Sukses

Konflik dengan Israel, Bagaimana Kondisi Ekonomi Palestina?

Liputan6.com, Jakarta Konflik menahun Palestina-Israel terus memuncak. Tidak hanya dari segi politik, kondisi ekonomi kedua negara juga terdampak akibat pertikaian ini, terutama bagi Palestina.

Sebagai catatan, Palestina hampir tidak pernah memiliki ekonomi yang stabil sejak dilanda perang. Menurut laporan Bank Dunia bertajuk Palestinian Territories Economy Update - April 2021, pertumbuhan ekonomi Palestina di tahun 2017- 2019, dimana Covid-19 belum merebak, tercatat hanya 1,3 persen.

Pada tahun 2020, ekonomi negara ini minus 11,5 persen. Ketika kondisi politik memanas, pandemi datang dan membuat ekonomi Palestina semakin terpuruk.

"Otoritas Palestina sendiri telah berupaya keras untuk menanggulangi pandemi," jelas Direktur Bank Dunia untuk Tepi Barat dan Gaza Kanthan Shankar dalam laporannya.

Meski demikian, donasi dan bantuan terus mengalir untuk negara ini, walaupun jumlahnya terus menyusut. Shankar mengatakan, Palestina semakin kesulitan untuk melindungi warganya.

Lebih dari seperempat warga Palestina hidup di garis kemiskinan. Sejak pandemi melanda, jumlahnya lebih banyak. Untuk wilayah Palestina sendiri jumlahnya 22 persen, sementara untuk jalur Gaza jumlahnya 46 persen.

Selain itu, tingkat pengangguran anak muda Palestina mencapai 23,4 persen, dan di jalur Gaza sebanyak 43 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Secara rinci, 121 ribu orang kehilangan pekerjaan. Sebanyak 96 ribu di antaranya berada di wilayah Palestina, terutama di sektor pariwisata, restaurant dan konstruksi.

Lalu, jaringan internet di wilayah Tepi Barat Palestina masih didominasi jaringan 3G. Untuk di Gaza, jaringannya masih 2G.

2 dari 3 halaman

Nyaris 200 Warga Sipil Tewas Akibat Ketegangan Israel Vs Palestina di Gaza

Sebelumnya, setidaknya 192 orang, termasuk 58 anak-anak dan 34 perempuan, telah tewas di Jalur Gaza sejak kekerasan terbaru akibat ketegangan dengan Israel pekan lalu.

Dilansir Al Jazeera, Senin (17/5/2021) sebanyak 10 orang tewas di Israel, termasuk dua anak-anak.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan pertemuan pada Minggu (16/5) yang membahas tentang kekerasan itu, namun gagal untuk membuat kesepakatan.

Sebelumnya, pada Minggu (16/5), militer Israel melakukan serangan intens di Jalur Gaza, menewaskan sedikitnya 42 warga Palestina, melukai puluhan lainnya, dan merusak setidaknya tiga bangunan tempat tinggal.

Rumah pimpinan Hamas di Gaza, Yehya al-Sinwar, juga menjadi sasaran serangan tersebut, menurut media kelompok tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa akhir dari tujuh hari pertempuran dengan para pejuang Gaza tidak akan terjadi dalam waktu dekat, meskipun ada langkah diplomatik untuk mencapai ketenangan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: