Studi: Screen Time Berlebihan Memicu Pikiran Bunuh Diri Mahasiswa

Studi baru menemukan, screen time yang berlebihan bisa meningkatkan pikiran bunuh diri di kalangan mahasiswa.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 06:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah studi baru menemukan jika waktu menatap layar atau screen time yang berlebihan, dapat meningkatkan pikiran bunuh diri di kalangan mahasiswa.

Disitat dari Futurity, Sabtu (15/8/2026), studi ini berfokus kepada mahasiswa di Amerika Serikat, dan mayoritas berusia 18 hingga 25 tahun.

Riset menggunakan data dari Healthy Minds Network, sebuah koalisi penelitian yang meliputi BU; Universitas California, Los Angeles, Universitas Michigan, dan Universitas Wayne State. Penelitian ini sendiri telah dipublikasikan di American Journal of Public Health.

"Kami menemukan bahwa waktu menatap layar yang berlebihan dan pengalaman pelecehan daring secara independen dan signifikan terkait dengan peningkatan risiko munculnya pikiran untuk bunuh diri di kalangan mahasiswa," papar Seungbin Oh , asisten profesor konseling kesehatan mental dan kedokteran perilaku di Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine yang memimpin penelitian ini.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, angka bunuh diri di kalangan anak muda berusia 10 hingga 24 tahun melonjak 62 persen dari 2007 hingga 2021, dan menjadikannya penyebab kematian kedua terbesar di kalangan anak muda pada 2021.

Selain itu, dalam penelitian ini, waktu yang dimaksud bukan hanya penggunaan media sosial seperti Instagram atau TikTok. Peneliti menghitung seluruh aktivitas daring nonakademik, termasuk bermain game, menjelajah internet, hingga menggunakan media sosial.

Hasilnya menunjukkan, mahasiswa yang menghabiskan waktu lebih dari tiga jam sehari untuk aktivitas tersebut, memiliki kemungkinan sekitar 45 persen lebih tinggi mengalami pikiran bunuh diri dibandingkan mahasiswa dengan penggunaan lebih rendah.

Sementara itu, mahasiswa yang mengalami perundungan atau pelecehan secara online memiliki kemungkinan 77 persen lebih tinggi mengalami kondisi serupa.

Menariknya, hubungan antara durasi penggunaan internet dan pikiran bunuh diri terlihat paling kuat di kalangan mahasiswa pria cisgender.

Ruang Digital Tetap Penting

Pria yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di dunia maya, tercatat memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat untuk melaporkan adanya pikiran bunuh diri, dibandingkan yang menggunakan internet dalam jumlah minimal. Sementara dampak negatif dari perundungan online, ditemukan di berbagai kelompok gender.

Oh juga menjelaskan, ruang digital kini menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa, mulai dari membangun identitas, menjalin hubungan sosial, hingga mengekspresikan emosi.

Namun, penggunaan ruang tersebut juga dapat menghadirkan tekanan secara perlahan melalui perbandingan sosial, pengucilan, pelecehan, maupun paparan digital yang berlebihan.

Dengan begitu, Oh berharap tenaga profesional kesehatan mental, mulai memasukkan kebiasaan digital dalam proses penilaian kondisi mahasiswa.