Benarkah AI Bisa Bikin Tambang Indonesia Lebih Hijau dan Minim Risiko?

Indonesia dinilai memiliki fondasi untuk mengadopsi AI di sektor pertambangan.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 12:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri pertambangan Indonesia tengah bersiap menghadapi lompatan teknologi besar. Penerapan Artificial Intelligence (AI) kini dibidik menjadi motor penggerak utama untuk mendongkrak daya saing, efisiensi, sekaligus menjawab tantangan keselamatan kerja di sektor hulu ini.

Sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki modal yang lebih dari cukup.

Isu strategis ini mengemuka dalam panel diskusi Powering Progress: Integrating Digital and Intelligent Innovation, Industry Collaboration, Sustainability & Local Development into Indonesia Mining Industry pada ajang Indonesia–China Coal & Energy Conference 2026 yang digelar baru-baru ini.

President of Huawei's Mining Business Unit, Andy Wu, mengungkapkan Indonesia memiliki fondasi yang sangat kokoh untuk mengadopsi AI. Hal ini dikarenakan emiten dan perusahaan tambang Tanah Air telah mengamankan data operasional selama bertahun-tahun.

"AI membutuhkan data sebagai basisnya. Kami sudah berdiskusi dengan banyak perusahaan pertambangan di sini, dan mereka rata-rata mengantongi penyimpanan data operasional lebih dari 10 tahun. Ini adalah modal berharga bagi kami untuk mengembangkan AI," ujar Andy, dikutip Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, urgensi transformasi digital ini kian nyata di tengah tren pembengkakan biaya operasional industri. Teknologi pintar ini diharapkan mampu memangkas pengeluaran, mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, sekaligus menekan risiko kecelakaan kerja di lapangan.

Implementasi AI di Sektor Tambang

Senada dengan Andy, President of Yunding Technology Co., Ltd., Liu Bo, menegaskan posisi Indonesia sangat strategis dalam peta komoditas global.

Saat ini, industri pertambangan nasional dinilai sedang bertransisi dari pertumbuhan berbasis skala menuju operasi yang lebih hijau dan cerdas (smart mining).

"Tahapan pertambangan batu bara saat ini harus secara bertahap beralih dari pertumbuhan skala ke kecerdasan ramah lingkungan," ucap Liu Bo.

Ia menjabarkan tiga nilai tambah utama dari implementasi AI di sektor tambang:

  • Keselamatan Kerja: Pemantauan kondisi pekerja, dapur pacu alat berat, serta area lingkungan secara real-time dan cerdas.
  • Efisiensi: Optimalisasi rantai produksi dari hulu ke hilir.
  • Kepatuhan: Mempermudah pemenuhan standar keselamatan dan regulasi pemerintah.

 

Komitmen Lokalisasi Data dan Talenta

Kendati membawa teknologi global, baik Huawei maupun Yunding Technology sepakat bahwa kunci keberhasilan transformasi ini ada pada penguatan ekosistem lokal.

Andy menegaskan, perusahaan tidak bisa bergerak sendiri dan memerlukan sinergi erat antara pemerintah, pelaku industri, asosiasi, hingga akademisi. Huawei bahkan berencana memperluas pelatihan AI bagi mahasiswa dan insinyur lokal.

Di sisi lain, aspek kedaulatan data juga menjadi prioritas. Liu Bo memastikan bahwa ekspansi teknologi ini akan tetap tunduk pada hukum yang berlaku di Indonesia.

"Kami memberikan prioritas pada penyimpanan data lokal, pemrosesan lokal, tata kelola lokal, serta berkolaborasi dengan operator dan pemasok dalam negeri," tegas Liu Bo, optimistis mengenai besarnya potensi ruang pengembangan AI di Tanah Air.