7 Kebiasaan Orang Tua yang Diam-Diam Membentuk Kepercayaan Diri Anak

Percaya diri anak tidak muncul begitu saja. Simak 7 kebiasaan sederhana yang menurut psikolog dapat membentuk kepercayaan diri anak hingga dewasa.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 17:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Percaya diri sering kali disalahartikan sebagai sifat berani, banyak bicara, atau selalu tampil menonjol. Padahal, menurut para psikolog, kepercayaan diri yang sesungguhnya adalah keyakinan dalam diri bahwa seseorang mampu menghadapi tantangan, meski situasinya terasa sulit.

Anak yang percaya diri tidak lahir begitu saja. Sifat ini tumbuh perlahan melalui interaksi sehari-hari dengan orang tua. Cara orang tua merespons kesalahan, menghargai usaha, mendengarkan perasaan anak, hingga memberi kesempatan untuk mandiri memiliki pengaruh besar terhadap cara anak memandang dirinya sendiri.

Berbagai penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa rasa percaya diri yang kuat tidak dibangun melalui pujian berlebihan atau pola asuh yang sempurna. Sebaliknya, kepercayaan diri tumbuh dari dukungan emosional yang konsisten, kesempatan untuk memecahkan masalah, serta hubungan yang membuat anak merasa aman dan diterima.

Berikut 7 kebiasaan orang tua yang dinilai psikolog mampu menumbuhkan rasa percaya diri anak hingga dewasa, dilansir Liputan6.com dari India Times, Rabu (8/7/2026).

1. Memberi Kesempatan Anak Mencoba Sebelum Membantu

Melihat anak kesulitan mengikat tali sepatu, menyusun puzzle, atau memanjat permainan di taman sering kali membuat orang tua ingin segera turun tangan. Namun, terlalu cepat membantu justru dapat membuat anak merasa dirinya tidak mampu.

Psikolog menyarankan agar orang tua memberi jeda sebelum menawarkan bantuan. Ketika anak diberi kesempatan berpikir, mencoba, bahkan mengalami kegagalan kecil sebelum akhirnya berhasil, mereka akan mengembangkan self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa mereka mampu mengatasi tantangan dengan usaha sendiri.

2. Memuji Proses, Bukan Hanya Bakat

Kalimat seperti "Kamu memang pintar" memang terdengar menyenangkan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pujian yang berfokus pada usaha, ketekunan, dan strategi lebih efektif dibandingkan hanya memuji kemampuan alami.

Anak yang terbiasa dihargai karena kerja kerasnya cenderung lebih berani menghadapi tantangan, tidak mudah menyerah saat gagal, dan memahami bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui latihan.

Daripada hanya memuji hasil akhir, orang tua bisa mengapresiasi proses yang telah dijalani anak untuk mencapai keberhasilan tersebut.

3. Menjadikan Rumah Tempat yang Aman untuk Berbuat Salah

Anak yang percaya diri bukanlah anak yang tidak pernah gagal. Mereka adalah anak yang tahu bahwa kesalahan tidak akan membuat kasih sayang orang tuanya berkurang.

Saat orang tua merespons kesalahan dengan rasa ingin tahu, diskusi, dan bimbingan, bukan kemarahan atau kritik yang berlebihan, anak akan lebih berani mencoba hal-hal baru. Mereka juga belajar melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk merasa malu.

4. Melatih Kemandirian Sesuai Usia

Membereskan tas sekolah, memilih pakaian sendiri, atau memesan makanan di restoran mungkin terlihat sederhana. Namun, tanggung jawab kecil seperti ini membantu anak belajar mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah sehari-hari.

Semakin sering anak berhasil melakukan sesuatu secara mandiri, semakin kuat pula keyakinannya bahwa ia mampu mengandalkan dirinya sendiri.

5. Mendengarkan Anak Tanpa Selalu Berusaha Menyelesaikan Masalahnya

Tidak semua keluhan anak membutuhkan solusi seketika. Terkadang, mereka hanya ingin didengarkan.

