Rupiah Dibuka Melemah ke 17.997 per Dolar AS, Investor Cermati The Fed

Rupiah melemah 19 poin ke 17.997 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, tertekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Diterbitkan 29 September 2026, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026). Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen ke level 17.997 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya 17.978 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut seiring ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.

“Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat,” ucapnya dikutip dari Antara.

Investor di pasar juga memperkirakan adanya kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh The Fed.

Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober mendatang.

Perkiraan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga pada 16 September. Kenaikan itu menjadi yang pertama sejak 2023 dan membawa suku bunga acuan ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.

Kondisi tersebut turut meningkatkan perhatian investor terhadap pergerakan dolar AS dan imbal hasil aset Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arus modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

 

Data ekonomi AS

Lukman menilai meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed turut dipengaruhi perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Salah satunya terkait sikap Presiden AS Donald Trump terhadap proposal terbaru Iran dalam negosiasi tidak langsung di New York pekan ini, sebagaimana dilaporkan Anadolu.

Dalam proposal tersebut, Teheran mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dalam waktu satu minggu. Sebagai imbalannya, Iran meminta pencabutan blokade angkatan laut oleh Washington, penghapusan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta pemulihan gencatan senjata di seluruh kawasan.

Namun, Amerika Serikat disebut sedang mempertimbangkan serangan baru setelah pemilihan umum sela AS pada November 2026.

Selain perkembangan global, investor juga mencermati sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan moneter The Fed.

“Investor juga cenderung berhati-hati dalam pekan yang padat data dengan ekonomi penting, dengan traders menantikan rilis data pekerjaan AS Jolts (Job Openings and Labor Turnover Survey) malam ini. Jolts diperkirakan akan menunjukkan 7,24 juta lowongan pekerjaan, sedikit lebih rendah dari 7,27 juta bulan lalu,” ujar Lukman.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6