Rupiah Kembali Tembus 18.000 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu

Kurs rupiah ditutup melemah ke 18.014 per dolar AS. Konflik AS-Iran, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan sikap The Fed menjadi sentimen utama.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Mata uang Garuda turun 34 poin atau 0,19% ke level 18.014 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di 17.980 per dolar AS.

Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Rabu, JISDOR berada di level 18.005 per dolar AS, turun dari posisi sehari sebelumnya sebesar 17.988 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Iran.

"Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai 'biaya berat' atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurut Ibrahim, eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi itu berpotensi mengganggu pasokan energi global sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.

Selain itu, AS juga mencabut konsesi yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak di pasar internasional. Langkah tersebut diperkirakan membuat pasokan minyak dunia semakin ketat dalam beberapa pekan ke depan.

 

Ketegangan Meningkat

Ibrahim menambahkan, ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Perkembangan itu memperbesar ketidakpastian terhadap jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

"Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti," ujar dia.

Selain faktor geopolitik, rupiah juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%.

Meski demikian, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS atau The Fed pada Juli relatif kecil. Sebaliknya, peluang kenaikan suku bunga pada September mendekati 60% berdasarkan CME FedWatch Tool.

"Para pedagang sekarang mengalihkan perhatian mereka ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bulan Juni, yang akan dirilis nanti malam pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pemikiran The Fed," ungkap Ibrahim.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6