Fitur Smartphone dan Aplikasi ini Bisa Bantu Lindungi Kamu dari Spyware

Ancaman spyware di perangkat pribadi seperti smartphone tak bisa dianggap remeh karena bisa merekam panggilan telepon hingga melacak lokasi korban.

Diterbitkan 25 Mei 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ancaman serangan spyware tingkat tinggi terhadap jurnalis, aktivis hak asasi manusia (HAM), dan penentang kebijakan pemerintah bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah atau kasus langka.

Di era digital saat ini, infiltrasi senyap ke dalam gadget pribadi telah menjadi realitas yang menakutkan sekaligus lumrah terjadi di berbagai belahan dunia.

Pada awal tahun 2025, platform pesan instan WhatsApp mengirimkan notifikasi darurat kepada sekitar 90 penggunanya di Eropa--sebagian besar adalah jurnalis dan anggota masyarakat sipil. Mereka diberi tahu bahwa perangkat mereka telah menjadi target spyware besutan Paragon Solutions, sebuah perusahaan siber asal Israel.

Tidak berselang lama, Apple turut merilis peringatan ancaman serupa kepada sejumlah pengguna iOS. Hasil analisis forensik digital mengonfirmasi bahwa dua orang jurnalis di antaranya telah terinfeksi spyware bernama Graphite milik Paragon.

Ironisnya, sebagaimana dikutip dari Techcrunch, Senin (25/5/2026), infeksi ini menggunakan metode serangan zero-click. Artinya, korban sama sekali tidak perlu mengeklik tautan apa pun agar ponsel mereka dapat diretas. Ponsel mereka langsung terkompromi secara otomatis tanpa jejak.

Senjata Pemantau Massal yang Menakutkan

Selama 15 tahun terakhir, para peneliti keamanan siber telah mendokumentasikan ribuan kasus peretasan yang disponsori oleh negara. Target utamanya jelas: jurnalis yang kritis, pembela HAM, serta oposisi politik.

Serangan ini mengandalkan alat mata-mata yang sangat mahal, canggih, dan bekerja secara kasat mata. Target utamanya adalah smartphone sebuah perangkat yang menyimpan seluruh lini kehidupan, data sensitif, riwayat percakapan, hingga aktivitas harian seseorang.

Ketika spyware berhasil menyusup, operator atau intelijen negara memiliki akses penuh terhadap gawai korban. Mereka bahkan bisa:

  • Merekam panggilan telepon secara diam-diam.
  • Mencuri isi pesan percakapan yang terenkripsi.
  • Mengakses galeri foto pribadi.
  • Menyalakan kamera dan mikrofon gawai dari jarak jauh untuk menguping pembicaraan di sekitar lokasi.
  • Melacak lokasi keberadaan korban secara real-time.

 

Respons Raksasa Teknologi

Menanggapi eskalasi ancaman ini, raksasa teknologi seperti Apple, Google, dan Meta tidak tinggal diam. Mereka kini menyediakan fitur pertahanan tingkat tinggi yang dapat diaktifkan secara sukarela oleh pengguna yang berisiko tinggi.

Meski fitur-fitur ini terkadang membatasi beberapa fungsi reguler ponsel demi keamanan ekstrem, para pakar keamanan siber sangat merekomendasikannya. Berikut adalah protokol pertahanan berlapis yang wajib diaktifkan oleh para jurnalis dan aktivis:

1. Apple Lockdown Mode 

Fitur ini tersedia untuk seluruh ekosistem Apple, termasuk iPhone. Saat diaktifkan, performa dan fungsi ponsel akan berubah demi menutup celah peretasan.

Lembaga riset Citizen Lab membuktikan bahwa Lockdown Mode berhasil memblokir serangan spyware Pegasus buatan NSO Group. Hingga Maret 2026, Apple menyatakan belum pernah mendeteksi adanya serangan yang berhasil menembus perangkat gawai saat mode ini aktif.

Beberapa proteksi ketat dalam Lockdown Mode meliputi:

  • Pemblokiran otomatis terhadap sebagian besar lampiran pesan di iMessage (kecuali gambar, video, dan audio tertentu).
  • Tautan di iMessage tidak bisa diklik secara langsung dan pratinjau (preview) tautan akan dimatikan.
  • Pemblokiran teknologi web tertentu saat berselancar di Safari.
  • Panggilan FaceTime dari nomor tidak dikenal akan otomatis diblokir.
  • Ponsel tidak akan terhubung ke jaringan seluler jadul seperti 2G atau 3G yang rentan manipulasi, serta mematikan koneksi otomatis ke Wi-Fi publik.

Cara Mengaktifkan: Buka Pengaturan (Settings) > Privasi & Keamanan (Privacy & Security) > gulir ke bawah lalu pilih Lockdown Mode, kemudian perangkat kamu akan memuat ulang (restart).

2. Google Advanced Protection Program

Program perlindungan lanjutan dari Google ini didesain sejak 2017 untuk membentengi akun Google dari peretasan siber global.

Fitur ini membatasi aplikasi pihak ketiga dalam mengakses data akun kamu, mengaktifkan pemindaian mendalam (Deep Gmail Scans) untuk mendeteksi pesan penipuan (phishing), dan mewajibkan penggunaan kunci keamanan fisik (security key) atau kunci sandi (passkey) saat masuk (login).

3. Android Advanced Protection Mode

Terinspirasi dari langkah Apple, Google juga meluncurkan mode perlindungan tingkat lanjut untuk sistem operasi Android. Fitur utamanya meliputi:

  • Blokir Aplikasi Asing: Pengguna sama sekali tidak bisa memasang aplikasi di luar Google Play Store resmi.
  • Fitur Anti-Maling: Ponsel akan terkunci otomatis jika sensor mendeteksi gerakan cepat yang mencurigakan (seperti dijambret) atau saat gawai offline dalam waktu lama.
  • Boot Ulang Otomatis: Ponsel akan memuat ulang otomatis jika terkunci selama 72 hari, mempersulit alat forensik penegak hukum (seperti Cellebrite) untuk mengekstrak data.
  • Enkripsi HTTPS: Memaksa peramban Chrome menggunakan jalur enkripsi aman dan memblokir jaringan 2G.

Cara Mengaktifkan: Masuk ke Pengaturan (Settings) > Keamanan & Privasi (Security and Privacy) > Pengaturan Lainnya (Other Settings) > ketuk Advanced Protection, lalu pilih Device Protection.

4. WhatsApp Strict Account Settings

Sebagai aplikasi yang digunakan lebih dari 3 miliar orang, WhatsApp menjadi target utama intelijen. Pada 2019, sekitar 1.200 pengguna menjadi korban spionase NSO Group. Menanggapi hal tersebut, WhatsApp merilis Strict Account Settings (Pengaturan Akun Ketat).

Fitur ini otomatis mengaktifkan:

  • Verifikasi dua langkah (2FA).
  • Notifikasi keamanan jika ada kontak yang mengganti nomor atau menginstal ulang akun mereka.
  • Menyembunyikan alamat IP saat melakukan panggilan telepon.
  • Memblokir kiriman file media dari nomor yang tidak dikenal, serta menyembunyikan status foto profil dan data pribadi dari orang luar.

Cara Mengaktifkan: Buka aplikasi WhatsApp pada perangkat utama, masuk ke Pengaturan (Settings) > Privasi (Privacy) > gulir ke bawah menuju menu Lanjutan (Advanced), lalu aktifkan fitur tersebut.