Ketika orang tua memberi ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya tanpa langsung menghakimi atau memberi nasihat, anak belajar bahwa emosinya berharga dan layak didengar.

Pendekatan ini juga membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi serta meningkatkan rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain.

6. Menunjukkan Bahwa Kasih Sayang Tidak Bergantung pada Prestasi

Nilai ujian yang buruk, kesalahan yang dilakukan anak, atau perilaku yang mengecewakan tidak seharusnya membuat anak merasa kehilangan kasih sayang orang tua.

Penelitian mengenai attachment menunjukkan bahwa hubungan yang hangat dan responsif antara orang tua dan anak berkaitan dengan rasa aman, ketahanan mental, serta harga diri yang lebih baik.

Ketika anak memahami bahwa dirinya tetap dicintai dalam kondisi apa pun, mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh kesempurnaan.

7. Memberikan Contoh Percaya Diri dalam Kehidupan Sehari-hari

Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilakukan orang tua dibandingkan apa yang dikatakan.

Orang tua yang berani mengakui kesalahan, mencoba hal baru meski merasa gugup, atau berbicara positif tentang dirinya sendiri secara tidak langsung mengajarkan arti percaya diri kepada anak.

Melalui pengamatan sehari-hari, anak memahami bahwa rasa percaya diri bukan berarti tidak pernah takut atau gagal, melainkan tetap berani melangkah meski menghadapi ketidakpastian.

Percaya Diri Dibangun dari Kebiasaan Sederhana

Banyak orang tua mengira rasa percaya diri anak hanya bisa dibentuk melalui sekolah terbaik, kursus mahal, atau berbagai prestasi besar. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa fondasi kepercayaan diri justru lahir dari momen-momen sederhana yang terjadi setiap hari.

Menunggu dengan sabar saat anak berusaha menyelesaikan tugasnya sendiri, mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, menghargai usaha setelah mengalami kegagalan, atau memeluk anak ketika ia sedang kecewa merupakan pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam.

Anak mungkin tidak mengingat setiap pujian yang pernah diterimanya. Namun, mereka akan selalu mengingat bagaimana orang tua membuat mereka merasa diterima, dihargai, dan dicintai. Dari rumah yang penuh rasa aman itulah tumbuh keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi tantangan, bangkit setelah gagal, dan menjalani hidup dengan percaya diri.

Pertanyaan Seputar Kebiasaan Orang Tua yang Diam-Diam Membentuk Kepercayaan Diri Anak

Q: Apa yang membuat anak tumbuh percaya diri menurut psikolog?

A: Menurut psikolog, rasa percaya diri anak tumbuh dari dukungan emosional yang konsisten, kesempatan mencoba sendiri, penghargaan terhadap usaha, serta hubungan yang hangat dan penuh rasa aman dengan orang tua.

Q: Mengapa orang tua sebaiknya tidak langsung membantu saat anak kesulitan?

A: Memberi kesempatan anak menyelesaikan masalah sendiri membantu membangun self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa mereka mampu mengatasi tantangan melalui usaha sendiri.

Q: Apakah memuji anak sebagai "pintar" baik untuk membangun kepercayaan diri?

A: Pujian tetap penting, tetapi psikolog menyarankan untuk lebih sering memuji usaha, ketekunan, dan proses belajar agar anak tidak takut menghadapi tantangan baru.

Q: Bagaimana cara orang tua menyikapi kesalahan anak?

A: Orang tua sebaiknya menjadikan kesalahan sebagai kesempatan belajar, bukan alasan untuk memarahi atau mempermalukan anak. Pendekatan ini membantu anak menjadi lebih tangguh dan percaya diri.

Q: Apa hubungan kemandirian dengan rasa percaya diri anak?

A: Semakin sering anak diberi tanggung jawab yang sesuai usianya, semakin besar rasa percaya dirinya karena mereka belajar mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah sendiri.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6