yang namanya "Helicopter Parenting " adalah yang paling toxic. Berikut penjelasan Esther di lansir dari CNBC, Kamis (27/10/2022).

Apa itu Helicopter Parenting?

Helicopter Parenting kadang-kadang disebut juga “snowplow parenting”, yaitu ketika Anda terus-menerus menyingkirkan rintangan sehingga anak-anak Anda tidak harus menghadapi tantangannya sendiri dan frustrasi.

Bentuk keterlibatan yang berlebihan ini melemahkan anak-anak, Anda pada dasarnya melakukan segalanya untuk mereka dan memastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi bahkan sebelum Anda tahu mereka membutuhkannya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Merusak Anak

 

Studi mengatakan hal itu merusak kemampuan anak-anak untuk mengembangkan pengendalian diri, keterampilan memecahkan masalah, menavigasi konflik sendiri, dan menciptakan identitas yang terpisah dari orang tua mereka.

Helicopter parenting ini memiliki niat terbaik, tetapi hasilnya adalah kebalikan dari apa yang mereka inginkan, mereka menghasilkan anak-anak yang takut mengambil risiko, selalu membutuhkan bantuan, dan kurang kreativitas.

Teman Esther, Maye Musk, model yang sukses dan ibu dari Elon Musk, setuju dengan efek berbahaya dari pola asuh helikopter.

Dia tidak pernah memeriksa pekerjaan rumah (PR) anak-anaknya. Dia tidak bisa. Dia memiliki lima pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan.

Ketika pekerjaan rumah mereka membutuhkan persetujuan orang tua, dia meminta mereka melatih tanda tangannya sehingga mereka bisa menandatangani untuknya.

“Saya tidak punya waktu,” kata Maye kepada Esther, “dan itu adalah pekerjaan mereka,” tambahnya.

Itulah yang dibutuhkan anak-anak saat ini, untuk tidak dikendalikan atau dilindungi secara berlebihan, tetapi dibiarkan bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri.

3 dari 4 halaman

Jangan Berlebihan Harus Seimbang

Di sisi lain, orang tua tidak boleh berlebihan. Anda tidak membiarkan anak-anak keluar sendirian untuk berbelanja ketika mereka berusia lima tahun, atau mengharapkan mereka membuat makan malam ketika mereka berusia 10 tahun.

Berilah mereka tantangan yang sesuai dengan usianya. Tujuannya adalah agar mereka bangga dengan pekerjaan yang mereka lakukan, pekerjaan yang menjadi milik mereka dan milik mereka sendiri. Mereka akan membangun keterampilan menuju kemandirian dan juga belajar membantu di sekitar rumah.

Misalnya bisa jadi memasak di dapur. Ajari anak Anda cara membuat sarapan sendiri. Mereka bisa menuangkan sereal dan susu. Anak-anak yang lebih besar dapat membuat telur orak-arik. Atau mereka semua bisa belajar membuat salad.

Jika anak Anda tidak pernah memasak, mereka mungkin merasa tidak mampu memasak apa pun tanpa ada yang mengawasinya. Kebanyakan anak tidak tahu bagaimana membuat sesuatu untuk diri mereka sendiri.

 

4 dari 4 halaman

'TRICK' Sederhana Untuk Membesarkan Anak-Anak Sukses

Baik orang tua maupun guru dapat memberdayakan anak-anak untuk menjadi pemikir independen, bekerja dengan teman sebayanya, dan membangun kepercayaan diri mereka. Esther merekomendasikan TRICK, yaitu akronim untuk Trust, Respect, Independence, Collaboration and Kindness:

Trust/Kepercayaan : Kepercayaan harus dimulai dari orang tua. Ketika orang tua yakin dengan pilihan yang buat, orang tua kemudian dapat memercayai anak-anaknya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan menuju pemberdayaan.

Respect/Rasa Hormat: Setiap anak memiliki karunia, dan merupakan tanggung jawab orang tua untuk memelihara karunia itu. Ini adalah kebalikan dari memberi tahu mereka ingin menjadi siapa, profesi apa yang harus dikejar, dan seperti apa kehidupan mereka seharusnya.

Independence/Kemandirian: Ini bergantung pada fondasi kepercayaan dan rasa hormat yang kuat. Anak-anak yang benar-benar mandiri mampu mengatasi kesulitan, kemunduran, kebosanan dan semua aspek kehidupan yang tak dapat dihindari.

Collaboration/Kolaborasi: Kolaborasi berarti bekerja bersama sebagai keluarga, di kelas atau di tempat kerja. Bagi orang tua, itu berarti mendorong anak untuk berkontribusi dalam diskusi, keputusan, dan bahkan kedisiplinan.

Kindness/Kebaikan: Kebaikan sejati melibatkan rasa syukur dan pengampunan, pelayanan terhadap orang lain dan kesadaran akan dunia di luar diri Anda.

Beri diri Anda istirahat dan berhenti memantau anak-anak Anda secara berlebihan. Biarkan mereka membantu dan memimpin. Mereka akan menghargainya, tumbuh lebih mandiri, dan percaya diri.

Mulailah dengan membiarkan anak Anda membuat keputusan tentang apa yang ingin mereka lakukan, bahkan mungkin merencanakan sesuatu untuk seluruh keluarga. Bayangkan betapa kuatnya perasaan mereka.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS