Ironi AI di Indonesia: Pengguna Teraktif Dunia, tapi Keuntungan Dikeruk Negara Asing

Tingkat optimisme dan adopsi masyarakat Indonesia terhadap AI sangat tinggi, menembus angka 77 hingga 80 persen.

Diterbitkan 22 Mei 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia tercatat sebagai salah satu episentrum adopsi kecerdasan buatan (AI) paling agresif di tingkat global.

Kendati demikian, tingginya penetrasi pasar tersebut dinilai belum berbanding lurus dengan nilai tambah ekonomi makro yang dinikmati oleh ekosistem domestik, lantaran dominasi penguasaan teknologi infrastruktur yang masih dikuasai oleh pemain global.

"Ibaratnya, padi kita yang tanam di sini, tetapi lumbung asing yang penuh. Kita yang menanam, tetapi yang mendapatkan berasnya justru pihak lain," ucap Axioo Indonesia Representative, Samuel Lawrence, dalam diskusi bertajuk 'Menjembatani Gap AI untuk Kedaulatan Data Indonesia', Kamis (21/5/2026) di Jakarta.

Mengutip data Stanford AI Index Report, ia memaparkan tingkat optimisme dan adopsi masyarakat Indonesia terhadap AI sangat tinggi, menyentuh angka 77 hingga 80 persen.

"Angka itu menempatkan Indonesia di jajaran tiga besar negara pengguna AI paling aktif di dunia, bersanding dengan India dan China. Kontras dengan negara-negara barat, seperti Eropa dan Amerika Serikat, yang tingkat penerimaan masyarakatnya hanya berada di kisaran 39 persen," Samuel menambahkan.

Tingginya angka adopsi di Indonesia didorong oleh fleksibilitas sektor bisnis lokal, terutama UMKM, yang memanfaatkan kapabilitas agentic AI untuk otomatisasi penerimaan pesanan hingga manajemen operasional.

Di sisi konsumen, aplikasi percakapan berbasis AI seperti ChatGPT secara konsisten menempatkan Indonesia dalam posisi lima besar pengguna global sejak awal peluncuran teknologi tersebut.

Ketimpangan Investasi R&D

Namun, masifnya aktivitas penggunaan tersebut berbanding terbalik dengan kontribusi Indonesia dalam pengembangan fundamental teknologi AI.

Samuel menyayangkan minimnya investasi riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) di Indonesia yang saat ini hanya menyerap 0,28 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Angka investasi R&D Indonesia ini tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya seperti Vietnam dan Filipina, serta Korea Selatan yang mengalokasikan hingga 5 persen dari PDB mereka.

Rendahnya komitmen riset ini berimplikasi pada hilangnya potensi Indonesia dalam peta Large Language Model (LLM) berskala internasional.

"Kita hampir zero global potential dalam pengembangan dasar model AI. Kita tidak memiliki LLM asli Indonesia yang mencapai skala internasional, kita sejauh ini hanya menjadi pengguna," kata Samuel yang juga dikenal sebagai Co-founder Axioo Indonesia.

Dampaknya, perputaran kapital raksasa justru menumpuk di Amerika Serikat (AS). Samuel mencontohkan kapitalisasi pasar Nvidia yang kini menembus angka USD 5,5 triliun atau lebih dari Rp 90.000 triliun, sebuah nilai yang melompat berkali-kali lipat dari total APBN Indonesia hanya dari satu korporasi.

Pertumbuhan ekonomi AS pada tahun lalu bahkan disumbang hingga 92 persen oleh sektor AI, mengindikasikan ketergantungan ekonomi global yang kian memusat.

Peluang Emas untuk Pasar Lokal

Meskipun secara makro tertinggal, Axioo melihat adanya pergeseran tren teknologi sejak pertengahan tahun 2025 hingga masuk ke tahun 2026 yang dapat menjadi peluang emas bagi industri lokal.

"Tren global kini tidak lagi berfokus pada perlombaan memperbesar jumlah parameter LLM hingga triliunan parameter seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan pada optimalisasi efisiensi kinerja, framework, dan kapabilitas agentic," Samuel menjelaskan.

Perkembangan ini memperkecil celah performance gap antara model AI berbasis komputasi awan (cloud) dengan model AI yang dijalankan pada server lokal (on-premise).

"Tahun ini terjadi breakthrough besar. Model AI lokal saat ini sudah sangat efisien dan relevan. Menjalankan AI secara lokal di dalam negeri kini sangat memungkinkan dan jauh lebih masuk akal secara bisnis," klaim Samuel.

Dari aspek kalkulasi operasional, implementasi server AI lokal kini diklaim mendekati struktur biaya low-cost AI server jika dihitung berdasarkan rasio keluaran token per hari, namun memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki oleh cloud asing: kontrol penuh 100 persen, keamanan data, serta kemampuan audit.

Momentum inilah yang melandasi keputusan strategis Axioo untuk masuk secara agresif ke pasar infrastruktur AI Indonesia tahun ini.

Dengan menyediakan perangkat keras lokal yang kompetitif dari sisi dapur pacu dan harga, Axioo berkomitmen menggeser peran Indonesia dari sekadar pasar konsumen menjadi pengelola mandiri ekosistem AI di dalam negeri.